Iran Tegaskan Tetap Tutup Selat Hormuz jika Amerika Serikat Tolak Syarat Teheran
Faisal Zamzami August 27, 2026 09:37 PM

 

 


SERAMBINEWS.COM, TEHERAN — Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali apabila Amerika Serikat (AS) menolak syarat-syarat yang diajukan Teheran.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyebut pembukaan kembali jalur perairan strategis tersebut bergantung pada penghentian blokade serta kesediaan Washington menerima kerangka Nota Kesepahaman (MoU) yang sebelumnya telah disepakati.

Juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi, mengatakan Iran saat ini memiliki kendali atas Selat Hormuz.

Menurutnya, tidak ada kapal perang milik negara-negara musuh yang masih berada di kawasan Teluk Persia.

"Selat Hormuz berada di tangan kami, dan saat ini tidak ada kapal militer musuh yang berada di dalam Teluk Persia," ujar Mohebbi, seperti dilaporkan media Iran, Press TV, Kamis (27/8/2026).

Mohebbi mengklaim seluruh kapal perang tersebut telah mundur hingga sedikitnya 400 kilometer dari kawasan selat. Ia menegaskan bahwa secara militer maupun teritorial, tidak ada kapal yang dapat melintasi Selat Hormuz tanpa izin dan pengaturan dari Iran.

"Dari sudut pandang militer dan teritorial, tidak ada kapal yang mampu melintasi jalur air ini tanpa izin dan pengaturan Iran," katanya.

Baca juga: Trump Deklarasikan Misi AS di Iran Selesai, Klaim Kemengangan hingga Hujan Kritik

Iran Negosiasi dengan Oman

Di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat, Iran disebut terus melakukan pembicaraan dengan Oman mengenai pengaturan lalu lintas di kawasan Selat Hormuz.

Mohebbi mengatakan negosiasi antara Teheran dan pemerintah Oman telah berlangsung selama sekitar satu bulan terakhir.

Menurut dia, kedua pihak telah mencapai sejumlah kesepakatan terkait batas wilayah perairan serta mekanisme pembagian pendapatan yang berasal dari aktivitas lalu lintas maritim.

Ia juga menyebut wilayah perairan yang berada di dekat pantai Oman akan berada di bawah kendali bersama kedua negara.

Namun, menurut Mohebbi, proses normalisasi lalu lintas maritim belum dapat sepenuhnya berjalan karena adanya hambatan dari Amerika Serikat.

"Amerika Serikat menciptakan hambatan dalam proses ini, yang telah menyebabkan penundaan," ujarnya.

AS Disebut Jadi Kendala Utama

Iran menilai Washington menjadi faktor utama yang menghambat pembukaan kembali Selat Hormuz.

Teheran meminta AS menghentikan campur tangannya dan kembali pada kerangka MoU yang telah disepakati.

Mohebbi menegaskan bahwa Iran pada dasarnya siap membuka kembali jalur pelayaran tersebut apabila Washington memenuhi persyaratan yang diajukan Teheran.

"Jika Amerika Serikat menghentikan campur tangannya dan kembali ke kerangka MoU yang ada, Iran siap untuk membuka kembali Selat Hormuz, sesuai dengan perjanjian tersebut," kata Mohebbi.

Karena itu, ia meminta Washington menerima ketentuan yang diajukan Iran sebagai prasyarat untuk mengakhiri penutupan selat.

"Oleh karena itu, Amerika Serikat harus menerima syarat-syarat kami," tegasnya.

"Jika AS tidak menerima syarat-syarat kami, Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali dalam keadaan apa pun," tandas Mohebbi.

Baca juga: Video - Diancam AS! China Tetap Pertahankan Kerja Sama dengan Iran

Jalur Strategis Dunia

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran dan energi paling strategis di dunia. Selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut menjadi jalur penting bagi lalu lintas kapal tanker yang mengangkut minyak mentah dan produk energi dari kawasan Teluk.

Setiap gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut berpotensi berdampak terhadap rantai pasok energi global, terutama karena sejumlah negara produsen minyak utama di Timur Tengah mengandalkan jalur tersebut untuk mengirimkan ekspor mereka ke pasar internasional.

Pernyataan terbaru IRGC menunjukkan bahwa Iran masih menjadikan kendali atas Selat Hormuz sebagai instrumen strategis dalam menghadapi tekanan Amerika Serikat.

Pembukaan kembali selat kini dikaitkan langsung dengan kesediaan Washington memenuhi tuntutan Teheran dan menjalankan kembali kerangka MoU yang disebut telah disepakati.

Dengan demikian, meski Iran mengklaim telah mencapai kemajuan dalam pembicaraan dengan Oman, normalisasi penuh lalu lintas maritim di Selat Hormuz masih menghadapi persoalan politik dengan Amerika Serikat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.