TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Mahasiswa asal Kabupaten Mamberamo Tengah di kota studi Manokwari menyatakan sikap menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG) di daerah tersebut, Kamis (27/8/2026).
Mereka juga menyatakan dukungan terhadap aksi penolakan yang akan digelar mahasiswa asal Mamberamo Tengah di Kota Studi Wamena dan Jayapura pada 31 Agustus 2026 di Kobakma, ibu kota Kabupaten Mamberamo Tengah.
Ketua Asrama Mahasiswa Mamberamo Tengah di Manokwari, Isak Sibak, mengatakan penolakan tersebut dilakukan karena mahasiswa khawatir pelaksanaan MBG justru menimbulkan persoalan kesehatan bagi anak-anak sekolah.
"Program MBG di Mamberamo Tengah bukan untuk mencerdaskan generasi muda. Sudah banyak kejadian anak sekolah mengalami keracunan. Kenapa harus dipaksakan?" kata Isak.
Menurutnya, pemerintah daerah perlu mempertimbangkan kondisi dan kesiapan daerah sebelum menjalankan program tersebut.
Ia juga menyoroti sejumlah kasus keracunan yang dikaitkan dengan pelaksanaan MBG di berbagai daerah di Indonesia.
Baca juga: Dapur MBG di Distrik Fakfak Barat Diduga Terbengkalai
Menurutnya, melalui data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) yang dilaporkan pada Juni 2026, terdapat 37.270 korban yang dikaitkan dengan kasus keracunan MBG sejak Januari 2025 hingga Mei 2026.
"Dari jumlah tersebut, 9.167 korban tercatat pada Januari hingga Mei 2026," ucap Isak.
Namun, angka tersebut merupakan hasil pemantauan JPPI dan bukan angka resmi pemerintah yang menyatakan seluruh kasus telah terbukti disebabkan oleh MBG.
Dalam perkembangan terbaru, JPPI kemudian melaporkan jumlah korban yang dikaitkan dengan MBG mencapai 40.759 orang sejak 2025 hingga awal Agustus 2026.
Isak mengatakan data tersebut menjadi salah satu alasan mahasiswa meminta pemerintah daerah Mamberamo Tengah mengevaluasi kembali pelaksanaan program MBG.
Menurutnya, pemerintah harus memastikan keamanan makanan sebelum program tersebut diberikan kepada anak-anak sekolah.
Baca juga: 527 Orang di Jayapura Keracunan MBG, Hasil Lab Temukan Bakteri E. Coli pada Sejumlah Menu
"Kami mahasiswa Kota Studi Manokwari menegaskan kepada pemerintah daerah agar menghentikan pelaksanaan Program MBG yang saat ini sedang berjalan di Kabupaten Mamberamo Tengah," ujarnya.
Ia mengatakan sikap tersebut bukan berarti mahasiswa menolak upaya pemerintah dalam memenuhi kebutuhan gizi anak-anak.
Namun, menurutnya, aspek keamanan dan kesiapan penyelenggaraan harus menjadi perhatian utama agar kasus serupa tidak terjadi di Mamberamo Tengah.
"Kami tidak ingin kejadian seperti di daerah lain terulang kepada generasi penerus di Mamberamo Tengah. Pemerintah harus memastikan makanan yang diberikan benar-benar aman dan layak dikonsumsi," katanya.
Isak juga mengimbau agar seluruh mahasiswa asal Mamberamo Tengah di berbagai kota studi untuk bersama-sama menyampaikan aspirasi secara damai.
Ia berharap pemerintah daerah membuka ruang dialog dengan mahasiswa dan masyarakat sebelum mengambil keputusan terkait keberlanjutan program MBG di Mamberamo Tengah.
"Kami berharap pemerintah mau mendengar suara mahasiswa dan masyarakat. Jangan sampai program yang bertujuan baik justru menimbulkan persoalan baru bagi anak-anak kita," tutupnya.