Rabasia (67) merasa sehat tanpa keluhan sebelum mengikuti CKG dan mengetahui tekanan darahnya mencapai 165.
Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Romi Juniandra
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU SELATAN - Rabasia (67 tahun) tampak duduk di warung miliknya yang ada di RT 06, Kelurahan Pasar Manna, Kecamatan Kota Manna, Bengkulu Selatan.
Saat ada pembeli datang, dia melayani dengan ramah.
Rabasia juga tidak banyak bergerak, seperti olahraga atau senam.
Pergerakannya sebatas jika ada pembeli, termasuk pengendara yang ingin mengisi minyak di depan warung.
Kemudian, saat waktu salat tiba, Rabasia menutup warungnya sebentar dan melaksanakan kewajiban, lalu lanjut membuka warung.
Sehari-hari, seperti itulah kegiatan Rabasia.
Mengelola warung, lebih banyak duduk menunggu pembeli datang, agar dapurnya tetap mengepul.
Di usianya yang sudah 67 tahun, Rabasia merasa sehat.
Selama ini, ia hampir tak memiliki keluhan kesehatan apa pun.
Karena merasa sehat, Rabasia juga merasa tidak perlu melakukan pemeriksaan kesehatan.
Namun, pada Jumat (21/8/2026), Rabasia akhirnya melakukan pemeriksaan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di lingkungan RT 06 Kelurahan Pasar Manna.
"Sebelum diperiksa sehat-sehat saja dan belum tahu. Itulah melakukan pemeriksaan, siapa tahu setelah melakukan pemeriksaan ada penyakit seperti kolesterol tinggi hingga darah tinggi,” ujar Rabasia saat diwawancarai TribunBengkulu.com, Jumat (21/8/2026).
Hasil pemeriksaan kemudian diketahui tekanan darah Rabasia tinggi.
Tekanan darah Rabasia ternyata mencapai 165.
Rabasia juga mendapatkan saran dari dokter untuk melakukan pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut di fasilitas kesehatan yang terdaftar dalam kepesertaan BPJS.
Ia disarankan mendatangi Puskesmas M. Thaha untuk mendapatkan penanganan terkait hasil pemeriksaan tekanan darahnya.
Meski demikian, Rabasia mengaku tidak terlalu terkejut dengan hasil pemeriksaan tersebut.
Sebab, selama ini ia memang tidak merasakan keluhan.
"Saya baru dua kali melakukan cek kesehatan. Biasa saja, tidak terkejut dengan hasil pemeriksaan,” ungkap Rabasia.
Namun, setelah pemeriksaan tersebut, Rabasia mengaku belum mendatangi puskesmas untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Alasannya tidak rumit.
Ia masih merasa tidak memiliki keluhan yang berat.
“Namun saya sampai saat ini belum mendatangi puskesmas lagi karena tidak ada keluhan yang berat. Semoga sehat terus,” harapnya.
Tekanan Darah dan Gula Darah Tinggi Banyak Ditemukan
Kepala Puskesmas M Thaha, Helyka, mengatakan tekanan darah tinggi dan kadar gula darah tinggi menjadi temuan yang cukup sering dijumpai dalam pelaksanaan CKG di wilayah kerjanya.
Temuan tersebut terutama terjadi pada masyarakat berusia 40 tahun ke atas.
“Yang paling sering ditemukan itu gula darah tinggi dan darah tinggi, terutama untuk umur yang sudah 40 tahun ke atas. Diharapkan kepada umur tersebut atau yang belum sampai umur tersebut dapat menjaga pola makan yang sehat agar tekanan darahnya bisa normal,” jelas Helyka.
Pemeriksaan CKG di Puskesmas M Thaha meliputi pemeriksaan kesehatan umum, gigi, gula darah, tekanan darah, serta pemeriksaan lainnya sesuai kebutuhan peserta.
Wilayah kerja Puskesmas M Thaha mencakup sekitar 15 ribu penduduk di Kecamatan Pasar Manna dan Kecamatan Kota Manna.
Data mencatat 3.467 peserta CKG berusia 18 tahun ke atas menjadi sasaran skrining tekanan darah di Puskesmas M Thaha.
Sebanyak 3.350 peserta atau 96,63 persen telah menjalani pengukuran tekanan darah.
