BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Petani di Desa Sungai Rangas, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar, mulai dibuat resah dengan serangan hama walang sangit yang menyerang tanaman padi.
Hama tersebut dinilai dapat menurunkan hasil panen apabila tidak segera dikendalikan.
Salah satu petani, Masnuah, mengatakan, walang sangit menjadi salah satu gangguan yang dihadapi petani selain serangan burung pipit.
“Walang sangit ini yang menyebabkan pertanian padi di tempat kami menyusut. Kalau tidak ditangani bisa kacau,” ujarnya.
Merespons keluhan tersebut, Dinas Pertanian Kabupaten Banjar melalui Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura menggelar Gerakan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) walang sangit di Desa Sungai Rangas.
Pengendalian dilakukan untuk melindungi sekitar 20 hektare areal persawahan dari ancaman kerusakan tanaman, khususnya pada bagian malai padi yang sedang memasuki fase masak susu.
Berdasarkan pemantauan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), populasi walang sangit di lokasi telah melampaui ambang batas pengendalian, yakni lebih dari enam ekor per rumpun.
Serangan yang tidak segera ditangani berpotensi menyebabkan kehilangan hasil hingga 30 persen per hektare. Kondisi tersebut tak hanya berdampak terhadap pendapatan petani, tetapi juga dapat memengaruhi produksi pangan.
Baca juga: BPBD Sebut Kualitas Udara Banjarmasin Tidak Sehat, Kelompok Rentan Jadi Atensi
Baca juga: Dampak Kabut Asap terhadap Dunia Pendidikan Jadi Perhatian, ULM Perbolehkan Kuliah Daring
Baca juga: Kanwil Kemenag Kalsel Sebut Penyesuaian Pembelajaran Madrasah Fleksibel Selama Kabut Asap
Dalam gerakan tersebut, Distan Banjar mendorong petani menggunakan metode pengendalian yang ramah lingkungan. Salah satunya dengan memanfaatkan botol bekas air mineral sebagai perangkap.
Botol tersebut dipasang di sekitar areal persawahan dan diisi air atau oli pada bagian dasarnya. Sebagai umpan, petani dapat menggunakan bahan berbau menyengat seperti terasi, keong mas atau ikan mati untuk menarik walang sangit.
Hama yang masuk ke perangkap kemudian dapat dimatikan atau diamankan menggunakan plastik. Cara tersebut menjadi bagian dari penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) sebelum penggunaan pestisida kimia.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Distan Banjar, Nurul Chatimah, Kamis (27/8) menegaskan, PHT bukan bertujuan menghilangkan seluruh hama, melainkan menjaga populasinya agar tetap berada di bawah ambang ekonomi.
“Pengendalian Hama Terpadu atau PHT bukan berarti memusnahkan hama sepenuhnya, melainkan mengelola ekosistem secara bijak agar populasinya tetap berada di bawah ambang ekonomi. Pestisida kimia kini kita posisikan sebagai benteng pertahanan terakhir, bukan lagi pilihan pertama,” ujar Nurul.
Menurutnya, petani juga diberikan pembekalan mengenai teknik pengendalian, termasuk penggunaan pestisida secara tepat apabila diperlukan.
Melalui Sekolah Lapang PHT, Distan Banjar mendorong petani mampu mengenali kondisi tanaman dan menentukan langkah pengendalian secara mandiri sesuai kondisi di lahannya.
“Melalui Sekolah Lapang PHT, kita ingin mencetak petani yang benar-benar menjadi ahli di lahannya sendiri. Dengan mengadopsi teknologi ini, biaya produksi berhasil ditekan, residu kimia pada hasil panen terpangkas drastis, dan kesejahteraan petani pun semakin terjaga,” kata Nurul.
Kegiatan pengendalian tersebut turut melibatkan Pembakal Sungai Rangas, Bhabinkamtibmas, Babinsa, koordinator penyuluh, PPL, PPS dan POPT Kecamatan Martapura Barat, serta kelompok tani Usaha Baru. (Banjarmasinpost.co.id/nurholis huda)