TRIBUNMATARAMAN.COM, TULUNGAGUNG - Sebuah makam kuno di Kelurahan Sembung, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung dibongkar warga, Kamis (27/8/2026).
Makam ini berada di kawasan tegalan lahan pribadi Imam Mustaujib (53), seorang warga setempat.
Makam ini diyakini kuno berdasarkan temuan bentuk nisannya.
Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Tulungagung, Haryadi, mengatakan nisan makam itu kuno bergaya Tembayat atau Bayat.
Baca juga: Siraman Gong Kiai Pradah Diharapkan Berdampak Pada Perkembangan Ekonomi Kreatif di Blitar
Nisan ini umumnya ditemukan pada pemakaman abad ke-6 sampai ke-17, era peralihan Hindu-Budha ke awal penyebaran Islam di Jawa.
“Bentuknya mirip kelir atau gunungan, dengan ciri khas yang paling menonjol adalah bagian atasnya yang melebar dan memipih membentuk siluet yang menyerupai gunungan. Dalam pewayangan atau bentuk kurawal makara kuno,” jelasnya.
Nisan dipahat menggunakan batu andesit atau batu kali lokal, dengan tekstur guratan kasar bekas pahatan manual.
Bagian bawah bertumpu pada umpak batu persegi berundak (terbagi menjadi area kaki dan badan), meniru gaya arsitektur lapik arca, atau struktur bangunan suci masa pra-Islam.
Nisan ini merekam jejak akulturasi budaya yang kuat, pengaruh seni ukir masa klasik (Majapahit/Demak) berpadu menjadi penanda makam kasepuhan Islam di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
“Sayangnya tidak diketahui dengan pasti, siapa tokoh yang dimakamnya di situ,” tegasnya,
Bukan Obyek Diduga Cagar Budaya
Haryadi mengaku diundang Dinas Kebudayaan Pariwisata untuk mengkaji makam itu.
Ia memastikan, makam itu tidak terdaftar menjadi objek diduga cagar budaya oleh Dinas Kebudayaan Pariwisata.
Akhirnya kesepakatan warga dengan difasilitasi lurah, lurah mengundang Muspika.
“Hari ini dikumpulkan bersama, ternyata warga sekitar welcome kalau mau dipindah ke daerah ke Kelurahan Botoran. Alasannya tanah mau dijual tidak laku-laku karena ada makam ini,” ungkapnya.
Haryadi mengaku mengumpulkan keterangan dari warga terkait sejarah makam ini.
Dulunya area itu seperti area kubangan air yang besar, dan kerap dilanda banjir, apalagi lokasi tidak jauh dari Sungai Ngrowo.
Nisan itu diyakini kiriman saat terjadi banjir besar, bukan asli dari lokasi itu.
“Nisan kemudian ditemukan warga, karena diyakini bekas makam kemudian ditancapkan lagi di situ,” ungkapnya.
Baca juga: Bupati Kediri Mas Dhito Kejar Zero ATS di Kediri, 11.181 Anak Tidak Sekolah Kini Tinggal 5.725
Hasil penggalian sedalam lebih dari 2 meter ternyata tidak ditemukan bekas jenazah, seperti tulang belulang.
Secara spiritual, menurut keyakinan warga jika makam itu kosong maka dianggap moksa.
Sebagian tanah diambil untuk dipindahkan ke tempat pemakaman baru, sebagai simbol pemindahan jenazah.
“Tapi kalau kami melaporkan, karena kuburnya kosong tetap kami laporkan tidak ada jenazah,” pungkasnya.
(David Yohanes/TribunMataraman.com)