Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini
TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS — Kondisi AH, balita berusia 3 tahun 6 bulan asal Dusun Mekarjaya, Desa Kaso, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, mulai menunjukkan perkembangan positif setelah mendapatkan penanganan dari RSUD Ciamis.
Kepala Puskesmas Tambaksari, Asep Wahyudin, mengatakan, keberadaan Aef dengan kondisi berat badan rendah sebenarnya sudah terpantau sejak 2025.
Sejak saat itu, pihak puskesmas telah melakukan pemantauan secara berkala sekaligus memberikan intervensi berupa pemberian makanan tambahan (PMT).
"Sudah kita lakukan pemantauan dan juga pemberian makanan tambahan, terpantau terus sampai dengan sekarang," kata Asep saat ditemui di rumah orang tua AH, Jumat (28/8/2026).
Menurutnya, pada 2026 kondisi AH masuk dalam kategori gizi buruk, lantaran tidak menunjukkan peningkatan berat badan yang signifikan meski berbagai intervensi telah dilakukan.
Baca juga: Balita Gizi Buruk di Ciamis Mulai Aktif, Pemkab Tangani Kesehatan hingga Bansos
Baca juga: Pemerintah Kabupaten Ciamis Salurkan Bantuan Sosial untuk Balita Gizi Buruk
Puskesmas Tambaksari kemudian melakukan rujukan ke RSUD Ciamis untuk memastikan kondisi kesehatan AH secara menyeluruh.
AH pun menjalani pemeriksaan di RSUD Ciamis pada Rabu (26/8/2026). Dalam pemeriksaan tersebut, AH diperiksa oleh dokter spesialis anak.
Hasil pemeriksaan, kata Asep, tidak ditemukan penyakit penyerta maupun indikasi yang mengharuskan AH menjalani perawatan di rumah sakit.
"Alhamdulillah tidak ada penyakit penyerta, tidak ada indikasi untuk dirawat," ujarnya.
Kabar baik kembali terlihat setelah AH pulang dari rumah sakit. Dalam pemantauan terbaru, berat badan AH mengalami kenaikan.
Saat pertama kali dijemput untuk mendapatkan pemeriksaan, berat badan Aef tercatat sekitar 9,6 kg.
Setelah dua hari mendapatkan penanganan dan diberikan susu berat badannya naik menjadi sekitar 10 kg.
"Sudah ada kenaikan, sekarang jadi 10 kg. Jadi sudah dua hari sejak dari rumah sakit itu sudah ada peningkatan," ungkap Asep.
Untuk anak seusianya, Asep menyebut berat badan AH masih berada di bawah kisaran yang diharapkan.
Berat badan ideal untuk usia tersebut diperkirakan berada di kisaran 11 hingga 12 kg.
Karena itu, Puskesmas Tambaksari akan terus melakukan pemantauan dan intervensi agar berat badan AH dapat meningkat secara bertahap.
Dalam waktu dua pekan ke depan, AH juga dijadwalkan kembali menjalani pemeriksaan di rumah sakit untuk melihat perkembangan kondisi dan berat badannya.
"Mudah-mudahan dua minggu ke depan pada waktu dicek lagi ke rumah sakit sudah ada lagi peningkatan berat badannya," kata Asep.
Asep menegaskan, kondisi yang dialami AH bukan stunting. Permasalahan utama yang ditemukan saat ini adalah berat badan yang rendah atau kekurangan gizi.
"Ini masuknya kurang gizi. Karena memang tidak ada kenaikan berat badan, kurang berat badannya seperti itu," jelasnya.
Menurut Asep, secara umum kondisi AH justru terlihat sehat dan aktif. Tidak ditemukan riwayat penyakit berat yang dapat secara langsung menjelaskan kondisi berat badannya.
Selain itu, perkembangan komunikasi AH juga dinilai normal. AH dapat berbicara dan berinteraksi seperti balita seusianya.
"Balitanya normal, bicaranya normal, tidak ada kelainan," ujarnya.
Asep mengatakan, AH juga tercatat rutin mendapatkan pelayanan di posyandu dan memiliki riwayat imunisasi yang normal.
Selama ini, ketika berkunjung ke puskesmas, keluhan kesehatan yang dialami AH juga tergolong umum, seperti batuk dan pilek.
"Kalaupun berkunjung ke puskesmas, paling keluhannya batuk pilek. Seperti balita yang lainnya," katanya.
Puskesmas Tambaksari memastikan penanganan terhadap AH tidak berhenti setelah pemeriksaan di rumah sakit.
Pemberian PMT akan terus dilakukan, termasuk dukungan makanan dan susu yang sebelumnya telah diberikan kepada AH.
Selain dari puskesmas, bantuan juga telah diberikan pemerintah desa, termasuk susu. AH juga mendapatkan makanan bergizi melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Asep mengatakan, pihaknya akan terus memantau perkembangan AH. Jika nantinya masih membutuhkan penanganan lanjutan di rumah sakit, puskesmas siap melakukan rujukan dan mengawal proses pengobatannya.
"Kita pantau terus, pemberian PMT terus kita lakukan. Kalau misalkan masih memerlukan rujukan, kita tetap kawal," tegas Asep.
Pihak puskesmas berharap intervensi yang dilakukan secara berkelanjutan dapat membuat berat badan AH terus meningkat hingga mencapai kondisi yang sesuai dengan standar pertumbuhan anak seusianya.(*)