Bangkit dari Perang, Militer Iran Klaim Telah Pulihkan Semua Senjatan yang Rusak, Siap Hadapi Musuh
Amirullah August 27, 2026 03:23 PM

 

SERAMBINEWS.COM - Militer Iran bergerak cepat memulihkan kemampuan tempurnya setelah babak belur akibat konfrontasi bersenjata dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Juru Bicara Militer Iran, Mohammad Akraminia, mengumumkan bahwa seluruh sistem persenjataan yang sempat lumpuh kini berhasil direkonstruksi.

Pernyataan tersebut disiarkan secara langsung melalui televisi pemerintah pada Rabu (26/8/2026), di tengah situasi kawasan Timur Tengah yang masih dibayangi ketegangan pascaperang.

“Sistem di semua cabang militer, termasuk yang rusak, telah dibangun kembali, dan sistem baru juga telah diimpor,” ujar Akraminia, sebagaimana dikutip dari media pemerintah Iran.

Percepat Pemulihan dan Impor Persenjataan

Proses pemulihan dilakukan secara masif di berbagai lini pertahanan. Alih-alih mengganti seluruh perangkat dengan unit baru yang memakan biaya besar, Iran memilih memperbaiki peralatan lama yang masih layak pakai agar bisa segera dikembalikan ke dalam tugas operasional.

Langkah taktis yang diambil Teheran meliputi:

  • Membangun kembali sistem persenjataan di semua cabang militer yang sempat rusak akibat perang.
  • Mempercepat pengembangan industri pertahanan nasional mandiri.
  • Mendatangkan dan mengimpor peralatan militer baru dari luar negeri untuk mendongkrak daya gempur.

Kendati demikian, pihak militer belum merinci jenis, jumlah, maupun spesifikasi senjata yang diklaim telah dipulihkan tersebut. Berdasarkan laporan AFP, upaya ini merupakan buntut panjang dari gelombang serangan besar AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari lalu, memicu pertempuran intensif selama hampir 40 hari sebelum akhirnya gencatan senjata disepakati pada 8 April.

Baca juga: Misteri Banjir Bandang Himalaya: Berada di Pegugungan, Mengapa Bisa Diterjang Banjir?

Ubah Doktrin Militer Menjadi Ofensif

Tidak hanya merekonstruksi fisik persenjataan, Iran juga melakukan perombakan besar pada strategi pertahanan negaranya. Akraminia dengan tegas menyatakan bahwa Teheran resmi meninggalkan doktrin defensif murni dan kini beralih ke pendekatan yang lebih ofensif.

Perubahan arah strategi ini memberikan ruang bagi militer Iran untuk tidak hanya menunggu dan bertahan saat diserang, melainkan juga mengambil tindakan proaktif.

Teheran bahkan membuka peluang untuk melancarkan serangan pendahuluan (preemptive strike) jika mendeteksi adanya ancaman nyata yang membahayakan kedaulatan negara.

Menurut Akraminia, langkah tersebut sah secara hukum internasional. “Serangan pendahuluan, berdasarkan hukum internasional dan Piagam, adalah tindakan yang sah; tentu saja, bila disertai dengan prinsip proporsionalitas dan kebutuhan,” jelasnya.

Meski klaim pemulihan militer ini belum bisa diverifikasi secara independen di tengah situasi Selat Hormuz yang masih rentan, pesan yang dikirimkan Teheran sangat jelas: kekuatan militer mereka tidak lumpuh dan siap merespons setiap eskalasi konflik di masa mendatang.

(Serambinews.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.