Tribunlampung.co.id, Lampung Timur - Kebakaran hutan dan lahan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) ternyata tidak hanya mengancam ekosistem dan keberlangsungan hidup satwa endemik. Namun, juga berdampak buruk bagi warga desa penyangga yang hidup berdampingan dengan kawasan TNWK.
Baca juga: Balai TNWK Intensifkan Pemantauan untuk Cegah Kebakaran Hutan Susulan
Hal itu diungkap Kepala Braja Kencana, Heru Setiawin menyikapi terkait peristiwa kebakaran yang menghanguskan ratusan hektare lahan TNWK.
Oleh karena itu, Heru menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Polda Lampung mengusut tuntas dugaan faktor kesengajaan di balik insiden kebakaran hutan dan lahan di TNWK.
Meskipun sejauh ini belum ada pembuktian pasti dan tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah, Heru tidak menampik adanya potensi aksi oknum pemburu liar.
"Praktik ekstrem seperti sengaja membakar savana kerap dilakukan oknum untuk memancing satwa bernilai ekonomi tinggi, seperti rusa, keluar dari kawasan hutan sehingga lebih mudah dieksekusi,"
"Sebagai bentuk dukungan nyata pascakejadian, warga desa penyangga kini terlibat langsung dalam pemantauan dan pengawasan di areal perbatasan," kata Heru, Jumat (28/8/2026).
Bahkan, kata Heru, warga juga bersiap melaporkan ke pihak berwajib jika menemukan pergerakan atau orang-orang mencurigakan yang memasuki kawasan perbatasan TNWK.
Kapolda Lampung Irjen Pol Helfi Assegaf menyampaikan, kepolisian menduga kuat kebakaran ratusan hektare lahan tersebut bukan semata-mata dipicu oleh faktor alam, melainkan ada kesengajaan dari oknum pemburu liar.
Polisi menduga pembakaran dilakukan agar memicu tumbuhnya rumput hijau baru yang akan menarik perhatian satwa herbivora, sehingga memudahkan aksi perburuan liar untuk diambil dagingnya.
Saat ini, kata Kapolda, jajaran kepolisian Polda Lampung terus mengumpulkan bukti-bukti di lapangan guna menguji dugaan tersebut dan menangkap para pelaku.
"Kepolisian mengimbau masyarakat untuk menghentikan kebiasaan lama membakar savana demi kepentingan pribadi, karena tindakan tersebut membahayakan satwa endemik sekaligus melanggar undang-undang konservasi sumber daya alam," katanya.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Kabupaten Lampung Timur selama sepekan akhirnya resmi dinyatakan padam penuh pada Jumat (28/8/2026) pukul 18.42 WIB.
Hal ini menyikapi adanya deteksi dua titik panas (hotspot) baru pada Kamis (27/8/2026) di Resort Rantau Jaya dan Resort Toto Projo.
Kepala Balai TNWK, MHD Zaidi, mengonfirmasi kabar tersebut sekaligus mengapresiasi kerja keras seluruh tim pemadam di lapangan. "Alhamdulillah padam jam 18.42 WIB, itu laporan dari lapangan," ujar Zaidi, Jumat (28/8/2026).
Zaidi mengatakan, laporan resmi dari Balai TNWK mencatat perkiraan total luasan area yang terbakar selama sepekan di wilayah utara, memanjang dari Grid kerja TNWK 21I hingga 21L, mencapai 912,49 hektar.
Dia menyebut, penanganan kebakaran pada dua titik hotspot baru yakni di Resort Rantau Jaya yang terpantau pada pagi hari dan titik api di Resort Toto Projo yang berbatasan dengan Susukan Baru, Resort Rantau Jaya 2 hingga 3 hektar, dan di Resort Toto Projo langsung ditindaklanjuti dengan operasi water bombing dan penanganan kebakaran metode darat oleh tim.
Zaidi mengatakan, karakteristik lokasi yang didominasi tanah mineral dengan tutupan vegetasi alang-alang, semak belukar, serta serasah tebal membuat material bawah sangat kering dan rentan memicu perambatan api cepat.
Meski merusak ekosistem, Zaidi memastikan tidak ada satwa prioritas yang menjadi korban.
"Kebakaran ini mengganggu ekosistem. Namun sejauh ini, tim gabungan di lapangan tidak menemukan adanya satwa yang terbakar secara langsung. Langkah selanjutnya setelah pemadaman tuntas akan kita fokuskan pada pembinaan habitat dan pemulihan ekosistem secara berkesinambungan," tegasnya.
Zaidi mengatakan, penanganan kebakaran ini melibatkan BPBD, BNPB, TNI, Polri, masyarakat lokal, KTH, Karang Taruna, Pramuka, hingga pemerintah daerah.
Selain itu, kata dia, operasi pemadaman diperkuat oleh helikopter water bombing dan program Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dari BPBD.
Sebelumnya, dukungan taktis juga diterjunkan oleh TNI.
Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XXI/Radin Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, menerjunkan 40 personel Tim Alfa dengan kemampuan freefall dan fast ropping untuk menembus titik-titik api yang terisolasi.
Pengerahan pasukan khusus tersebut didukung oleh pemataan drone thermal untuk mendeteksi bara api di bawah permukaan tanah, serta penggunaan drone semprot berkapasitas 16 hingga 100 liter.
Rangkaian aksi taktis ini berhasil melokalisasi pergerakan api dari akumulasi kebakaran sebelumnya, seperti 673 hektar di Desa Braja Harjosari (21–22 Agustus) serta 123 hektar di Braja Kencana dan Braja Luhur (23–24 Agustus), sehingga tidak menyebar ke habitat inti gajah dan badak sumatra.
"Sesuai instruksi Presiden dan Panglima TNI, kita menerjunkan 40 personel Tim Alfa ke lokasi-lokasi sulit yang masih menyisakan hotspot," jelas Mayjen TNI Kristomei Sianturi.
( Tribunlampung.co.id / Fajar Ihwani Sidiq )