TRIBUNJAMBI.COM, Jambi - Petani sayuran hidroponik terdampak cuaca panas di Kota Jambi. Selada dan pokcoy gagal dipanen.
Berdasarkan data BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Thaha Jambi, suhu udara pada Kamis, 27 Agustus 2026 mencapai 35°C dengan indeks UV 9 kategori Sangat Tinggi. Kondisi ini diperparah kabut asap.
Rina (38), pemilik greenhouse di kawasan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung menyebutkan omzetnya turun drastis selama musim kemarau ini.
Di dalam greenhouse, suhu jauh lebih tinggi dari luar karena efek rumah kaca. Akibatnya pompa air dan kipas exhaust harus menyala nonstop 24 jam untuk menjaga suhu.
"Biasanya omset sebulan bisa kurang lebih Rp15 juta. Sekarang cuman setengahnya. Listrik naik, air nutrisi cepat habis menguap. Tanaman juga banyak yang stres karena panas," ujarnya.
Lonjakan tagihan listrik menjadi beban baru. Padahal harga jual sayur hidroponik tidak bisa naik seenaknya karena daya beli masyarakat juga menurun saat kabut asap.
Rina mengaku sudah dua kali gagal panen komoditas utama yaitu selada dan pakcoy. Dua jenis sayur ini sangat sensitif terhadap cuaca panas.
Daunnya menguning, batangnya kerdil, dan akarnya busuk karena suhu air nutrisi ikut naik.
Baca juga: Satgas Karhutla Gabungan Temukan dan Padamkan Titik Api Saat Patroli Karhutla di Tahura Batanghari
Baca juga: Misteri Gunung Kunyit Kerinci, Ada Mahligai Dewa, Telaga Dewa hingga Minyak Pemikat Wanita
"Kalau panas begini terus, tanaman tidak sempat besar sudah layu duluan. Yang selamat pun hasilnya kecil-kecil, tidak laku di pasar," katanya.
Ia khawatir jika kondisi ini berlanjut hingga September, usahanya bisa kolaps. Modal untuk benih, nutrisi AB mix, dan listrik sudah keluar di awal, tapi hasil panen minim.
Petani Minta Perhatian Pemerintah
Para pelaku hidroponik di Jambi berharap pemerintah memberi perhatian khusus. Salah satu usulan yang paling dibutuhkan saat ini adalah subsidi listrik untuk sektor pertanian, khususnya usaha yang memakai pompa dan kipas nonstop seperti hidroponik.
"Harapannya pemerintah lihat kami juga. Kami tetap produksi sayur sehat untuk warga Jambi. Kalau kami berhenti, nanti pasokan sayur segar juga ikut terganggu," kata Rina.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim dan kabut asap bukan hanya soal kesehatan, tapi juga ketahanan pangan kota. Tanpa dukungan, sektor pertanian urban seperti hidroponik akan paling pertama tumbang saat cuaca ekstrem datang. (mg)
Simak informasi lainnya di media sosial Facebook, Instagram, Thread dan X Tribun Jambi
Baca juga: Satgas Karhutla Gabungan Temukan dan Padamkan Titik Api Saat Patroli Karhutla di Tahura Batanghari
Baca juga: 548 Warga Muaro Jambi Sakit Akibat Karhutla, Didominasi Kasus ISPA