Dua Dusun Korban Gempa di Aesesa Nagekeo Krisis Air Bersih, Sumber Mata Air Berubah Cokelat
Nofri Fuka August 28, 2026 07:47 PM

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Charles Abar

TRIBUNFLORES.COM, MBAY - Gempa bumi yang mengguncang Pulau Flores pada Sabtu (15/8/2026) tidak hanya menyebabkan kerusakan bangunan, tetapi juga mengganggu sumber air bersih warga di Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

Warga di Dusun 4 Desa Oloia dan Desa Persiapan Olaia Tengah kini mengalami kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Sumber mata air yang selama ini menjadi andalan warga mengalami perubahan kualitas setelah gempa.

Air yang keluar dari sumber tersebut terlihat keruh dan kecokelatan serta bercampur noda berwarna putih.

 

Baca juga: Tuntaskan PKL di Kantah Sikka, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Nusa Nipa Resmi Ditarik

 

 

Kondisi tersebut membuat warga khawatir mengonsumsi air karena belum diketahui apakah perubahan warna itu berkaitan dengan material berbahaya yang terbawa dari dalam tanah akibat gempa.

Siprianus Sawu, warga Dusun 4, mengatakan kondisi air sebelum gempa tidak seperti sekarang.

Menurutnya, setelah gempa, air yang biasanya digunakan warga berubah warna menjadi kecokelatan dan bercampur noda putih.

“Pasca gempa itu kami melihat air ini berubah warna, bercampur kuning dan putih-putih. Selama ini air tidak begini. Saya langsung sampaikan kepada masyarakat untuk jangan dikonsumsi karena kita tidak tahu apakah ada zat berbahaya,” ujar Siprianus.

Ia mengatakan warga memilih berhati-hati dan tidak menggunakan air tersebut untuk kebutuhan konsumsi.

Kondisi itu pun membuat warga semakin kesulitan memenuhi kebutuhan rumah tangga, terutama untuk memasak, mencuci, dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

Ibu rumah tangga, Verasia Bala, mengatakan keterbatasan air bersih sangat dirasakan warga setelah gempa.

Selain persoalan air, warga juga masih menghadapi keterbatasan tempat tinggal karena sebagian harus bertahan di tenda darurat yang dibuat secara swadaya.

“Sampai saat ini kami belum ada bantuan dari pemerintah. Kami buat tenda darurat seadanya. Anak-anak harus tidur di tenda sederhana dengan beralaskan terpal. Kami hanya dapat beras dua kilogram, Pop Mie satu bungkus dan telur dua biji,” ungkap Verasia.

Menurut Verasia, kondisi tersebut membuat kebutuhan dasar warga pascagempa semakin berat untuk dipenuhi.

Dapat Bantuan 10 Tangki Air Bersih

Kondisi warga di dua dusun tersebut mendapat perhatian dari Anggota DPRD Provinsi NTT, Kristo Loko.

Setelah menerima informasi mengenai kesulitan air bersih yang dialami warga, Kristo Loko menyalurkan bantuan darurat berupa 10 tangki air minum bersih.

Bantuan tersebut akan didistribusikan kepada warga di dua dusun yang terdampak krisis air bersih.

Kristo mengatakan bantuan tersebut hanya menjadi solusi sementara. Menurutnya, diperlukan langkah jangka panjang untuk memastikan warga kembali mendapatkan sumber air yang aman.

“Ini bencana geologis yang memengaruhi kualitas sumber air, berkeruh, berubah warna menjadi cokelat dan bercampur lumpur. Itu yang membuat masyarakat setelah gempa merasa takut untuk mengonsumsi. Jangan sampai mengandung racun dan lain-lain,” ujar Kristo Loko.

Ketua Fraksi Amanat Sejahtera DPRD Provinsi NTT itu mengatakan keraguan warga terhadap kualitas air menjadi alasan utama perlunya bantuan air bersih.

“Hari ini saya membantu bapak dan mama di sini dengan keterbatasan yang saya alami, terkait ketersediaan air minum bersih. Tapi ini bantuan sesaat saja,” katanya.

Kristo juga mendorong pemerintah segera menurunkan tim untuk mengambil sampel dan melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap sumber mata air yang terdampak.

Menurutnya, pemeriksaan tersebut penting untuk memberikan kepastian kepada masyarakat mengenai keamanan air.

“Harus beri keyakinan kepada masyarakat apakah air ini bisa dikonsumsi atau mengandung racun dan membuat tidak sehat jika dikonsumsi,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah tidak hanya mengandalkan sumber mata air yang saat ini mengalami perubahan kualitas.

Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan, kata dia, adalah mencari sumber air alternatif seperti pembangunan sumur bor.

Selain persoalan air bersih, Kristo juga menyerap aspirasi warga terkait pendataan kerusakan rumah pascagempa.

Ia mengaku mendapat informasi dari masyarakat bahwa proses verifikasi kerusakan rumah belum menjangkau seluruh rumah warga secara langsung.

“Saya dapat masukan banyak dari masyarakat bahwa petugas memverifikasi dari jauh, tidak mendatangi langsung rumah korban. Petugas harus datang on the spot agar tahu persis kerusakan, baik berat maupun ringan,” tambah Kristo Loko.

Warga berharap pemerintah segera memastikan kondisi sumber mata air tersebut melalui pemeriksaan laboratorium sekaligus menyediakan sumber air alternatif selama air yang biasa mereka gunakan belum dinyatakan aman untuk dikonsumsi. (cha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.