Gaji di Jepang Tembus Rp23 Juta, Ria Tinggalkan Indonesia dan Pilih Kerja di Pabrik Katsuobushi
M Zulkodri August 28, 2026 05:24 PM

 

BANGKAPOS.COM--Perbedaan penghasilan menjadi salah satu alasan Ria, perempuan asal Indonesia berusia 23 tahun, memilih meninggalkan keluarga dan bekerja di Jepang.

 Jika di daerah asalnya penghasilan yang diterima hanya sekitar Rp2,2 juta hingga Rp3,3 juta per bulan, pendapatannya di Jepang disebut bisa mencapai sekitar Rp15,5 juta hingga Rp23,3 juta.

Ria kini bekerja di sebuah perusahaan produsen katsuobushi, olahan ikan cakalang kering, di Kota Ibusuki, Prefektur Kagoshima, Jepang.

Ia telah bekerja di Jepang selama sekitar tiga tahun.

Aktivitasnya dimulai sejak pagi, bahkan sekitar pukul 06.00 waktu setempat, dengan pekerjaan utama memotong ikan cakalang menggunakan pisau.

Salah satu pekerjaan yang dilakukannya adalah namagiri, yakni membuat sayatan pada ikan cakalang yang telah dicairkan.

Pekerjaan ini membutuhkan ketelitian karena sudut, kedalaman, panjang sayatan hingga kecepatan pemotongan harus dilakukan dengan tepat.

“Sebelumnya saya tidak tahu pekerjaan seperti apa yang akan dilakukan. Ketika pertama kali melihatnya, saya terkejut. Saya juga baru pertama kali menggunakan pisau sehingga tangan saya langsung terluka,” kata Ria.

Gaji Jadi Alasan Utama Bekerja di Jepang

Baca juga: Meta Sepakat Bayar Rp321 Triliun, Facebook dan Instagram Bakal Batasi Waktu Main Remaja

Ria mengatakan keputusan bekerja di Jepang tidak lepas dari perbedaan penghasilan yang cukup besar.

Di daerah asalnya di Indonesia, ia menyebut penghasilan bulanan hanya berada di kisaran 20.000 hingga 30.000 yen.

Dengan asumsi 1 yen sekitar Rp111, jumlah tersebut setara sekitar Rp2,22 juta hingga Rp3,33 juta.

Sementara itu, penghasilannya di Jepang disebut mencapai sekitar tujuh kali lipat.

Dengan perbedaan tersebut, pendapatan Ria di Jepang berada di kisaran Rp15 juta hingga lebih dari Rp23 juta per bulan, tergantung besaran pendapatan yang menjadi pembanding.

“Di Indonesia memang ada pekerjaan, tetapi menurut saya gajinya agak rendah,” ujar Ria.

Namun, pendapatan yang lebih tinggi harus dibayar dengan tantangan yang tidak sedikit.

Ketika pertama kali datang, Ria mengalami kendala komunikasi karena harus bekerja bersama pekerja asing dari Vietnam dan negara lainnya.

Ia juga harus beradaptasi dengan lingkungan kerja dan pekerjaan yang sebelumnya belum pernah dilakukan.

Perusahaan Jepang Andalkan Pekerja Asing

Baca juga: Warga Butuh Internet, Yogi Malah Dipenjara, Langkah Polisi di Mentawai Dipertanyakan

Perusahaan tempat Ria bekerja telah menerima pekerja asing selama lebih dari dua dekade.

Dari total 37 karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut, 17 di antaranya merupakan warga negara asing.

Presiden Kaneninishi, Yusei Nishi, mengatakan pekerja asing kini menjadi bagian penting dalam kegiatan produksi perusahaan.

“Bagi perusahaan, mereka tentu merupakan tenaga inti. Kami memproduksi katsuobushi dengan menjadikan para pekerja asing sebagai poros utama,” katanya.

Secara keseluruhan, perusahaan tersebut disebut telah menerima sekitar 60 pekerja asing.

Meski demikian, mempertahankan pekerja asing bukan perkara mudah.

Para pekerja memiliki banyak pilihan pekerjaan lain di Jepang yang mungkin menawarkan kondisi lebih menarik.

Menurut Nishi, ketertarikan terhadap ikan maupun proses produksi katsuobushi menjadi salah satu faktor yang dapat membuat pekerja bertahan lebih lama.

Kontrak Berakhir, Ria Siapkan Langkah Baru

Masa kontrak kerja Ria di Kagoshima akan berakhir pada Oktober 2026.

Setelah kontraknya selesai, ia berencana pindah ke sebuah pabrik pengolahan makanan di Prefektur Kanagawa.

Pekerjaan baru tersebut menawarkan gaji yang lebih tinggi sekaligus kesempatan tinggal di kawasan perkotaan.

Meski akan meninggalkan Kagoshima, pengalaman tiga tahun bekerja di industri katsuobushi membuat Ria mulai memiliki keterikatan dengan pekerjaannya.

“Apakah di Kanagawa juga ada katsuobushi?” ujarnya sambil tertawa.

Pekerja Asing di Kagoshima Makin Dibutuhkan

Kisah Ria terjadi ketika kebutuhan terhadap pekerja asing di Kagoshima terus meningkat.

Jumlah pekerja asing di Prefektur Kagoshima tercatat sekitar 16.000 orang pada akhir Oktober 2025. Angka tersebut meningkat sekitar empat kali lipat dalam kurun waktu 10 tahun.

Biro Tenaga Kerja Kagoshima mencatat sektor manufaktur menjadi salah satu bidang yang paling banyak menyerap pekerja asing, terutama industri pengolahan makanan.

Kebutuhan tersebut berkaitan erat dengan persoalan kekurangan tenaga kerja yang semakin serius di wilayah tersebut.

Populasi Kagoshima juga terus mengalami penyusutan. Data perkiraan penduduk yang diumumkan pada akhir Juli 2026 menunjukkan jumlah penduduk prefektur tersebut turun di bawah 1,5 juta jiwa untuk pertama kalinya dalam 101 tahun.

Pelajar Asing Juga Bertambah

Bukan hanya pekerja, jumlah pelajar asing di Kagoshima juga mengalami peningkatan.

Sekolah Kejuruan Informasi, Bisnis, dan Pelayanan Publik Kagoshima kini memiliki 392 pelajar asing, jumlah tertinggi sepanjang sejarah sekolah tersebut.

Para pelajar tersebut terutama berasal dari Nepal, Vietnam dan sejumlah negara Asia lainnya.

Hampir separuh lulusan dilaporkan memilih tetap tinggal dan bekerja di Kagoshima setelah menyelesaikan pendidikan.

Kondisi tersebut menunjukkan semakin besarnya peran warga asing dalam menopang kebutuhan tenaga kerja di wilayah Jepang yang menghadapi penurunan populasi.

Bagi Ria, keputusan bekerja di Jepang bukan hanya soal mendapatkan penghasilan lebih tinggi.

Tiga tahun bekerja di Kagoshima memberinya pengalaman baru, keterampilan, serta kesempatan untuk merencanakan langkah berikutnya.

Kini, ketika kontraknya hampir berakhir, Ria bersiap memulai babak baru di Kanagawa dengan harapan memperoleh penghasilan lebih tinggi dan kehidupan yang berbeda di kawasan perkotaan Jepang.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.