Bupati Kediri Tegaskan SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School Gratis untuk Warga Kurang Mampu
Rendy Nicko August 27, 2026 04:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Pendidikan menjadi salah satu jalan penting untuk mengubah masa depan. Hal itu yang coba diwujudkan melalui SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School Kabupaten Kediri, yang memberikan kesempatan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mendapatkan pendidikan sekaligus pembinaan di asrama secara gratis.

Sebanyak 100 siswa baru SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School tahun ajaran 2026/2027 menunjukkan semangat besar untuk melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Semangat tersebut terlihat saat mereka berdialog langsung dengan Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana dalam kegiatan penyambutan siswa baru.

Bagi para siswa, sekolah berasrama tersebut bukan sekadar tempat untuk mengikuti pembelajaran akademik. Mereka mendapatkan pendampingan dalam membangun karakter, mental, kemandirian, sekaligus mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Salah satunya dirasakan Putri Faeza Ramadhani, siswi kelas 10-4 asal Desa/Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri. Baru sekitar dua bulan menjalani kehidupan di asrama, Putri mengaku mulai merasakan banyak pengalaman dan masukan yang membuatnya semakin termotivasi.

Baca juga: Ribuan Warga Padati Alun-alun Lodoyo Blitar untuk Saksikan Siraman Gong Kiai Pradah

"Saya senang kurang lebih di sini sudah berjalan sekitar dua bulan. Di sini saya mendapatkan banyak sekali masukan dan alasan lain memilih di sini karena memang ingin berbakti kepada orang tua, nanti setelah lulus bisa membanggakan mereka juga," ungkap Faeza.

Harapan untuk membanggakan keluarga menjadi salah satu motivasi siswa dalam menjalani pendidikan di boarding school. Mereka tidak hanya diarahkan untuk mengejar nilai akademik, tetapi juga dibekali keberanian untuk memiliki cita-cita dan menyusun langkah untuk mencapainya.

Kepala SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School Ahmad Riziq Mubarok mengatakan, pola pendidikan di asrama menggunakan pendekatan keluarga atau family system. Sistem tersebut sengaja dipilih agar siswa merasa berada di lingkungan keluarga, bukan berada dalam pendidikan yang bercorak militer maupun pesantren.

Di dalam asrama terdapat konsep rumah yang terdiri dari figur bapak, ibu, kakak, dan adik. Pendekatan tersebut membuat hubungan antara pendamping dan siswa dibangun seperti hubungan dalam sebuah keluarga.

Menurut Riziq, pendekatan tersebut penting karena siswa yang masuk memiliki latar belakang dan persoalan keluarga yang beragam. Karena itu, pendamping tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik, tetapi juga memperhatikan kondisi psikologis dan mental siswa.

"Di asrama kita menerapkan sistem pendekatan keluarga atau family system. Kita tidak sistem militer dan juga tidak sistem pesantren, tapi sistem pendekatan ke keluarga," jelasnya.

Pendekatan tersebut juga mendorong siswa untuk berani memiliki cita-cita tinggi. Ketika seorang siswa mengatakan ingin melanjutkan kuliah, misalnya ke jurusan kedokteran, pendamping tidak langsung mematahkan keinginan tersebut karena persoalan biaya.

Sebaliknya, siswa diarahkan untuk mencari berbagai kemungkinan, termasuk beasiswa dan jalur pendidikan yang dapat ditempuh. Dengan begitu, keterbatasan ekonomi tidak menjadi alasan untuk menghentikan mimpi sebelum diperjuangkan.

Manfaat pendekatan tersebut mulai terlihat dari perjalanan sejumlah alumni. Salah satunya Aditya Wahyu Pratama warga Desa Muneng Kecamatan Purwoasri yang berhasil diterima di Fakultas Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB).

Ketika sebagian teman-temannya telah lebih dulu mendapatkan kepastian perguruan tinggi, Aditya masih berjuang mengejar kampus yang diimpikannya. Ia terus belajar dengan disiplin hingga akhirnya berhasil mewujudkan target tersebut.

"Awalnya saya merasa masih kurang, tapi terus saya kejar impian saya walaupun terasa impian itu mustahil bagi saya," ucap Aditya.

Keberhasilan Aditya menjadi gambaran bahwa kesempatan pendidikan dapat membuka jalan yang sebelumnya terasa sulit dijangkau. Pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun keyakinan bahwa anak dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi tetap berhak memiliki cita-cita setinggi mungkin.

Hal tersebut turut dirasakan Yayuk, orang tua Aditya. Ia mengaku bersyukur anaknya mendapatkan kesempatan belajar melalui program SMA Boarding School Pare.

"Dia lolos di ITB. Terima kasih atas program sekolah Boarding School Pare Kediri dari Pemkab Kediri yang telah berjalan, sehingga anak kami juga bisa terus termotivasi menimba ilmu dan melanjutkan ke jenjang lebih tinggi lagi," ujarnya.

Baca juga: KA Malabar Tertemper Truk di Klaten, Perjalanan Penumpang dari Kediri Ikut Terdampak

Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menegaskan, keberadaan SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah dalam memberikan akses pendidikan yang setara bagi anak-anak Kediri.

Menurutnya, sekolah tersebut tidak boleh berubah menjadi sekolah komersial. Program boarding school diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga yang masuk kelompok desil 1 hingga desil 4 sehingga mereka dapat memperoleh pendidikan dan fasilitas asrama secara gratis.

"Sekolah ini tidak boleh menjadi sekolah komersil, hanya khusus anak-anak Desil 1," tegas Mas Dhito.

Mas Dhito menilai setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Karena itu, keterbatasan ekonomi keluarga semestinya tidak menjadi penghalang bagi seorang anak untuk mengembangkan potensi dan mengejar pendidikan tinggi.

Pemkab Kediri juga mengapresiasi dukungan Putra Sampoerna Foundation (PSF) serta berbagai pihak yang ikut mendukung keberlangsungan program sekolah berasrama tersebut. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar program pendidikan dapat memberikan manfaat yang lebih luas.

Lebih jauh, keberadaan boarding school diharapkan tidak berhenti pada keberhasilan siswa masuk perguruan tinggi. Para lulusan diharapkan mampu menjadi generasi yang memiliki kompetensi, karakter, dan kemandirian sehingga kelak dapat berkontribusi bagi masyarakat sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

Bagi siswa seperti Putri, perjalanan tersebut baru saja dimulai. Namun, kesempatan untuk belajar dalam lingkungan yang mendukung telah memberinya alasan untuk terus melangkah dan membawa harapan sederhana: menyelesaikan pendidikan, melanjutkan kuliah, dan suatu hari membanggakan orang tua.

(Isya Anshori/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.