TRIBUNPONTIANAK.O.ID, PONTIANAK – Keputusan pembelajaran daring mendadak akibat kabut asap di Kota Pontianak tak hanya mengacaukan jadwal akademik, tetapi juga membawa beban psikologis tersendiri bagi para tenaga pendidik.
Di balik layar gawai, para guru dihadapkan pada dilema besar yaitu tuntutan menuntaskan materi atau menekan ego demi berempati pada kondisi ekonomi orang tua murid.
Keresahan ini tergambar jelas dari penuturan Inin Fadzilla, Wali Kelas 3 di MI Mas'udi Pontianak.
Saat ditemui di ruang guru Madrasah Ibtidaiyah Swasta Mas'udi yang berada Gg. H. Nawawi No.64, Sungai Bangkong, Kec. Pontianak Kota, Kota Pontianak pada Kamis pagi 27 Agustus 2026, ia secara gamblang mengungkapkan kebingungannya saat instruksi daring mendadak itu turun.
Segala Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan target yang sudah disusun rapi seketika berantakan.
"Perasaannya sebenarnya bingung. Karena pasti ketinggalan pelajaran itu pasti. Yang tadinya kita tertata dan target pembelajaran semuanya itu, akhirnya terkendala. Rencana semuanya buyar," ungkap Fadzilla menceritakan kepanikannya di awal masa daring.
Sebagai seorang guru sekaligus ibu rumah tangga, Fadzilla merasakan betul beratnya mendampingi anak belajar dari rumah.
Empati terdalamnya justru tertuju pada para wali murid di sekolahnya yang mayoritas berasal dari kalangan menengah ke bawah.
Ia menyadari, memberikan tumpukan tugas daring sama saja dengan menambah beban pikiran para orang tua yang harus membanting tulang mencari nafkah setiap harinya.
"Orang tua kan ada yang anaknya lebih dari satu. Mereka pasti kalap mengajarkan anak-anaknya di rumah. Saya sebagai guru juga kadang-kadang untuk mengasihkan tugas ke anak-anak, saya itu iba (kasihan) terhadap orang tua di rumah," ceritanya dengan raut prihatin.
Baca juga: Warga Kalbar Antusias Menyaksikan POLYTRON Pontianak International Challenge 2026
Tantangan mengajar Kelas 3 SD tidaklah main-main, mengingat ini adalah fase transisi menuju pendalaman materi yang lebih kompleks dibandingkan kelas 1 dan 2.
Fadzilla menyoroti karakteristik muridnya yang merupakan generasi Alpha (Gen Alpha), di mana gaya belajar mereka sangat bergantung pada stimulasi visual.
Di ruang kelas, Fadzilla biasa menggunakan PowerPoint (PPT) dan proyektor agar materi mudah dicerna. Namun di rumah, kemewahan visual itu sirna.
"Anak-anak Gen Alpha ini kalau tanpa visual, mereka kurang memahami. Nah, di rumah belum tentu mereka menggunakan PPT. Orang tua siswa juga belum tentu ada di rumah untuk mendampingi, mereka butuh media pembelajaran," jelasnya.
Situasi ini menciptakan lingkaran kebingungan yang tak berujung. Guru bingung memformulasikan tugas yang mudah, anak bingung memahami materi tanpa visualisasi, dan orang tua kelelahan membagi waktu antara bekerja dan menjadi "guru dadakan".
"Maka dari itu, kendala yang sedang terjadi ini benar-benar membingungkan guru dan orang tua di rumah," tutup Fadzilla, memotret realitas pendidikan darurat yang jauh dari kata ideal. (*)