Disanksi AS, Mata Uang Iran Anjlok ke 2 Juta per Dolar, Hidup Rakyat Teheran Makin Sulit
Ansari Hasyim August 28, 2026 12:35 AM

 

SERAMBINEWS.COM - Tekanan ekonomi terhadap Iran semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai tukar rial di pasar terbuka telah menembus 2 juta rial untuk setiap US$1, mencatat titik terendah baru ketika Amerika Serikat mulai memberlakukan paket sanksi ekonomi terbaru terhadap Teheran. 

Bagi masyarakat Iran, angka tersebut bukan sekadar statistik ekonomi. Pelemahan rial membuat daya beli rumah tangga semakin tergerus dan harga kebutuhan pokok semakin sulit dijangkau.

Sanksi terbaru Washington menyasar sejumlah sektor penting, termasuk teknologi, emas, penerbangan, pelayaran dan aset digital. Amerika Serikat juga memperluas ancaman sanksi terhadap pihak-pihak yang membantu mempertahankan hubungan ekonomi dengan Iran. 

Rial Terpuruk, Harga Kebutuhan Makin Berat

Rial sebenarnya telah berada di bawah tekanan jauh sebelum sanksi terbaru diberlakukan. Perang yang berlangsung sejak akhir Februari, inflasi tinggi, gangguan perdagangan dan lemahnya perekonomian domestik semakin memperburuk situasi.

Baca juga: Bikin AS Geram, Iran Ajukan Syarat Baru Buka Selat Hormuz: Tak Boleh Ada Kapal Militer

Dalam waktu kurang dari sepekan, dolar naik lebih dari 7 persen terhadap rial dan telah lebih dari dua kali lipat dibandingkan sekitar setahun sebelumnya. 

Dampaknya langsung dirasakan masyarakat.

Laporan terbaru menyebut harga beras telah melonjak sekitar 60 persen sejak perang dimulai, sementara harga daging sapi meningkat lebih dari 150 persen. Kondisi tersebut membuat kebutuhan sehari-hari semakin sulit dipenuhi oleh keluarga berpenghasilan rendah dan menengah.

Tekanan ekonomi juga mulai memicu antrean panjang dan aksi pembelian panik terhadap sejumlah kebutuhan, termasuk bahan bakar dan bahan pangan. Sejumlah kelompok pekerja, pensiunan dan guru juga kembali menyuarakan keluhan mengenai inflasi, pelemahan mata uang dan upah yang belum dibayar. 

AS Tingkatkan “Perang Ekonomi”

Washington menyebut langkah terbaru tersebut sebagai bagian dari operasi ekonomi besar-besaran untuk menekan Iran.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut kampanye itu sebagai “economic D-Day”, dengan tujuan mempersempit akses Iran terhadap jaringan keuangan dan perdagangan internasional.

Pada 24 Agustus, AS mengumumkan sanksi terhadap lebih dari 60 target yang terkait dengan Iran dan memperluas sektor yang dapat dikenai sanksi. Washington juga memperingatkan negara atau perusahaan yang masih memberikan jalur ekonomi kepada Teheran. 

Teheran sendiri menyatakan telah mempersiapkan diri menghadapi tekanan tersebut. Menteri Ekonomi Iran mengatakan negaranya telah memiliki rencana selama dua tahun untuk menghadapi sanksi baru dan menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah begitu saja. 

Rakyat Berada di Tengah Pertarungan

Pemerintah Iran berusaha menunjukkan perlawanan terhadap tekanan Washington. Namun, bagi masyarakat biasa, dampaknya jauh lebih sederhana dan nyata: harga naik, daya beli turun dan masa depan semakin sulit diprediksi.

Pelemahan rial juga membuat biaya impor semakin mahal dan memperbesar tekanan terhadap dunia usaha yang selama bertahun-tahun telah menghadapi pembatasan perdagangan internasional.

Di tengah ancaman konfrontasi lebih lanjut dan upaya diplomatik yang belum menemukan jalan keluar, Iran kini menghadapi pertarungan ekonomi yang semakin berat.

Washington meningkatkan tekanan. Teheran bersumpah bertahan. Tetapi di antara keduanya, rakyat Iran kembali menjadi pihak yang harus menanggung mahalnya krisis.(*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.