SURYA.CO.ID, JOMBANG – Pembentukan karakter santri di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang kini tidak lagi berfokus pada pendalaman ilmu agama dan pendidikan formal semata.
Pengelola pesantren mulai menanamkan kesadaran ekologis sebagai fondasi penting kepribadian santri melalui program bertajuk ECO Pesantren berbasis Khalifah Green Behavior.
Gerakan inovatif itu tak sekadar mengedukasi santri mengenai dampak kerusakan alam, tetapi juga melatih mereka memanfaatkan limbah menjadi sumber daya ekonomi bernilai tinggi.
Gagasan strategis itu dipaparkan dalam agenda diskusi Ngaji Eco Pesantren yang digelar Ikatan Keluarga Besar Alumni Bahrul Ulum (IKABU) Tambakberas di Graha IKABU pada Kamis (27/8/2026).
Melalui pendekatan itu, sampah tidak lagi dipandang sebagai tumpukan masalah sosial yang harus dibuang, melainkan peluang usaha yang dapat diasah oleh para santri.
Baca juga: Breaking News : Presiden Prabowo Serukan Jas Ijo untuk Jasa Ulama saat Buka Muktamar ke-35 NU
Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, KH Abdurrozaq Sholeh (Gus Rozaq), menegaskan pentingnya santri memegang teguh amanah penataan bumi.
"Melalui kesadaran itu, diterjemahkan ke kehidupan sehari-hari para santri. Seperti mengurangi sampah, memilah dan mengolah sampah, menghemat air dan energi, menjaga kebersihan, dan menggunakan sumber daya secara bertanggung jawab," ucap Gus Rozaq kepada SURYA.CO.ID, Kamis (27/8/2026).
Pendidikan berwawasan lingkungan itu dikonsepkan secara rinci agar terintegrasi penuh dengan seluruh kegiatan harian di dalam kompleks pesantren.
Rangkaian konsep penerapannya kembali didiskusikan secara mendalam oleh IKABU Jombang pada Jumat (28/8/2026).
Baca juga: IKABU Jombang Gelar Forum Bedah Buku Menjelang Muktamar, Bahas Khittah dan Peran Kiai Era Global
Kepala Perpustakaan UIN Surabaya, Prof. Dr. Hj. Evi Fatimatur Rosyidah, menjelaskan bahwa kurikulum khusus telah disiapkan untuk mendukung program ini secara berkelanjutan.
"ECO Pesantren dirancang melalui kurikulum dan modul pembelajaran yang menggabungkan nilai-nilai keislaman, pengetahuan ekologis, perubahan perilaku, hingga pengembangan ekonomi kreatif berbasis lingkungan," ujarnya.
Aktivitas pembiasaan ramah lingkungan itu diwujudkan secara konkret melalui penghematan energi serta pengelolaan limbah harian santri.
"Santri didorong untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengurangi sampah, memilah dan mengolah limbah, menghemat air serta energi, dan menjaga kebersihan lingkungan pesantren," ujarnya melanjutkan.
Baca juga: Totalitas IKABU Nusantara untuk Muktamar ke-35 NU, Siap Kerahkan Kekuatan Alumni Lintas Profesi
Founder Bytesource & Principal Advisor of Ruang Nusa, Mochamad Syafii, menyoroti sisi kewirausahaan yang tercipta dari program pemilahan limbah itu.
"Melalui cara ini, aktivitas pengelolaan sampah di lingkungan pesantren dapat berkembang menjadi pengalaman belajar yang memiliki nilai ekonomi," katanya.
Pembiasaan itu berhasil melatih pola pikir logis, kreativitas, serta kemandirian finansial para santri sejak dini.
Proses pemilahan material bekas terbukti ampuh melahirkan ragam inovasi produk daur ulang yang bernilai jual tinggi.
Keberhasilan pelaksanaan program ECO Pesantren dipantau ketat menggunakan instrumen penilaian dan indikator ketercapaian yang jelas.
"Evaluasi tidak hanya melihat seberapa jauh santri memahami materi lingkungan. Perkembangan kesadaran ekologis, perubahan perilaku, keterampilan mengelola lingkungan, kreativitas, hingga kemampuan menghasilkan nilai ekonomi dari sumber daya yang tersedia juga menjadi bagian dari penilaian," ungkapnya.
Pengembangan program ini dikawal langsung oleh jajaran Dewan Pakar, di antaranya Prof. Dr. Hj. Evi Fatimatur Rusydiyah, M.Ag, Dr. Nur Fitriatin, M.Ed, Mochammad Syafii, M.B.A, Dr. Arif Mansyuri, S.Pd.I., M.Pd, dan Faizun Amir, S.Ag., S.Pd., M.Pd.
Dukungan akademisi dan praktisi tersebut memperkuat posisi Bahrul Ulum dalam mencetak generasi penerus yang berakhlak mulia, peduli lingkungan, dan berjiwa wirausaha.