SURYA.co.id, SURABAYA – Penanganan korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai diarahkan Universitas Surabaya (Ubaya) dari sekadar pemenuhan kebutuhan darurat menuju tahap pemulihan.
Setelah mengirim ratusan paket bantuan, Ubaya menyiapkan pendampingan psikososial dan layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.
Bantuan tahap kedua tersebut akan melibatkan tim pendamping dari berbagai fakultas di Ubaya.
Tenaga medis dari Rumah Sakit Ubaya serta alumni juga disiapkan untuk ikut dalam proses pemulihan.
Baca juga: Peternak Blitar Kirim 8,7 Ton Telur untuk Korban Gempa NTT, BPBD Jatim Fasilitasi Pengiriman
Rektor Ubaya Dr. Benny Lianto mengatakan, langkah tersebut merupakan kelanjutan dari bantuan tahap pertama yang telah dikirim pada Rabu (26/8/2026).
“Selain itu, hingga hari ini Ubaya secara aktif melakukan pemetaan kebutuhan mahasiswa Ubaya yang berasal dari Provinsi NTT yang terdampak bencana gempa bumi. Harapannya, apa yang kami lakukan bisa berguna dan membantu para korban,” kata Benny kepada SURYA.CO.ID, Jumat (28/8/2026).
Pada tahap pertama, Ubaya menyalurkan ratusan paket kebutuhan darurat ke tiga wilayah terdampak.
Lokasi tersebut meliputi Kabupaten Nagekeo yang menjadi salah satu titik pusat gempa, Desa Golo Dukal, Kecamatan Langke Rembong, serta Dusun Ndilek, Desa Wejang Mawe, Kecamatan Lamba Leda.
Bantuan yang dikirim disesuaikan dengan kebutuhan mendesak masyarakat setelah bencana.
Paket tersebut antara lain berisi terpal untuk tenda darurat, makanan dan minuman instan, perlengkapan mandi, perlengkapan tidur, sembako, kebutuhan anak dan perempuan, serta obat-obatan.
Setelah kebutuhan dasar mulai ditangani, Ubaya kini menyiapkan bantuan dengan cakupan berbeda.
Bantuan tahap kedua diarahkan untuk menjawab persoalan yang muncul setelah fase tanggap darurat.
Tim dari sejumlah fakultas akan dilibatkan dalam pendampingan psikososial. Pendekatan tersebut diharapkan membantu masyarakat menghadapi tekanan dan dampak psikologis setelah mengalami bencana.
Di sisi kesehatan, tenaga medis dari RS Ubaya dan alumni juga akan dilibatkan.
Dengan demikian, bantuan tidak hanya berhenti pada distribusi barang, tetapi diarahkan untuk mendukung proses pemulihan masyarakat terdampak.
Ubaya juga melakukan pemetaan terhadap mahasiswa asal NTT yang ikut terdampak gempa. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan mahasiswa serta memastikan mereka mendapatkan dukungan yang diperlukan.
Dukungan untuk penanganan bencana tersebut juga dihimpun melalui platform SatuJiwa yang bekerja sama dengan Ikatan Alumni Universitas Surabaya (IKA Ubaya).
Penggalangan donasi berlangsung sejak 17 Agustus hingga 31 Oktober 2026.
Dana yang terkumpul nantinya digunakan untuk mendukung penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak gempa.
Benny mengatakan gerakan tersebut merupakan bagian dari penerapan nilai budaya Ubaya, yakni caring community.
“Kepedulian terhadap sesama manusia merupakan nilai yang selalu ditanamkan di Ubaya. Melalui platform SatuJiwa, seluruh keluarga besar Ubaya, baik dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, hingga alumni terpanggil untuk membantu saudara-saudari kita yang terdampak bencana gempa di NTT,” ungkapnya.
Selain menghimpun donasi, Tim SatuJiwa bersama civitas academica dan IKA Ubaya juga ikut mengoordinasikan distribusi bantuan.
Koordinasi tersebut dilakukan agar bantuan yang terkumpul dapat diarahkan ke wilayah dan kelompok masyarakat yang membutuhkan.
Tahap lanjutan ini sekaligus menjadi upaya Ubaya memastikan bantuan tetap relevan dengan kondisi korban yang berubah setelah masa tanggap darurat.
Jika pada tahap awal kebutuhan utama berupa tempat berlindung, makanan, perlengkapan sehari-hari dan obat-obatan, tahap berikutnya mulai menyentuh aspek kesehatan fisik serta kondisi psikologis.
Ubaya berharap rangkaian dukungan tersebut dapat membantu masyarakat terdampak melewati masa pascabencana secara lebih menyeluruh, sekaligus memastikan mahasiswa asal NTT yang terdampak tetap mendapatkan perhatian selama proses pemulihan.
Pusat gempa (episenter) berada di laut sekitar 30 km Timur Laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman dangkal 15 kilometer akibat aktivitas sesar naik (thrust fault).
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 27 Agustus 2026, dampak korban tercatat meninggal dunia 111 orang, 1.678 warga mengalami cedera fisik akibat tertimpa reruntuhan bangunan.
Di samping itu, sebanyak 179.037 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka dan bertahan di tenda darurat maupun posko pengungsian.