WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Tensi demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, perlahan merangkak naik.
Kamis (27/8/2026) sore, aksi penyampaian pendapat yang semula berjalan kondusif mulai diwarnai gejolak provokasi dan vandalisme.
Asap hitam pekat mengepul ke udara seiring dengan ban bekas yang dibakar oleh massa aksi.
Tak sekadar membakar ban, kelompok demonstran yang tersulut emosi mulai beringas menggedor dan mencoba merusak pagar besi gedung wakil rakyat tersebut.
Tembok-tembok putih di sekitar gerbang utama yang menjadi saksi bisu kini telah dipenuhi coretan vandalisme.
Berbagai spanduk tuntutan pun dibentangkan, mengiringi orasi yang diteriakkan tanpa henti.
Mendapat tekanan dan provokasi dari jarak dekat, aparat kepolisian yang berjaga tepat di balik gerbang menunjukkan kedewasaan dan kesabaran ekstra.
Bukannya membalas dengan tindakan represif, aparat memilih diam, bersikap tenang, dan menolak terpancing masuk ke dalam skenario kericuhan yang coba diciptakan massa.
Baca juga: Andre Rosiade Disoraki ‘Hoaks’ Saat Jelaskan RUU Perampasan Aset di Depan Massa Demo DPR
Blokade JCC dan Pasukan Bersenjata Lengkap
Sementara itu, suasana berbeda terlihat tak jauh dari pusat eskalasi.
Di kolong flyover Jakarta Convention Center (JCC) yang mengarah ke Gedung DPR RI, arus lalu lintas telah lumpuh total.
Pihak kepolisian melakukan blokade sterilisasi area guna mencegah jatuhnya korban sipil maupun kendaraan yang terjebak massa.
Lalu lintas dari arah Polda Metro Jaya yang mengarah ke Slipi dialihkan secara paksa, dibelokkan menuju Pintu 10 Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK).
Di bawah naungan beton jembatan JCC, pemandangan tak kalah menegangkan tersaji.
Ribuan personel Brimob Polda Metro Jaya berseragam hitam, lengkap dengan pelindung badan (body vest), duduk bersila memblokade jalan.
Kendaraan taktis (rantis) terparkir gagah mengamankan barisan.
Tangan-tangan kokoh aparat ini bersiaga memegang senapan pelontar gas air mata, sementara barisan tameng huru-hara disandarkan rapi di dekat trotoar.
Mereka dalam posisi siaga penuh, menanti instruksi komando untuk bergerak mendekat ke titik panas di Gedung DPR RI jika situasi dinyatakan di luar kendali.
Ironi Humanis di Balik Ketegangan
Namun, di balik wajah garang aparat dan ancaman amuk massa, terselip pemandangan ironis sekaligus humanis khas jalanan ibu kota.
Di sekitar barisan Brimob yang tengah beristirahat, kehidupan masyarakat kecil tetap berdenyut normal.
Warga sipil, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, tampak santai duduk berbaur dengan aparat.
Beberapa pengemudi ojek online (ojol) berseragam hijau tampak asyik merekam situasi dengan telepon seluler mereka.
Lebih epik lagi, para pedagang kopi keliling bersepeda dan penjaja buah potong terlihat berlalu-lalang dengan santai.
Di tengah kepungan kendaraan taktis dan senapan gas air mata, mereka tetap menjajakan dagangannya, menawarkan segelas kopi hangat kepada massa dan polisi yang tengah sama-sama melepas lelah.
Hal ini seolah menegaskan bahwa di atas semua konflik politik, urusan perut dan kemanusiaan tetap berjalan beriringan.