Aksi Mas Jack Pesilat Amerika Membuka Sarasehan Pencak Silat Tradisional di Persimpangan Zaman
Yoseph Hary W August 27, 2026 10:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Aksi Mas Jack pesilat dari Amerika memeragakan gerakan pencak silat Inti Ombak menjadi salah satu pembuka sarasehan bertajuk Pencak Silat Tradisional di Persimpangan Zaman.

Mas Jack yang didampingi rekannya tampak luwes memeragakan gerakan silat layaknya warga lokal.

Dia juga mengenakan busana dan ornamen sarung yang melingkar di perut seperti seorang jawara.

Acara yang berlangsung di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM ini turut dihadiri beberapa pesilat berbagai daerah serta masyarakat umum.

Pelestarian seni beladiri khas nusantara

Sarasehan ini menjadi ruang menentukan arah pelestarian seni beladiri khas nusantara.

Bukan hanya soal mempertahankan gerakan, tetapi juga menjaga nilai, filosofi, pengetahuan, dan jati diri yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian Pencak Wisata Budaya (PWB) ke-5 yang digelar Paseduluran Angkringan Silat (PAS) Yogyakarta.

Perwakilan PAS Yogyakarta, Suryadi, mengatakan pencak silat saat ini berada di persimpangan antara jalan prestasi dan jalan tradisi. 

Jalan prestasi menawarkan podium dan penghargaan, sedangkan jalan tradisi mungkin tidak menghadirkan keduanya, tetapi memiliki jati diri yang menjadi akar pencak silat.

"Di satu sisi ada jalan prestasi, namun di sisi lain ada jalan tradisi. Jalan yang tak ada podium dan hadiah, tapi ada jati diri. Hari ini kita bahas bersama bukan untuk mempertentangkan," ungkap Suryadi.

Menurutnya, PWB ke-5 menjadi salah satu upaya memberikan ruang bagi pencak silat tradisional agar tetap hidup dan berkembang. 

Suryadi menilai keberlanjutan pencak silat tradisional membutuhkan kerja bersama, termasuk kalangan akademisi. 

UGM dinilai menjadi ruang yang tepat untuk mendiskusikan pencak silat secara lebih mendalam, termasuk menggali pengetahuan yang berkembang di padepokan-padepokan yang belum tentu masuk dalam ruang perkuliahan.

"Kita ingin terus eksis dan dilestarikan, diteliti untuk generasi mendatang. Pencak silat akan berjalan ke depan, tapi tak boleh melupakan dari mana ia dimulai," tandasnya.

Mengandung makna dan filosofi 

Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakhsmi Pratiwi, mengatakan tema “Di Persimpangan Zaman” menjadi penting karena pencak silat tidak sekadar berbicara mengenai gerakan bela diri. Di dalamnya terdapat berbagai nilai, makna dan filosofi yang menjadi bagian dari warisan pengetahuan masyarakat.

Dian mengingatkan pencak silat telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 15 Desember 2019, dengan Yogyakarta menjadi salah satu pihak yang terlibat dalam pengusulan. 

Karenanya upaya pelestarian tidak cukup hanya mempertahankan bentuk fisiknya, tetapi juga harus menjaga pengetahuan yang melekat di dalamnya.

"Zaman kita saat ini cukup instan, global, dan bergerak dengan sangat cepat. Kita khawatir pengetahuan yang sebenarnya melekat di dalam pencak silat kemudian terdegradasi atau bahkan hilang, sehingga yang tersisa hanya gerakan-gerakannya saja yang mungkin tanpa makna," ungkap Dian.

Menurutnya, tantangan tersebut tidak hanya dialami pencak silat, tetapi juga berbagai karya budaya lainnya. Sebagai warisan budaya takbenda, pencak silat memiliki banyak unsur pengetahuan yang perlu dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dian menuturkan Pemda DIY sejak 2023 telah menunjukkan komitmen terhadap pencak silat sebagai salah satu warisan budaya yang perlu terus dirawat. 

Dia berharap nilai-nilai yang terkandung dalam pencak silat tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

"Nilai kesabaran, kedisiplinan, hormat kepada senior, kebersamaan, perjuangan, dan ketekunan yang luar biasa harusnya mampu kita bawa ke arah yang membentuk karakter positif," ujarnya.

Sarasehan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi menghasilkan gagasan mengenai bagaimana pencak silat dapat terus relevan dengan perkembangan zaman. 

Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari merawat ingatan, warisan, dan pengetahuan agar tidak terputus dari generasi sebelumnya ke generasi mendatang.

"Ini bukan sekadar dialog atau bincang-bincang, tetapi bagian dari merawat ingatan, merawat warisan, dan merawat pengetahuan yang dulu pernah sampai dan melekat di pencak silat," pungkasnya. (hda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.