TRIBUNNEWS.COM - Bencana di Nepal yang menelan korban jiwa hingga 392 orang per Jumat (28/8/2026) bukan sekadar peristiwa banjir bandang.
Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Dr. Daryono, menjelaskan bencana tersebut merupakan rangkaian proses alam yang saling berkaitan atau cascading hazard, yang bermula dari wilayah elevasi tinggi Pegunungan Himalaya.
Menurut Daryono, akumulasi pemanasan suhu atmosfer mempercepat dinamika kriosfer atau wilayah bumi yang didominasi es dan salju.
Kondisi tersebut meningkatkan intensitas pencairan es di kawasan gletser.
Air hasil pencairan kemudian menembus celah-celah gletser gantung (hanging glacier) dan terakumulasi pada batas antara massa es dengan batuan penopangnya.
"Air lelehan tersebut menguraikan daya gesek dasar gletser dan melemahkan stabilitas struktural massa es raksasa yang berada di lereng-lereng terjal pegunungan," kata Daryono dalam keterangan yang diterima Tribunnews.com Redaksi Solo, Jumat (28/8/2026).
Gletser Runtuh dari Ketinggian Lebih dari 1 Kilometer
Ketidakstabilan akhirnya mencapai kondisi kritis ketika massa es dan batuan dalam volume besar mengalami keruntuhan mendadak atau glacier collapse.
Material tersebut jatuh bebas dari ketinggian lebih dari satu kilometer menuju dasar lembah yang terjal.
Benturan dengan kecepatan tinggi menghasilkan energi kinetik sangat besar.
Baca juga: Bencana di Perbatasan China-Nepal: Tim Penyelamat Dikerahkan
Daryono menyebut energi tumbukan tersebut sebanding dengan guncangan tektonik skala sedang berkekuatan sekitar Magnitudo 5,0 hingga 5,2.
Energi tersebut seketika menghancurkan material es menjadi pecahan sangat halus, lumpur, dan lelehan air akibat proses gesekan dan tumbukan yang berlangsung secara mendadak.
Namun, keruntuhan gletser bukanlah akhir dari rangkaian bencana.
Material es dan batuan yang longsor kemudian menyumbat alur sungai utama di lembah bagian bawah.
Penyumbatan tersebut membentuk bendungan alami (landslide and ice dam) yang menahan aliran sungai sekaligus menjebak pasokan air lelehan baru dari wilayah hulu.
Dalam hitungan jam, air terakumulasi membentuk danau sementara berukuran besar di belakang timbunan debris.
Volume air yang terus bertambah menghasilkan tekanan hidrostatik terhadap struktur penahan alami tersebut.
Masalah muncul karena bendungan yang terbentuk dari material longsoran dan es itu tidak memiliki kestabilan seperti bendungan buatan.
Ketika tekanan air melampaui kemampuan struktur alami tersebut untuk bertahan, bendungan mengalami keruntuhan atau breach.
"Ketika struktur penahan yang tak stabil tersebut mencapai batas ketahanan maksimumnya, bendungan debris jebol secara seketika," ujar Daryono.
Jebolnya bendungan kemudian melepaskan volume air yang sangat besar dalam waktu singkat.
Air tidak mengalir sebagai banjir biasa, melainkan membentuk gelombang banjir bandang atau outburst flood yang membawa lumpur, batuan berukuran besar, es, dan berbagai material debris.
Gelombang tersebut bergerak cepat menuju hilir dan menyebabkan kenaikan muka air sungai secara drastis dalam hitungan menit.
Daryono menjelaskan, aliran debris memiliki massa jenis jauh lebih tinggi dibandingkan air biasa. Karena itu, daya rusaknya menjadi sangat besar ketika memasuki kawasan hilir.
Aliran tersebut dapat merobohkan struktur bantaran sungai, menghancurkan jembatan, hingga menyapu infrastruktur dan permukiman yang berada di sepanjang jalur aliran.
Persoalan semakin berat karena jeda waktu antara jebolnya bendungan alami dan tibanya gelombang banjir di kawasan hilir sangat singkat.
Kondisi tersebut membuat masyarakat memiliki waktu yang sangat terbatas untuk melakukan evakuasi.
"Minimnya jeda waktu antara jebolnya benteng es dan datangnya gelombang air di kawasan permukiman hilir menyebabkan proses evakuasi tidak sempat dilakukan," kata Daryono.
Daryono menempatkan peristiwa Nepal sebagai gambaran bagaimana perubahan kondisi atmosfer di kawasan pegunungan dapat berujung pada bencana berantai yang dampaknya dirasakan jauh di wilayah hilir.
Rangkaian tersebut bergerak dari pemanasan atmosfer → pencairan gletser → melemahnya stabilitas gletser → runtuhan es dan batuan → terbentuknya bendungan alami → akumulasi air → bendungan jebol → banjir bandang dan aliran debris.
Dengan mekanisme tersebut, ancaman tidak berhenti pada kawasan gletser. Energi dan material dari kawasan elevasi tinggi dapat ditransmisikan ke lembah dan permukiman dalam waktu yang sangat singkat.
"Fenomena ini menjadi bukti nyata bagaimana perubahan iklim global dapat memicu bencana beruntun (cascading hazard) dari puncak kriosfer hingga menghancurkan kawasan hilir dalam rentang waktu yang sangat singkat," tutur Daryono.
(*)