TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Hampir tiga bulan lamanya, Mustakim perlu merogoh kocek lebih untuk mencukupi kebutuhan keluarga kecilnya.
Warga Desa Penjalin, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal ini bercerita, harga beras mengalami kenaikan sejak tiga bulan terakhir.
Pekerjaan sebagai buruh tani, belum cukup mencukupi kebutuhan keseharian.
Meskipun kenaikan tak begitu tinggi, tetapi selisih rupiah memaksa dia bekerja ekstra sebagai buruh sampingan lain.
Baca juga: Weh-wehan Kendal, Tradisi Unik saat Maulid yang Diusulkan Masuk Kalender Nasional
Dia mengatakan, harga beras di Kendal saat ini berkisar antara Rp15 ribu hingga Rp16 ribu per kilogram.
"Sebelumnya di bawah Rp15 ribu, tapi kenaikan harga sedikit juga berpengaruh bagi kami," katanya, Kamis (27/8/2026).
Mustakim bersyukur, tahun ini dia beserta keluarganya mendapatkan jatah bantuan beras dari Pemkab Kendal sebanyak 30 kilogram.
Baginya, bantuan ini tak sekedar meringankan beban, tetapi juga menjadi peletup semangat hidup.
"Alhamdulillah, sangat bersyukur bisa diperhatikan oleh pemerintah," imbuhnya.
Warga lain, Siti Masruroh bahkan heran dengan harga beras yang tak kunjung mengalami penurunan.
Padahal dia sama sekali tak mengalami kesulitan untuk mencari beras.
"Sekarang beras mudah didapat, tapi lebih mahal," sambungnya.
Meski begitu, dia bersyukur masih mampu mencukupi kebutuhan keluarga di tengah ekonomi yang pas-pasan.
"Masih bersyukur yang penting kebutuhan sehari-hari masih bisa tercukupi," terangnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Kendal, Pandu Rapriat Rogojati tak menampik adanya kenaikan harga beras.
Menurutnya, kenaikan tersebut masih wajar karena produksi beras dari sejumlah sentra pertanian mengalami penurunan.
"Karena yang panen sedikit, otomatis berlaku hukum supply and demand jadi harganya naik," kata Pandu.
• BREAKING NEWS, Rumah Terbakar di Banyumanik Semarang, 2 Balita Luka Bakar Berat
Pandu memastikan, kenaikan harga beras tersebut belum mencapai titik tertinggi.
Sebagai langkah pengendaliannya, Pemkab Kendal menyalurkan bantuan beras secara merata ke semua wilayah di Kendal.
Bantuan ditujukan kepada warga kurang mampu yang masuk dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), khususnya kelompok desil 1 hingga 4.
Jumlah penerima manfaat bantuan beras di Kendal tahun ini mencapai 115 ribu KK penerima. Jumlah itu turun sekira 7 ribu penerima dari 2025.
Dia berharap, cara ini bisa membantu untuk memenuhi kebutuhan warga penerima manfaat sekaligus mengurangi tekanan permintaan beras di pasar.
Dalam penyerahan bantuan beras tersebut, Pandu memastikan beras yang digunakan merupakan beras medium yang berasal dari produksi lokal.
"Berasnya medium dan lokal, bukan dari luar. Jadi aman, masih bisa kami kendalikan."
"Ini penting untuk menjaga ketersediaan pasokan sekaligus mendukung hasil produksi petani lokal," sambungnya.
Namun jika harga beras tak kunjung turun, kata Pandu, pihaknya akan mengambil langkah lanjutan melalui operasi pasar.
Dalam pelaksanaannya nanti, akan diprioritaskan di daerah yang mengalami kenaikan harga cukup signifikan.
"Kalau belum turun juga harganya nanti kami siapkan langkah operasi pasar," tandasnya. (*)