Laporan Wartawan TribunBekasi.com Muhammad Azzam
TRIBUNBEKASI.COM, CIKARANG SELATAN– ”Rasanya tidak nyangka saya masih hidup,” ujar Arfian Chaniago, Rabu (26/8/2026).
Padahal, Maret 2025 silam, warga Tamansari, Desa Serang, Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat ini sempat mengalami koma bertepatan dengan momen Idulfitri.
Momen pahit itu diceritakan ulang kepada TribunBekasi.com sewaktu ia mendatangi Puskesmas Sukadami di Jalan Raya Serang-Cibarusah, Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Pria berumur 59 tahun ini ditemani anak laki-lakinya.
Arfian datang untuk mengontrol kesehatannya. Agenda cek kesehatan menjadi hal yang rutin dilakukan pria kelahiran Padang, Sumatera Barat tersebut setelah nyawanya selamat dan berhasil pulih dari koma.
“Awal ceritanya itu waktu pertengahan tahun lalu setelah ikut Cek Kesehatan Gratis (CKG),” ujarnya.
Februari tahun lalu, program CKG yang diluncurkan pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) resmi diluncurkan.
Arfian mengaku datang memanfaatkan program tersebut untuk mengecek kesehatannya. Sebetulnya tak ada sakit serius yang dirasa Arfian.
Ia cuma batuk, pilek sampai demam. Arfian menganggap hal itu biasa dialami orang tua. Jantung Arfian baru berdegup kencang saat didiagnosis menderita diabetes.
Selang beberapa minggu menjalani pengobatan, kondisi Arfian anjlok. Ia tak sadarkan diri hingga dirawat di Rumah Sakit EMC Cikarang pada awal Maret 2025.
Arfian dirawat sebulan dan sempat mengalami koma. Tapi ia bukan divonis mengalami gula darah naik melainkan gula darah rendah.
Menurut pengakuan dokter saat itu, ia tertolong karena ada diagnosis awal berdasarkan hasil CKG.
“Sebetulnya posisi waktu itu masih pradiabetes. Saya sempat dirawat di RS EMC hampir sebulan di tahun 2025, sempat koma juga, saya dirawat sampai hari keempat di Lebaran tahun lalu itu,” kata Arfian.
Sejak itulah Puskesmas Sukadami bak rumah kedua bagi Arfian, yang sudah hidup sendiri setelah tujuh tahun lalu istri tercintanya dipanggil Tuhan Yang Maha Esa.
Saat ini, ia hidup ditemani anak laki-lakinya yang masih sekolah, sedangkan dua anak lainnya sudah memiliki kehidupan masing-masing usai menikah.
Kejadian pada awal Maret 2025 tak ingin diulangi Arfian. Ia kini rutin mendatangi puskesmas untuk kontrol dan menjalani pengobatan rawat jalan.
Arfian tak membayangkan jika di Februari 2025 dirinya tak mengikuti CKG. Ia membayangkan kondisinya bakal drop kalau penanganan telat dilakukan.
“Mungkin saya bisa lewat kali ya, beruntung ada program itu (CKG) jadi bisa ditolong lebih awal, Alhamdulillah. Saya jadi bisa berjaga-jaga jangan sampai terkena yang lebih parah lagi,” ujarnya.
Hingga detik ini, Arfian rutin ke puskesmas dan kontrol ke RS EMC Cikarang untuk penanganan oleh dokter spesialis saraf untuk mengatasi komplikasi kerusakan saraf akibat diabetes.
Ia pun dirujuk ke RS Hosana Medica Lippo Cikarang untuk mendapatkan penanganan oleh dokter penyakit dalam.
Selain berhenti merokok, Arfian mengaku rutin mengikuti Senam Prolanis yang menjadi bagian dari Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) dari BPJS Kesehatan.
Kesadaran pentingnya mengecek kondisi kesehatan sejak dini bukan hanya menjadi cerita Arfian.
Hal itu dirasakan Magdalina, warga Kampung Cijambe, Desa Sukadami, Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, yang mengalami stroke setengah badan.
Empat tahun lalu, ia sempat curiga atas kondisi kesehatannya. Pasalnya, sering kali mengalami pegal bagian pundak dan sakit kepala.
Teman Magdalina sempat menyarankan agar dilakukan medical check up. Akan tetapi, ia ragu karena biayanya cukup mahal bagi seorang ibu rumah tangga, sedangkan suaminya bekerja serabutan.
Hingga akhirnya, ia mendapat informasi mengenai program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digelar di kantor desa.
Magdalina lalu memanfaatkan program tersebut mulai dari pengecekan kolesterol, skrining TB/PPOK, hingga deteksi dini kanker.
Hasilnya, ia didiagnosis mengalami darah tinggi. Ia langsung diarahkan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut di Puskesmas Sukadami.
Dari sana, ia langsung dirujuk ke Rumah Sakit Amanda untuk penanganan lebih lanjut karena kondisi darah tinggi mencapai 200 per 120.
"Jadi di sana dicek di RS Amanda, soalnya saya penyakitnya masuknya ke gejala stroke," kata dia.
