TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Aksi unjuk rasa mahasiswa Aliansi Unismuh Satu di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, diwarnai kericuhan dengan aparat kepolisian, Jumat (28/6/2026) sore.
Mulanya unjuk rasa di pertigaan Jl Sultan Alauddin-Jl AP Pettarani, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, ini berjalan kondusif.
Mahasiswa tiba lokasi setelah berjalan kaki sejauh satu kilometer dari Kampus Unismuh yang juga berlokasi di Jl Sultan Alauddin.
Setiba di lokasi, sekitar pukul 15.43 Wita, massa aksi silih berganti berorasi menyampaikan aspirasi.
Mereka tidak menutup full seluruh badan jalan dan tidak membakar ban meski ada dua ban mobil yang dibawa.
Aksi tertib untuk tidak membakar ban itu, memang sudah menjadi imbauan polisi sebelumnya.
Sejumlah polisi juga mengawal jalannya unjuk rasa sembari mengurai kepadatan arus kendaraan.
Tak hanya polisi berseragam dinas dari Polsek Tamalate, ada juga sejumlah polisi lainnya yang tidak mengenakan pakaian dinas.
Sekitar pukul 16.30 Wita, satu persatu polisi berseragam dinas tak lagi berada di sekeliling massa aksi.
Sahut-sahutan klakson kendaraan yang terjebak macet kian nyaring.
Kondisi itu diperparah saat ada ambulans yang melintas di lokasi aksi.
Beberapa mahasiswa pun harus mengurai kemacetan demi meloloskan ambulans yang membunyikan sirine.
Memasuki pukul 17.30 Wita, situasi kondusif mulai berubah tegang.
Spanduk yang sebelumnya diletakkan di aspal, dibawa dua mahasiswa ke atas mobil dinas Polsek Tamalate.
Mobil dinas jenis sedan Mazda itu terparkir di sisi Selatan Pos Lalu Lintas Pettarani.
Dua ban yang sebelumnya tak dibakar, juga diletakkan tak jauh dari mobil dinas itu.
Botol mineral berisi bensin seketika disiram ke ban oleh mahasiswa.
Kertas putih kemudian dibakar dan dibuang ke ban yang telah dilumuri bensin.
Nyala api berkobar, situasi perlahan tegang.
Kapolsek Tamalate Kompol Idris dan sejumlah anggotanya yang berseragam dinas menghampiri.
Orang nomor satu di Polsek Tamalate itu, menurunkan spanduk yang menutupi kaca belakang mobil dinas yang kerap digunakan berpatroli itu.
"Jangan begitu, dari tadi saya sudah sabar ya hadapi kamu," ucap Kompol Idris ke mahasiswa yang mendekatinya seusai menurunkan spanduk dari mobil dinas.
"Masalahnya pak, dari tadi pihak kepolisian ngopi-ngopi di situ, ada videonya di sini," ucap mahasiswa menimpali sembari menunjuk ke arah warung kopi di sisi Selatan pertigaan Jl Sultan Alauddin-AP Pettarani.
Saat adu mulut terjadi, Kompol Idris juga mengungkap bahwa ia dan jajarannya sudah mengawal aksi unjuk rasa itu sejak dari awal.
"Dari tadi saya disini," ucap Kompol Idris kembali memberikan penjelasan ihwal tudingan mahasiswa yang menuduh ia asik ngopi saat aksi unjuk rasa masih berlangsung.
Dalam ketegangan perdebatan itu, salah satu mahasiswa juga menunjukkan rekaman di kamera ponselnya terkait polisi yang diduga asik minum kopi di dalam warkop saat unjuk rasa masih berlangsung.
Saat kapolsek tengah berdiskusi dengan mahasiswa, seorang polisi berseragam dinas di sisi selatan, juga terlibat keributan dengan salah satu pendemo.
Keributan dipicu aksi seorang polisi yang berusaha menendang ban yang terbakar ke tepi jalan.
Beruntung situasi ricuh itu tak berlangsung lama karena sigap dilerai oleh polisi lain dan mahasiswa lainnya.
Namun, tak berselang lama, ketegangan juga terjadi di sisi utara lokasi aksi.
Seorang polisi berpakaian preman adu mulut hingga saling tarik menarik
Situasi itu, juga tak berlanjut lantaran teman dari kedua bela pihak masing sigap menenangkan diri.
Di tengah ketegangan yang terjadi, Presiden Mahasiswa Unismuh, Andi Rama Ramadhan, mengambil alih kendali pengeras suara.
Ia kemudian berorasi dan menyoroti sikap personel kepolisian khususnya yang berseragam dinas.
Menurutnya, keberadaan polisi berseragam dinas di lokasi aksi untuk mengamankan jalannya unjuk rasa tak dilaksanakan hingga aksi usai.
Akibatnya, kemacetan terjadi bahkan beberapa ambulans kesulitan melewati titik aksi karena terjebak macet.
Kondisi itu, memaksa mahasiswa turun tangan membuka jalur untuk ambulans yang hendak melintas.
"Pada saat kita melewatkan beberapa ambulans, mereka (polisi berseragam dinas) hanya sibuk minum-minum kopi," ucap Andi Rama Ramadhan disahuti kata "betul" oleh massa aksi.
Setelah situasi kembali kondusif, Andi Rama Ramadhan pun, membacakan pernyataan sikap massa aksi yang dipimpinnya.
Ada enam poin tuntutan yang disuarakan:
Pertama, kembalikan anggaran pendidikan dan kesehatan.
Kedua, bebaskan ruang sipil dari pengekangan ketat aparat.
Ketiga, sahkan RUU Perampasan Aset.
Keempat, Reformasi birokrasi.
Lima, Stop pemborosan APBN.
Keenam, stop MBG, Kopdes dan evaluasi total progam strategis negara (nasional).
Menutup orasi pernyataan sikapnya, Andi Rama Ramadhan pun kembali menyoroti pengaman unjuk rasa oleh kepolisian.
"Pada hari ini, kita ketahui bersama teman-teman bahwasanya, ketika banyak mobil ambulans ingin melalulintas, tetapi aparat hanya sibuk untuk kemudian minum kopi," ungkapnya.
Setelah, itu massa aksi pun sepakat bubar dan kembali long march ke kampus mereka.
Sebelum beranjak, massa pendemo tak lupa memunguti sampah gelas air mineral dan sampah lainnya untuk dibakar di ban yang masih berkobar.(*)