Tim Peneliti dari Unri Dedikasikan Alat Sensor Cuaca untuk Membantu Petugas Pemadam Karhutla
Muhammad Ridho August 27, 2026 07:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, KAMPAR - Tim Peneliti Dosen Ilmu Komputer Universitas Riau (Unri) mendedikasikan alat sensor cuaca di tengah maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla)

Assoc. Prof. Dr. Rahmad Kurniawan, ST., MIT., selaku ketua tim menyebut alat itu dengan Internet of Things (IoT) Mikroklimat.

Perangkatkan itu diperuntukkan bagi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kampar, kepolisian, dan insansi terkait lainnya. Secara khusus dalam upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

"Rencana akan dipakai untuk membantu dalam mitigasi penanganan karhutla," katanya kepada Tribunpekanbaru.com, Kamis (27/8/2026).

Dosen Ilmu Komputer Universitas Riau ini mengatakan, Mikroklimat bekerja seperti stasiun mini cuaca di lapangan.

Sensor dari alat ini membaca suhu, kelembapan udara, curah hujan, kondisi angin, dan kualitas udara. 

"Secara sederhana, alat IoT Mikroklimat ini bekerja seperti stasiun atau pos cuaca kecil di lapangan," ungkapnya.

Data yang dikumpulkan oleh alat itu diproses oleh mikrokontroler. Lalu dikirim secara berkala melalui internet ke server untuk disimpan dan ditampilkan dalam bentuk dasbor.

Ia mengatakan, alat dapat membantu petugas lapangan untuk mengetahui kondisi aktual di sekitar lokasi sensor. Termasuk penyebaran asap.

"Misalnya, suhu meningkat, kelembapan menurun, tidak ada hujan dan kecepatan angin meningkat," ujarnya.

Baca juga: Ibu Paruh Baya di Kampar Ditangkap, Bakar Ranting Picu Karhutla 15 Ha yang Batal Ditinjau Prabowo

Baca juga: ISPU di Kampar Kategori Tidak Sehat, Dinkes Imbau Bumil dan Bayi: Sebaiknya di Rumah Saja

Alat ini bahkan dapat mendeteksi kondisi kualitas udara yang memburuk. Informasi yang disajikan menjadi panduan bagi petugas untuk meningkatkan kewaspadaan ketika menangani karhutla.

Menurut dia, data mikrolimat ke depan akan diintegrasikan dengan Kampar Karhutla Watch yang ditemukannya sebelumnya. Termasuk dengan dasbor lain yang memerlukan informasi data satelit, cuaca, dan kualitas udara.

"Satelit mengamati dari atas, sedangkan alat mikroklimat memberikan gambaran kondisi langsung dari lapangan," terangnya. 

Ia berharap, alat tersebut dapat mendukung pengambilan keputusan di lapangan yang lebih cepat, terukur, dan spesifik.

( Tribunpekanbaru.com / Fernando Sihombing)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.