Pihak rumah sakit saat itu menyarankan Magdalina menjalani perawatan karena kondisi hipertensinya cukup tinggi.
Namun, ia memilih pulang dengan pertimbangan tidak ada yang mengurus anak-anaknya apabila harus menjalani rawat inap.
Magdalina kemudian menyadari keputusannya tersebut keliru. Ia mengaku tidak mengikuti anjuran dokter terkait perawatan, konsumsi obat, maupun pola makan.
Kurang dari sebulan kemudian, tekanan darahnya kembali meningkat dan kondisinya semakin parah hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Saat itu, tekanan darah Magdalina mencapai 250/120. Ia juga mengalami stroke yang menyebabkan sebagian tubuhnya tidak dapat digerakkan.
Magdalina mengaku menangis setelah mengetahui kondisi kesehatannya yang ternyata sudah cukup serius.
Selama sekitar sepekan, salah satu sisi tubuhnya mengalami kelumpuhan. Beruntung, setelah mendapat penanganan dokter, kondisinya berangsur pulih.
Kini, ia rutin memeriksakan kesehatan. Selain mengikuti program CKG minimal satu kali dalam setahun, Magdalina juga rutin mendatangi Puskesmas Sukadami setiap pekan untuk memantau kondisi kesehatan dan mendapatkan obat hipertensi.
Pengalaman tersebut membuat Magdalina semakin mendorong suami dan keempat anaknya untuk rutin melakukan pemeriksaan kesehatan.
Ia bahkan meminta keluarganya memanfaatkan program CKG setidaknya satu kali dalam setahun.
Imbauan itu bukan tanpa alasan. Salah satu anaknya yang masih bersekolah ternyata diketahui mengalami katarak setelah menjalani pemeriksaan kesehatan.
Saat ini, anak tersebut tengah menjalani persiapan untuk operasi di rumah sakit.
Kepala Puskesmas Sukadami Kecamatan Cikarang Selatan, dr. Adi Pranaya, mengatakan program CKG mendapat respons dari masyarakat.
Sejak program tersebut dimulai pada Februari 2025, tercatat 17.104 warga telah menjalani pemeriksaan di Puskesmas Sukadami.
Khusus sepanjang 2026 hingga 25 Agustus, jumlah warga yang mengikuti CKG mencapai 7.648 orang.
Rinciannya, Januari sebanyak 705 orang, Februari 1.304 orang, Maret 1.301 orang, April 1.099 orang, Mei 915 orang, Juni 991 orang, Juli 967 orang, dan Agustus 366 orang.
"Total Januari-Agustus 2026 sebanyak 7.648. Sementara total keseluruhan dari awal 17.104," kata dr Adi.
Jumlah tersebut belum termasuk peserta dari kalangan anak sekolah.
Dr. Adi menjelaskan, pada awal pelaksanaan, CKG ditujukan bagi masyarakat yang sedang berulang tahun. Namun, kebijakan tersebut kini berkembang sehingga seluruh masyarakat dianjurkan menjalani pemeriksaan minimal satu kali dalam setahun.
Apabila dari pemeriksaan ditemukan penyakit seperti hipertensi atau diabetes, puskesmas akan memberikan obat untuk sekitar dua pekan.
Setelah itu, pasien dapat melanjutkan pengobatan di fasilitas kesehatan masing-masing atau tetap di Puskesmas Sukadami apabila fasilitas kesehatannya berada di sana.
"Harapan kami adalah CKG menjadi upaya pertama seseorang melaksanakan skrining dengan baik dan juga upaya untuk melakukan deteksi lebih awal, supaya orang-orang yang punya risiko penyakit bisa terdeteksi lebih dini," ujarnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi dr. Arief Kurnia mengatakan pihaknya terus memperluas pelaksanaan program CKG, baik untuk masyarakat maupun siswa sekolah.
Skrining kesehatan tidak hanya dilakukan di puskesmas. Petugas juga melakukan jemput bola dengan mendatangi wilayah masyarakat dan sekolah.
"CKG ini terus kami sosialisasikan ke masyarakat, kami jemput bola langsung seperti kita kadang ada di acara desa, kecamatan atau kegiatan Botram pemerintah daerah," kata Arief.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi dr. Irfan Maulana mengatakan CKG penting dilakukan sebagai upaya pencegahan sekaligus mendeteksi penyakit sejak dini.
"Untuk tahun ini jumlah warga yang hadir ikut CKG 356.778," kata Irfan.
Ia menyebut Kabupaten Bekasi memiliki 55 puskesmas. Dari total 356.778 warga yang mengikuti CKG pada 2026, capaian tertinggi tercatat di Puskesmas Karangmukti sebesar 30,27 persen.
Sementara capaian terendah berada di Puskesmas Wanajaya sebesar 2,68 persen. Adapun rata-rata capaian seluruh puskesmas di Kabupaten Bekasi mencapai 10,28 persen.
"Untuk Puskesmas Sukadami capaiannya 10,9 persen dari jumlah keseluruhan warga yang CKG tahun 2026 ini," kata dr. Irfan. (MAZ)