TRIBUNNEWS.COM - Seorang mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) berinisial RWA (18) diduga ditahan oleh polisi saat aksi demonstrasi yang terjadi di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2026) kemariin.
Kabar ini diungkap melalui unggahan di akun Instagram @aliansiunjmelawan.
Dalam unggahan itu, RWA terakhir terlihat mengenakan kemeja flanel lengan panjang warna merah dan celana panjang jeans berwarna hitam.
Dia juga tampak mengenakan tas berwarna hitam.
Kronologi dugaan penangkapan berawal ketika RWA terpisah dari rombongan ketika hendak pulang pada Kamis malam.
"Pada pukul 19.30 WIB: Korban terpisah dari rombongan SPORA dan Jakmania UNJ saat hendak pulang," tulis akun tersebut, dikutip pada Jumat (28/8/2026).
Baca juga: Pasca Aksi Demo 27 Agustus, Halte Transjakarta Petamburan Ditutup Sementara
Lalu RWA diduga ditangkap oleh polisi pada pukul 20.00 WIB. Ponsel RWA disebut tidak bisa dihubungi.
"Informasi lapangan mengonfirmasi korban berada di Polda Metro Jaya," ujarnya.
Setelah dugaan penangkapan terhadap RWA, pihak organisasi lantas menghubungi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) serta Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD).
Organisasi tersebut menuntut agar kepolisian segera membebaskan RWA serta seluruh massa aksi yang ditangkap.
Selain itu, mereka juga mendesak agar pihak kampus memberikan bantuan hukum terhadap terduga korban.
"Menuntut respons aktif Universitas Negeri Jakarta dan Fakultas Ilmu Pendidikan untuk memberikan pendampingan dan bantuan hukum kepada korban dan memastikan dia selamat serta bisa kembali berkuliah," katanya.
Lebih lanjut, Aliansi UNJ Melaawan menegaskan bahwa dugaan penangkapan terhadap RWA merupakan bentuk tindakan represif dari aparat.
Baca juga: Update Demo Jakarta, Massa Lakukan Pelemparan Batu, Polisi Pukul Mundur Pakai Gas Air Mata
Mereka juga menganggap bahwa upaya tersebut telah melanggaran HAM.
"Sebagai mahasiswa pendidikan, belajar tidak hanya terbatas di dalam ruang kelas, tetapi juga hadir merawat kepedulian sosial di ruang publik," katanya.
Tribunnews.com telah menghubungi Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto untuk mengonfirmasi soal dugaan penangkapan tersebut.
Sebelumnya, terjadi kericuhan setelah digelarnya aksi demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, pada Kamis malam.
Massa yang dipukul mundur dari depan gerbang DPR terpencar ke beberapa titik di antaranya ke kawasan Palmerah dan Pejompongan.
Pantauan Tribunnews.com di kawasan Pejompongan, Jakarta, sekira pukul 21.30 WIB, massa terus melempari polisi menggunakan batu.
Sementara polisi masih bertahan dan sesekali memukul mundur menggunakan gas air mata.
Massa di kawasan Pejompongan masih cukup besar. Kericuhan di kawasan Pejompongan turut berdampak pada arus lalu lintas.
Baca juga: Mas Botok: Alhamdulillah Warga Pati Tidak Ikut Demo Rusuh, Sudah Banyak Penyusup
Ruas jalan dari arah Bendungan Hilir menuju Palmerah maupun arah sebaliknya dilaporkan tidak dapat dilalui kendaraan secara normal akibat konsentrasi massa.
Selain itu, kericuhan juga terjadi di kawasan Slipi, Jakarta Barat pada pukul 20.40 WIB.
Pasukan Brimob Polri bergerak menggunakan sepeda motor untuk memukul mundur massa yang masih bertahan di perempatan Slipi.
Pergerakan personel Brimob tersebut membuat massa berhamburan meninggalkan perempatan Slipi.
Sebagian massa kemudian bergerak menjauh dari titik bentrokan menuju kawasan Palmerah.
Sebelumnya, sebuah pos polisi terlihat dalam kondisi terbakar saat massa aksi dipukul mundur aparat kepolisian di kawasan perempatan Slipi, Petamburan.
Lalu, sekitar pukul 20.20 WIB, di kawasan perempatan Slipi, Petamburan, massa terlihat berkerumun.
Di belakang lokasi wartawan, terlihat sebuah pos polisi terbakar. Belum diketahui penyebab pasti pos polisi tersebut terbakar.
Di sisi lain, kericuhan dimulai sekira pukul 19.00 WIB saat polisi memukul mundur pendemo.
Mulanya massa masih bertahan dan memukul gerbang gedung parlemen.
Baca juga: Sejumlah Gerbang Tol Dalam Kota Ditutup Buntut Demo Ricuh di Depan DPR Kamis Malam
Tak lama kemudian, terdengar suara aparat kepolisian dari dalam gedung dengan pengeras suara meminta pendemo membubarkan diri.
"Kami minta semuanya untuk menjauh dan meninggalkan lokasi," bunyi suara tersebut.
Tak lama kemudian, air dari water canon pun menyembur ke arah pendemo yang membuat massa kocar-kacir. Namun ada beberapa orang yang masih bertahan.
Karena imbauan tak digubris, aparat kepolisian pun keluar dan mulai memukul mundur massa yang ada.
(Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poerwoto/Adi Suhendi)