Helikopter Water Bombing Terkendala Angin Kencang Padamkan Api di Gunung Semeru
Haorrahman August 28, 2026 03:57 PM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Lumajang - Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lereng Gunung Semeru kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Lumajang, Jawa Timur, kembali menghadapi kendala. Helikopter water bombing yang dikerahkan untuk membantu pemadaman terpaksa dihentikan, Jumat (28/8/2026). Angin kencang membuat aktivitas penerbangan berisiko.

Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, Yudhi, mengatakan helikopter tersebut telah kembali ke Bandara Abdul Rachman Saleh, Kabupaten Malang.

Sebelum kembali ke bandara, helikopter sempat melakukan lima kali pengambilan air dari Danau Ranupani, Kecamatan Senduro, untuk membantu memadamkan api di Blok Ranu Kembang.

Baca juga: Helikopter Dikerahkan Padamkan Kebakaran Semeru Lumajang Belum

"Saat ini helkopternya sudah kembali ke bandara Abdul Rachman Saleh Malang karena kondisi angin sangat kencang. Sempat water booming mengambil air sebanyak lima kali," ujarnya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.

Menurut Yudhi, kondisi angin yang terlalu kencang di kawasan lereng Gunung Semeru membahayakan aktivitas penerbangan. Karena itu, setelah helikopter kembali ke bandara, proses pemadaman dilanjutkan secara manual oleh petugas di lapangan.

"Angin terlalu kencang di atas juga mengkhawatirkan di sana. Setelah helikopter kembali, upaya pemadaman dilakukan secara manual," kata Yudhi.

Baca juga: Kebakaran Jalur Pendakian Semeru Meluas, 170 Pendaki Ranu Kumbolo Dievakuasi

Medan Sulit

Selain faktor cuaca, kondisi medan menjadi tantangan lain dalam penanganan kebakaran di kawasan TNBTS.

Yudhi menjelaskan, titik api di Blok Ranu Kembang sulit dijangkau kendaraan karena kondisi jalur yang terjal. Petugas harus berjalan kaki untuk mencapai lokasi, termasuk menuju kawasan Ranu Kembang dan Ledok Bedor.

"Harus jalan kaki ke sana, ke Ranu Kembang dan Ledok Bedor," imbuhnya.

Hingga Jumat (28/8/2026), terdapat tiga titik kobaran api yang terpantau di jalur pendakian Gunung Semeru. Lokasi tersebut berada di Blok Ayek-ayek, Bukit Cinta, dan Watu Renjang, Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, Lumajang.

"Penanganan saat ini dilakukan di Ledok Bedor dan Bukit Cinta," katanya.

Jarak antara sumber air dan lokasi kebakaran juga menjadi persoalan dalam pemadaman menggunakan helikopter.

Baca juga: Kebakaran Gunung Raung di Banyuwangi Padam, Penyebab Belum Diketahui

Air untuk operasi water bombing diambil dari Danau Ranupani. Lokasi tersebut merupakan sumber air yang paling dekat dengan kawasan kebakaran, meski kondisi danau mengalami pendangkalan.

"Ketersediaan air, kondisi angin dan medan. Hal itu juga mempengaruhi proses pemadaman," bebernya.

Yudhi mengakui kondisi Danau Ranupani memang mengalami pendangkalan. Namun, danau tersebut masih dinilai dapat digunakan sebagai sumber air untuk operasi water bombing.

"Memang terjadi pendangkalan, cuma paket water booming itu sekali pengambilan 1.000 liter. Mungkin masih bisa memadai. Tapi memang titik pengambilan air paling dekat di situ (Danau Ranupani)," tuturnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.