TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Aparat kepolisian masih berupaya membubarkan massa yang masih berusaha bertahan setelah demo di depan Gerbang DPR RI, Senayan, Jakarta berujung ricuh pada Kamis (27/6/2026) malam.
Massa yang dipukul mundur dari depan gerbang DPR terpencar ke beberapa titik di antaranya ke kawasan Palmerah dan Pejompongan.
Pantauan wartawan Tribunnews.com di kawasan Pejompongan, Jakarta, sekira pukul 21.30 WIB, massa terus melempari polisi menggunakan batu.
Sementara polisi masih bertahan dan sesekali memukul mundur menggunakan gas air mata.
Massa di kawasan Pejompongan masih cukup besar.
Kericuhan di kawasan Pejompongan turut berdampak pada arus lalu lintas.
Baca juga: Sejumlah Gerbang Tol Dalam Kota Ditutup Buntut Demo Ricuh di Depan DPR Kamis Malam
Ruas jalan dari arah Bendungan Hilir menuju Palmerah maupun arah sebaliknya dilaporkan tidak dapat dilalui kendaraan secara normal akibat konsentrasi massa.
Sementara itu, situasi di kawasan Slipi, Jakarta Barat sempat kembali memanas.
Pantauan wartawan TribunJakarta Annas Furqon Hakim di lokasi sekitar pukul 20.40 WIB, pasukan Brimob Polri bergerak menggunakan sepeda motor untuk memukul mundur massa yang masih bertahan di perempatan Slipi.
Pergerakan personel Brimob tersebut membuat massa berhamburan meninggalkan perempatan Slipi.
Sebagian massa kemudian bergerak menjauh dari titik bentrokan menuju kawasan Palmerah.
Baca juga: Demo 27 Agustus dan Desakan Menangkal Perang Persepsi
Sebelumnya, sebuah pos polisi terlihat dalam kondisi terbakar saat massa aksi dipukul mundur aparat kepolisian di kawasan perempatan Slipi, Petamburan.
Berdasarkan pantauan wartawan TribunJakarta, sekitar pukul 20.20 WIB, di kawasan perempatan Slipi, Petamburan, massa terlihat berkerumun.
Di belakang lokasi wartawan, terlihat sebuah pos polisi terbakar.
Belum diketahui penyebab pasti pos polisi tersebut terbakar.
Dilaporkan pula ada dua unit sepeda motor dibakar di Pos Polisi Pejompongan, Jalan Pejompongan Raya, Jakarta Pusat.
Berdasarkan pantauan sekitar pukul 19.00 WIB, dua unit sepeda motor terlihat terbakar di tengah jalan, tepat di depan Pospol Pejompongan.
Sejumlah warga kemudian mendatangi lokasi untuk melihat kejadian tersebut.
Seorang warga bernama Yogi mengatakan, sepeda motor yang terparkir di depan pos polisi diduga dibakar sekelompok orang.
"Sekitar habis magrib tadi kejadiannya. Jadi mereka awalnya kayak lagi bakar-bakar. Tahu-tahu motor kebakaran. Kayaknya motor warga sipil," kata Yogi.
Saksi lainnya, Riki, mengatakan kelompok yang diduga pelajar tersebut awalnya datang dari arah Karet.
Menurut Riki, kelompok tersebut membawa sejumlah benda seperti bambu, kayu, dan batu.
Tak lama kemudian, Riki melihat sejumlah orang yang diduga polisi berpakaian preman berada di sekitar Pospol Pejompongan.
Kelompok yang diduga pelajar tersebut kemudian disebut melempari polisi menggunakan batu hingga petugas meninggalkan lokasi.
Polisi mulai memukul mundur pedemo dari depan Gedung MPR/DPR RI, Jakarta Pusat pada Kamis (27/8/2026) sekira pukul 19.00 WIB.
Mulanya massa masih bertahan dan memukul gerbang gedung parlemen.
Tak lama kemudian, terdengar suara aparat kepolisian dari dalam gedung dengan pengeras suara meminta pendemo membubarkan diri.
"Kami minta semuanya untuk menjauh dan meninggalkan lokasi," bunyi suara tersebut.
Tak lama kemudian, air dari water canon pun menyembur ke arah pendemo yang membuat massa kocar-kacir.
Namun ada beberapa orang yang masih bertahan.
Karena imbauan tak digubris, aparat kepolisian pun keluar dan mulai memukul mundur massa yang ada.
Demo tersebut awalnya berlangsung damai. Pada Kamis pagi massa dari Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) menyuarakan tuntannya yakni mendesak DPR segera mengesahkan RUU perampasan aset dan hukuman mati bagi koruptor.
Perwakilan AMPB pun sempat diterima dan beraudiensi dengan pimpinan DPR RI. Dalam pertemuan DPR memastikan bila RUU Perampasan Aset akan disahkan paling lambat 15 Desember 2026.
Setelah pertemuan tersebut, massa dari AMPB pun membubarkan diri.
Setelah massa AMPB bubar, giliran dari elemen mahasiswa melakukan aksi demonstrasi hingga Kamis petang.
Setelah massa mahasiswa bubar, kelompok lain datang dengan massa lebih besar. Mereka sempat melakukan tindakan perusakan terhadap pagar DPR RI dan CCTV.
Hingga akhirnya, polisi pun memukul mundur massa aksi tersebut.
(Tribunnews.com/ abdi/ Tribunjakarta/ Dwi Putra Kesuma/ Annas Furqon Hakim)