“Jadi kita melaksanakan CKG ini di kelurahan. Di Kecamatan Pasar Manna sudah kita laksanakan dengan capaian 3.350 orang dengan persentase 96,63 persen, di luar dari puskesmas yang lain,” ujar Helyka saat diwawancarai TribunBengkulu.com, Sabtu (22/8/2026).
Dalam pelaksanaannya, Puskesmas M Thaha juga melibatkan dokter umum dan dokter gigi saat pelayanan dilakukan di luar gedung.
“Saat terjun kami ada dua dokter, satu dokter umum dan satu dokter gigi karena CKG ini ruang lingkupnya juga ke gigi. Jadi kita ke sekolah-sekolah ataupun kelurahan pada saat dokter diperbantukan. Karena ada dua dokter umum, kita terjunkan satu dan satu di gedung. Sedangkan untuk dokter gigi, kalau tidak melakukan tindakan maka kita libatkan juga,” jelasnya.
Kepala Dinas Kesehatan Bengkulu Selatan, Didi Ruslan, juga mengakui banyak faktor risiko penyakit tidak menular ditemukan selama pelaksanaan CKG.
Di antaranya penyakit jantung, hipertensi, dan diabetes melitus.
“Untuk temuannya, selama cek kesehatan kami sudah menjaring semuanya. Yang pertama adalah penyakit tidak menular, baik jantung, hipertensi maupun DM, sudah terjaring sangat banyak. Namun kondisinya tidak membahayakan,” jelas Didi.
Menurut Didi, risiko hipertensi tidak terkonsentrasi di wilayah tertentu.
Masyarakat berusia 40 tahun ke atas menjadi kelompok yang perlu memberikan perhatian lebih terhadap tekanan darah.
“Kalau hipertensi, hampir semua umur di atas 40 tahun rentan mengalami tekanan darah tinggi karena banyaknya pola makan yang tidak teratur,” ujarnya.
“Untuk faktor risiko di wilayah, semuanya memiliki faktor risiko. Tidak ada wilayah khusus. Kalau untuk hipertensi, semuanya berisiko,” lanjut Didi.
CKG Membantu Warga Mengetahui Kondisi Kesehatan
Bagi Rabasia, program CKG membantu masyarakat mengetahui kondisi kesehatan, terutama penyakit yang terkadang tidak menimbulkan gejala.
Pengalamannya sendiri menjadi salah satu contohnya.
Sebelum mengikuti pemeriksaan, Rabasia merasa sehat dan hampir tidak memiliki keluhan.
Setelah diperiksa, ia baru mengetahui tekanan darahnya mencapai 165.
Namun, Rabasia memang belum berniat melakukan pemeriksaan lanjutan karena merasa masih sehat, tidak ada keluhan sakit.
Selain itu, kalau Rabasia pergi, tidak ada yang membantunya membuka warung.
Karena tinggal sendiri, Rabasia juga tak punya keluarga yang bisa mengantarkan melakukan pemeriksaan lanjutan di puskemas.
Persoalan kesadaran masyarakat tersebut juga diakui Dinas Kesehatan Bengkulu Selatan.
Didi mengatakan salah satu kendala dalam tindak lanjut pemeriksaan adalah belum seluruh masyarakat menyadari pentingnya mengetahui kondisi kesehatan sebelum muncul keluhan.
“Kendalanya ada pada kesadaran diri dan perilaku masyarakat. Belum semua menyadari kalau kebutuhan sehari-hari dan penyakit itu bisa bersemayam di dalam tubuhnya,” jelasnya.
Dinkes, kata Didi, mengingatkan masyarakat agar tidak berhenti melakukan pemeriksaan setelah mengikuti CKG.
“Kami juga sudah menyiapkan, baik itu persiapan obat maupun kesiapan dokter. Kami menjaga masyarakat Bengkulu Selatan agar jangan sampai mengalami sakit yang lebih parah,” tutur Didi.
Hingga saat diwawancarai, Didi mengatakan belum ada warga yang secara khusus dirujuk untuk mendapatkan pengobatan lanjutan berdasarkan hasil CKG.
“Kalau sampai saat ini tidak ada yang kita rujuk, kecuali sudah sakit. Penderita yang sudah akut artinya sudah mengalami dan menjalani pengobatan,” ungkapnya.