Pembongkaran Makam Kuno di Tulungagung Bikin Geger, Digali 2 Meter Ternyata Tanpa Jenazah
Dyan Rekohadi August 28, 2026 01:32 AM

 

SURYA.CO.ID, TULUNGAGUNG – Warga Kelurahan Sembung, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, membongkar sebuah makam kuno yang berada di area persawahan, pada Kamis (27/8/2026).

Makam yang berlokasi di lahan tegalan pribadi milik Imam Mustaujib (53) itu selama ini memicu rasa penasaran masyarakat karena penampakan fisiknya.

Keberadaan struktur batu pada makam itu diyakini berusia sangat tua jika dilihat dari bentuk dan gaya pahatan nisannya.

Baca juga: Rute Baru Bus Damri Rute Tulungagung - Pantai Serang Blitar Siap Beroperasi, ke Pondok Gus Iqdam?

 

Nisan Kuno Gaya Tembayat Era Akulturasi

Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Tulungagung, Haryadi, menjelaskan bahwa nisan pada makam itu mengusung corak Tembayat atau Bayat.

Gaya arsitektur penanda itu umumnya dipakai pada abad ke-16 hingga ke-17, yakni masa transisi Hindu-Buddha menuju era penyebaran Islam di Jawa.

“Bentuknya mirip kelir atau gunungan, dengan ciri khas yang paling menonjol adalah bagian atasnya yang melebar dan memipih membentuk siluet yang menyerupai gunungan, dalam pewayangan atau bentuk kurawal makara kuno,” jelasnya.

Nisan berbahan batu kali lokal itu dipahat manual dan bertumpu pada umpak persegi berundak menyerupai struktur bangunan suci masa pra-Islam.

Ukiran itu merekam jejak akulturasi seni klasik era Majapahit dan Demak yang menjadi penanda makam kasepuhan Jawa.

“Sayangnya tidak diketahui dengan pasti, siapa tokoh yang dimakamnya di situ,” tegasnya.

Baca juga: Nasib Eks Bupati Tulungagung Syahri Mulyo di HUT RI ke 81 Gagal Remisi Akibat Denda Korupsi

 

Bukan Cagar Budaya 

Haryadi memastikan lokasi itu tidak masuk daftar objek diduga cagar budaya oleh Dinas Kebudayaan Pariwisata .

Pembongkaran dan pemindahan dilakukan setelah ada kesepakatan warga yang difasilitasi pihak kelurahan dan Muspika.

“Hari ini dikumpulkan bersama, ternyata warga sekitar welcome kalau mau dipindah ke daerah ke Kelurahan Botoran. Alasannya tanah mau dijual tidak laku-laku karena ada makam ini,” ungkapnya.

Dari penelusuran sejarah warga, lokasi itu dahulunya merupakan kubangan air besar yang dekat dengan aliran Sungai Ngrowo dan langganan banjir.

Batu nisan itu diyakini merupakan barang hanyutan saat terjadi banjir besar masa lalu yang kemudian ditancapkan kembali oleh warga setempat.

“Nisan kemudian ditemukan warga, karena diyakini bekas makam kemudian ditancapkan lagi di situ,” ungkapnya.

Petugas yang menggali hingga kedalaman lebih dari dua meter sama sekali tidak menemukan sisa jenazah atau tulang belulang.

Secara spiritual warga menganggapnya moksa, sehingga sebagian tanah diambil untuk dipindahkan ke makam baru sebagai simbolis.

“Tapi kalau kami melaporkan, karena kuburnya kosong tetap kami laporkan tidak ada jenazah,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.