Sinergi Pemda DIY, UGM dan Kagama Lewat 'Gerakan Tandur Muda', Jaga Regenerasi Petani di Gunungkidul
Muhammad Fatoni August 28, 2026 04:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tanah-tanah pertanian di pedesaan sering kali kehilangan pewarisnya saat tenaga-tenaga muda lebih memilih mengadu nasib ke riuhnya perkotaan.

Menjawab kecemasan akan putusnya rantai ketahanan pangan tersebut, "Gerakan Tandur Muda" diinisiasi oleh Pemda DIY, UGM dan Kagama untuk membangun sebuah ekosistem pertanian komprehensif di Gunungkidul yang memastikan bertani tak sekadar soal mencangkul tanah, tetapi juga menjamin kepastian pasar bagi anak-anak muda.

Dalam pelaksanaannya, program ini dirancang untuk memecahkan permasalahan klasik yang kerap membuat generasi muda enggan melirik sektor agrikultur. 

Para petani muda tidak sekadar dilepas ke lahan dengan pendampingan teknis semata, tetapi juga dibekali dengan program pelatihan khusus hingga mendapatkan sertifikasi profesi.

Lebih jauh lagi, guna memberikan rasa aman dan kepastian dalam mengembangkan skala usaha, Gerakan Tandur Muda menghadirkan jaminan pasar melalui keterlibatan offtaker (penjamin keterserapan hasil panen) yang dikolaborasikan langsung dari jejaring luas Keluarga Alumni UGM (Kagama).

Jaka Widada, perwakilan pelaksana program, memaparkan bahwa inisiatif penguatan ekonomi berbasis desa ini merupakan perwujudan langsung dari visi Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X.

Ia menekankan bahwa ketersediaan lahan pekerjaan yang mapan dan menjanjikan di desa adalah fondasi utama agar mata rantai regenerasi petani tidak terputus.

"Mudah-mudahan ini nanti kita terus bergilir dan juga menular ke yang lain, sehingga regenerasi petani itu juga bisa berhasil. Di samping itu, masyarakat dan ekonomi desa itu juga berkembang," urai Jaka yang juga merupakan Guru Besar dalam bidang mikrobiologi terapan UGM ini.

Lebih lanjut, Jaka menekankan visi besar di balik kolaborasi ini, yakni membalik arah perputaran ekonomi yang selama ini tersedot ke pusat kota. 

"Harapan Sri Sultan adalah ekonomi desa itu berkembang dari desa, bukan di kota, sehingga menghindarkan anak-anak muda itu pergi mencari pekerjaan di kota, tetapi di desa ekonominya berkembang," tegasnya.

Baca juga: Penanganan Karhutla Masih Jadi Tantangan, Guru Besar UGM Tekankan Pencegahan Berbasis Gotong Royong

Siapkan Payung Kelembagaan

Demi menjamin keberlanjutan dan kelancaran Gerakan Tandur Muda, Pemda DIY saat ini tengah merampungkan struktur pelaksanaan formal program tersebut.

Hal ini mencakup tata kelola pemanfaatan berbagai fasilitas milik daerah yang dapat menunjang aktivitas pertanian masyarakat.

Penyiapan payung kelembagaan ini menjadi sangat krusial agar alokasi pendanaan—baik yang bersumber dari anggaran reguler Pemda DIY maupun optimalisasi Dana Keistimewaan—dapat direalisasikan secara tepat sasaran dan dipertanggungjawabkan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Di sisi lain, kelembagaan akademis turut mengambil porsi tanggung jawab strategis.

Universitas Gadjah Mada (UGM) turun tangan secara langsung untuk bertindak sebagai pihak supervisor atas jalannya keseluruhan program.

Langkah pengawasan, evaluasi, dan pendampingan berbasis akademis ini diperlukan untuk memastikan target kemandirian ekonomi desa benar-benar dapat tercapai secara efektif dan berkesinambungan.

"Tugas universitas akan menjadi supervisi, bisa memastikan bahwa programnya berjalan dan sesuai rencana. Jadi memang kolaborasi yang sangat baik antara Pemda dan universitas," tambah Jaka menggarisbawahi sinergi tersebut.

Melalui payung kolaborasi Gerakan Tandur Muda, terbangun harapan baru bagi ekosistem pertanian yang berkelanjutan di DIY, terkhusus di bentang alam Gunungkidul.

Penguatan terintegrasi lintas sektor ini secara perlahan diarahkan untuk menjadikan desa sebagai motor penggerak ekonomi baru.

Pada akhirnya, bertani tak lagi dipandang sebelah mata, dan generasi muda memiliki kepastian untuk merajut masa depan yang sejahtera dari atas tanah kelahirannya sendiri. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.