Warga Bora Blupur di Sikka NTT Masih Terisolir: Air, Listrik, Jalan dan Internet Sulit
Ryan Nong August 28, 2026 01:19 AM

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Petrus Chrisantus Gonsales

POS-KUPANG.COM, MAUMERE - Warga Kampung Bora Blupur, Desa Bura Bekor, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, Flores, NTT yang terdampak gempa Flores masih bertahan di tiga lokasi pengungsian mandiri yang dibuat seadanya oleh warga.

Berada di daerah dataran tinggi, guncangan gempa bumi yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026) lalu, merobohkan sejumlah bangunan rumah masyarakat. 

Baca juga: Tembus Medan Ekstrem, Sherly Hilene Rayakan Ultah Bersama Korban Gempa di Bora Blupur

Selama masa tanggap darurat bencana, warga masih trauma akan gempa susulan. 

Kondisi masih terisolir 

Kampung ini masih terisolir. Jalannya masih berupa struktur tanah kapur dan bebatuan. Sebagian jalan dirabat hanya beberapa meter saja. 

Medan ekstrim dengan tanjakan yang dihantui jurang dalam, bagi pengendara sepeda motor maupun mobil yang masuk ke Bora Blupur harus meningkatkan kewaspadaan tinggi.

Angkutan pedesaan di kampung ini mengandalkan mobil pikap. Saat musim penghujan, jalanan tanah menjadi becek dan licin membuat masyarakat kesulitan untuk memobilisasi hasik komiditi pertanian untuk dijuak ke kota. 

Penerangan di kampung ini masih seadanya menggunakan lampu pelita dan panel surya. Panel surya pun hanya dimiliki beberapa rumah saja. Akses jaringan yang susah, tidak ada listrik, sehingga setiap malam masyarakat beristirahat dalam gelap. 

Selain jaringan dan aliran listrik, kampung Bora Blupur juga sulit mendapatkan air bersih. Mereka harus berjalan kaki 3-4 kilometer untuk memperoleh air bersih. 

Hal itu membuat masyarakat harus membeli air yang dijual menggunakan pikap bermuatan fiber berukuran 1.100 liter, sehingga masyarakat merogoh kantong sebesar Rp 175.000 dalam sekali mengisi air. 

Bagi warga yang tidak mampu membeli air, sumber mengandalkan tadahan air hujan. 

Penjabat Desa Bura Bekor, Antonius Moa menuturkan pada bulan Agustus sampai Oktober masyarakat mengalami dampak musim kemarau. 

"Hanya ada dua pikap yang menjual air bersih di sini dengan ukuran di fiber 1.100 liter," ujarnya. 

Soal pendidikan, SD Bora Blupur merupakan salah satu kelas paralel dari sekolah induk yakni SDI Klotong. Saat ini, SD Bora Blupur memiliki 28 siswa, terdiri dari 13 perempuan dan 15 laki-laki.

Aktivitas belajar mengajar di sekolah ini masih di bawah tenda darurat milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berwarna orange. 

Disaksikan TribunFlores.com, Kamis (27/8/2026) hanya satu ruangan permanen di SD Bora Blupur. Ruangan lainnya sedang dalam tahap pembangunan. Sehingga di bawah tenda darurat itu, para guru harus mengajar enam kelas berbeda. 

Nong Yos, guru yang mengabdi di SD Bora Blupur menuturkan air bersih masih menjadi kendala utama. Sebab bak penampung air mengalami retak dan bocor akibat gempa yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026) yang lalu. 

"Untuk bangunan ini kami gotong royong bersama orang tua murid membangun sekolah ini untuk anak-anak," katanya. (moa) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.