Sosok M Nuh yang Pimpin Sidang Pleno I Muktamar ke-35 NU, dari Rektor ITS hingga Menteri Pendidikan
Ani Susanti August 28, 2026 12:14 PM

TRIBUNJATIM.COM - Prof. Dr. Ir. KH Mohammad Nuh, DEA kembali dipercaya mengambil peran penting dalam Muktamar Nahdlatul Ulama (NU).

Pada Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesanten Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Mohammad Nuh dipercaya memimpin Sidang Pleno I bersama KH Ahmad Said Asrori.

Sidang Pleno I menjadi salah satu tahapan awal penting Muktamar ke-35 NU.

Forum tersebut membahas dan mengesahkan jadwal serta tata tertib yang menjadi pedoman pelaksanaan seluruh rangkaian persidangan muktamar.

Baca juga: Daftar 10 Tokoh Masuk Bursa Calon Ketua Umum PBNU di Muktamar ke-35 NU, Gus Yahya hingga Gus Yusuf

Kepercayaan kepada Mohammad Nuh, yang kali ini menjabat sebagai Sekretarus Steering Commite di kepanitiaan Muktamar ke-35 NU, bukan tanpa alasan.

Ia memiliki pengalaman panjang di dunia akademik, pemerintahan, pendidikan, dan organisasi Nahdlatul Ulama.

Bahkan, peran dalam forum strategis NU bukan kali pertama dijalankan Nuh.

Pada Muktamar ke-34 NU di Lampung pada 2021, ia juga dipercaya menjadi salah satu pimpinan persidangan. Pengalaman tersebut menjadi modal penting ketika kembali dipercaya memimpin forum pada Muktamar ke-35.

Tokoh Pendidikan yang Masuk Lingkar Pemerintahan

Melansir dari laman resmi ITS, Mohammad Nuh dikenal luas sebagai akademisi dan tokoh pendidikan.

Ia merupakan alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan pernah dipercaya menjadi Rektor ITS.

Perjalanan kariernya kemudian membawa Nuh ke pemerintahan pusat. Ia menjabat Menteri Komunikasi dan Informatika pada 2007–2009 dan kemudian menjadi Menteri Pendidikan Nasional pada 2009–2014.

Pengalamannya di dunia pendidikan juga terus berlanjut setelah meninggalkan kabinet.

Pada 2025, misalnya, Nuh dipercaya menjadi Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat.

Dikutip dari Kompas.com, Nuh terlibat dalam penyusunan konsep pendidikan Sekolah Rakyat, termasuk pengembangan kurikulum dan penerapan teknologi dalam proses pembelajaran.

Kiprah tersebut memperlihatkan konsistensi Nuh dalam bidang pendidikan, bahkan setelah tidak lagi berada di pemerintahan.

Dari Akademisi ke Panggung NU

Di lingkungan NU, Mohammad Nuh juga bukan sosok baru.

Ia tercatat dalam jajaran struktur Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan memiliki pengalaman dalam berbagai forum organisasi.

Menjelang Muktamar ke-35 NU, peran Nuh semakin menonjol.

Pada 10 Agustus 2026, Mohammad Nuh menjadi Katib Aam PBNU dalam pembukaan pra-Muktamar NU ke-35 di Depok.

Dalam forum tersebut, Nuh mengingatkan agar suasana Muktamar tidak terjebak pada kompetisi perebutan jabatan.

Ia menyerukan agar seluruh warga NU mengedepankan kolaborasi dan menjaga suasana Muktamar tetap sejuk, berkualitas, dan bermartabat. 

Baca juga: Antisipasi Lonjakan Kendaraan saat Muktamar NU ke-35, Polisi Siaga di Jalur Nganjuk-Jombang

Menurut Nuh, Muktamar ke-35 memiliki arti khusus karena menjadi momentum memasuki abad kedua perjalanan NU.

Ia juga mengingatkan bahwa tantangan terbesar organisasi bukan sekadar persoalan kontestasi, tetapi berkaitan dengan keadaban, akhlak, kejujuran, tanggung jawab, dan kebersamaan dalam menjalankan khidmah.

Pesan tersebut menjadi menarik ketika dikaitkan dengan perannya sebagai pimpinan sidang.

Sebagai pemimpin forum, Nuh berada pada posisi yang harus mampu menjaga persidangan tetap berjalan sesuai aturan sekaligus memberi ruang bagi perbedaan pandangan.

Pengalaman Memimpin Forum Besar

Pengalaman Mohammad Nuh memimpin forum tidak hanya berasal dari lingkungan NU.

Di ITS, ia pernah dipercaya menduduki posisi strategis sebagai Ketua Majelis Wali Amanat.

Ia juga memiliki pengalaman panjang dalam memimpin institusi pendidikan tinggi.

Sementara di pemerintahan, Nuh pernah berada dalam dua kementerian strategis. Pengalaman tersebut membuatnya terbiasa berhadapan dengan berbagai kepentingan, mengambil keputusan, serta mengelola forum yang melibatkan banyak pihak.

Kemampuan tersebut kemudian menjadi bekal ketika ia dipercaya dalam forum-forum penting NU.

Pada Muktamar ke-34 NU di Lampung, Nuh dikenal sebagai salah satu pimpinan sidang yang memimpin jalannya pleno di tengah dinamika pembahasan organisasi, melansir dari NU Online.

Kini, pengalaman itu kembali dibutuhkan di Muktamar ke-35 NU.

Bagi Mohammad Nuh, Muktamar ke-35 bukan sekadar agenda pergantian kepengurusan.

Forum tersebut menjadi momentum bersejarah karena NU memasuki abad kedua perjalanan organisasinya.

Nuh menekankan pentingnya kolaborasi. Ia mengingatkan agar kontestasi dalam pemilihan Ketua Umum PBNU tidak membuat warga NU kehilangan suasana kekeluargaan. 

Ia juga mendorong NU melakukan investasi besar pada sumber daya manusia, tata kelola, dan sektor riil sebagai bagian dari persiapan memasuki abad kedua.

Gagasan tersebut memperlihatkan karakter Nuh yang tidak hanya melihat NU dari perspektif organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai institusi yang membutuhkan penguatan sumber daya manusia dan tata kelola agar mampu menjawab tantangan zaman.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.