Bambang Setiyawan Tewas dalam Kerusuhan Pejompongan, Kematiannya Viral di Medsos
Dwi Rizki August 28, 2026 04:35 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Bambang Setiyawan (59), warga Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, tak kunjung kembali ke rumah setelah keluar melihat situasi di sekitar tempatnya berjualan di Jalan Pejompongan Raya, Jumat (28/8/2026).

Kabar duka baru diketahui keluarganya beberapa jam kemudian. Anak Bambang mengenali ayahnya dalam sebuah video yang beredar di media sosial.

Bambang kemudian diketahui menjadi salah satu korban tewas dalam kericuhan yang terjadi pascaaksi unjuk rasa di kawasan tersebut.

Istri Bambang, Sudarsi (56), mengatakan suaminya masih berjualan cermin di pinggir Jalan Pejompongan Raya hingga sore hari.

Sekitar pukul 16.30 WIB, Sudarsi meminta Bambang menutup dagangannya setelah melihat jumlah massa mulai bertambah di sekitar lokasi.

"Saya lihat massa udah dari sana udah banyak, akhirnya saya bilang sama bapaknya, "Itu massa udah banyak," saya bilang tutup. Pas dia melihat, "Oh ya udah, tutup." Saya bantuinlah kan," ungkap Sudarsi di rumah duka, Jumat (28/8/2026).

Baca juga: Munjirin Tegur Pedagang Ikan Kramat Jati soal Limbah, Usai Pelajar Tewas di Jalan Licin

Setelah menutup sebagian dagangan, Bambang sempat mendapat permintaan untuk mengantar seseorang yang sedang sakit ke Rumah Sakit Pelni.

Bambang kemudian berangkat bersama anaknya menggunakan sepeda motor. Sekitar pukul 21.00-21.30 WIB, Bambang kembali ke rumah. Saat itu, menurut Sudarsi, massa di Jalan Pejompongan Raya sedang didorong masuk ke kawasan tersebut.

Setelah situasi dianggap aman, Bambang kembali keluar rumah menuju tokonya yang berada di pinggir jalan.

Sudarsi mengatakan dirinya tidak melarang Bambang keluar karena mengira suaminya hanya akan melihat situasi seperti yang biasa dilakukan ketika terjadi kericuhan.

"Saya berpikir karena ada anak saya, saya nggak ngegah kan. Saya biarin dia keluar karena alasan dia memang biasanya kalau ada kejadian ini kan nggak sekali ini aja, udah berkali-kali, udah sering lah. Dia tuh cuma nonton gitu kan, kadang-kadang ngebantu ngisikin air buat cuci muka. Pikir saya, ya udah lah ya kan," jelas dia.

Namun, hingga larut malam Bambang tidak kunjung pulang.

Sekitar pukul 01.30 WIB, Sudarsi masih berusaha mencari keberadaan suaminya. Ia mendatangi tempat teman-teman Bambang dan meminta mereka menyampaikan pesan agar Bambang segera pulang jika bertemu.

"Saya masih berharap ketemu kan. Ternyata saya ke situ nggak ada," kata Sudarsi.

Sudarsi kemudian pulang dan tidur sekitar 1,5 jam. Sekitar pukul 02.30 WIB, ia terbangun dan melihat pesan WhatsApp dari teman yang sebelumnya diantar Bambang ke RS Pelni. Teman tersebut menanyakan keberadaan Bambang.

Sekitar pukul 04.00 WIB, Sudarsi akhirnya mendapat kepastian bahwa suaminya telah meninggal dunia.

Kabar itu diketahui setelah anak Bambang mengenali sosok ayahnya dalam video yang beredar di media sosial.

"Justru kita tahunya dari video. Kita nggak ada yang lihat jelas nih posisi mayat ini, posisi dia dipukulin, posisi dia dibawa, kita nggak tahu," tutur dia.

Jenazah Bambang diketahui telah dibawa ke Rumah Sakit Polri. Kemudian, jenazah dibawa rumah duka di kawasan Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat dan sudah dimakamkan di TPU Kemanggisan, Jakarta Barat.

"Inginnya habis ini, Jumatan. Cuma tergantung nanti ininya aja, datangnya mayat. Ya paling lambat mungkin Ashar," tambah dia.

Sementara itu, Ketua RT tempat Bambang tinggal, Aban Sobandi, mengaku berada di lokasi ketika kericuhan terjadi.

Namun, Aban tidak dapat melihat secara jelas apa yang dialami Bambang lantaran pandangannya terhalang kerumunan.

"Saya lihat tapi kehalangan. Cuma (dengar) ada yang mati katanya, ada yang mati di situ," jelas dia.

Aban kemudian mengetahui lebih detail mengenai kejadian tersebut dari rekaman video yang dibuat salah seorang warganya.

"(Bambang) Digeret-geret," ucap dia.

Warga lainnya, Aditia, juga membenarkan bahwa Bambang sempat kembali ke depan tempatnya berjualan.

Menurut Aditia, Bambang datang untuk mematikan lampu di toko cermin miliknya sebelum kondisi di lokasi semakin ramai.

"(Pak Bambang) balik lagi ke depan untuk matiin lampu kaca. Terus dipukul mundur sama polisi, dipukul mundur sama polisi," kata dia.

Aditia juga menyebut Bambang sempat dipukuli. Menurut dia, kejadian tersebut terekam dalam video. (m27)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.