Sosok Bambang Setiyawan Meninggal saat Demo 27 Agustus, Penuh Luka, Terekam Diseret dan Dipukuli
Rusaidah August 29, 2026 10:03 AM

 

BANGKAPOS.COM - Bambang Setiyawan (59), warga Bendungan Hilir disebut meninggal dunia saat kericuhan di Jalan Pejompongan Raya, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2026) malam.

Ketua RT 002/06 Jalan Pejompongan, Kelurahan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Aban Sobandi, mengatakan Bambang merupakan warganya yang menjadi korban dalam kericuhan tersebut.

Kericuhan terjadi di sejumlah titik di Jakarta Pusat setelah massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) menggelar demonstrasi di depan Gedung DPR RI, beraudiensi dengan pimpinan DPR RI, lalu membubarkan diri.

Dalam aksi tersebut, AMPB menuntut pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset serta hukuman mati bagi pelaku tindak pidana korupsi.

Kronologi Bambang Setiyawan Jadi Korban Demo 27 Agustus

Yoga Noval (29), putra almarhum mengungkapkan bahwa ayahnya sempat membantu mengantar tetangga yang sedang sakit ke rumah sakit, sebelum akhirnya menjadi korban dan meninggal dunia dalam kericuhan demonstrasi di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2026) malam.

Mulanya Yoga menceritakan ada tetangga yang mencari ayahnya. 

Tetangga itu sedang sakit dan minta ditemani ke rumah sakit karena dari sebelumnya sudah lemas.

"Saya, bapak, dan tetangga itu bertiga. Saya antar ke rumah sakit Pelni," ucap Yoga.

Baca juga: Terkuak Profesi Andre Pemilik 16,4 Kilogram Sabu dan 4.980 Butir Ekstasi yang Ditangkap Polda Babel

Kemudian dikatakan Yoga, sesampainya di rumah sakit, dirinya pulang lebih dahulu ke rumah.

"Saya bilang ke bapak, kalau mau pulang nanti kabarin saja nanti dijemput. Tetapi bapak pulang jalan kaki karena katanya tidak ada angkot," ucapnya.

Setibanya di rumah sekitar pukul 22.00 WIB, ayah Yoga sempat bertemu istinya Sudarsih, kemudian keluar rumah lagi.

"Bapak sudah ganti baju kemudian keluar katanya mau ke rumah sakit Pelni lagi," imbuhnya.

Setelah itu sekitar jam 10 malam, dikatakannya ada kejadian seorang anak bernam Fatur ditangkap oleh massa aksi. 

Ayahnya sempat mundur dan masuk lagi ke rumah dalam keadaan aman.

Namun Yoga mengatakan ayahnya kembali keluar, karena ingin menghidupkan lampu di toko kaca miliknya.

"Lalu terdengar teriakan ada yang mari dua (orang). Saya bersama teman kemudian ke depan untuk mengecek, saya lihat ada darah," terangnya.

Setelah itu, Yoga mengatakan dirinya dan keluarga mencari keberadaan ayahnya.

Yoga bersama kakak laki-lakinya mencari informasi ayahnya di rumah sakit di Jakarta.

"Sekitar pukul 4 pagi, abang saya mengirim video. Dia bilang, 'Coba lihat, ini bapak bukan?' Saya lihat videonya. Awalnya masih ragu, tetapi setelah saya pause dan lihat wajahnya, ternyata memang bapak," ucap Yoga.

Baca juga: Dijanji Bayar Rp7,5 Juta per Kilo, Terungkap Alasan Andre Nekat Edar Ribuan Ekstasi dan Sabu

Yoga kemudian mengatakan jasad ayahnya berada di Rumah Sakit TNI Angkatan Laut Dr. Mintohardjo, Jakarta Pusat, selanjutnya dipindahkan ke RS Polri Jakarta Timur.

Lalu ia mengabarkan informasi tersebut ke kakanya dan ibunya. Yoga mengatakan jasad ayahnya penuh luka.

"Sesampainya di rumah saya langsung teriak 'Mama, Bapak udah nggak ada,'" tandas Yoga.

Bambang Masih Berjualan hingga Sore

Bambang sehari-hari berjualan cermin di pinggir Jalan Pejompongan Raya.

Istrinya, Sudarsi (56), mengatakan Bambang masih berjualan hingga sekitar pukul 16.30 WIB. 

Ia kemudian meminta suaminya menutup dagangan setelah melihat massa mulai ramai.

"Saya lihat massa udah dari sana udah banyak, akhirnya saya bilang sama bapaknya, 'Itu massa udah banyak', saya bilang tutup. Pas dia melihat, 'Oh ya udah, tutup'. Saya bantuinlah," ujar Sudarsi saat ditemui di rumah duka, Jumat (28/8/2026).

DEMO RICUH - Yoga Noval (29), putra almarhum Bambang Setiyawan (59) saat ditemui di rumahnya, Pejompongan, Jakarta Pusat, Jumat (28/8/2026). Bambang meninggal akibat kericuhan setelah demo di DPR. 
DEMO RICUH - Yoga Noval (29), putra almarhum Bambang Setiyawan (59) saat ditemui di rumahnya, Pejompongan, Jakarta Pusat, Jumat (28/8/2026). Bambang meninggal akibat kericuhan setelah demo di DPR.  (Tribunnews.com/Rahmat Fajar Nugraha)

Setelah itu, Bambang mengantar seseorang yang sakit ke Rumah Sakit Pelni bersama anaknya. 

Ia kembali ke rumah sekitar pukul 21.00-21.30 WIB.

Setelah situasi dinilai aman, Bambang kembali keluar menuju tokonya di lokasi kericuhan. 

Namun, ia tak kunjung pulang.

Sekitar pukul 04.00 WIB, keluarga mengetahui Bambang meninggal setelah anaknya mengenali sang ayah dalam video yang beredar di media sosial.

Bambang Disebeut Terekam Diseret dan Dipukuli

Dalam video yang diperlihatkan kepada Kompas.com, tampak sejumlah pria membawa kayu. 

Seorang pria terlihat diseret dan dipukuli sekelompok pria.

Sudarsi mengatakan keluarga tidak melihat langsung kejadian tersebut.

"Justru kita tahunya dari video. Kita enggak ada yang lihat jelas nih posisi mayat ini, posisi dia dipukulin, posisi dia dibawa, kita nggak tahu," tuturnya.

Baca juga: Pelapor Ruben Onsu Buka Suara, Disebut Pernah Kirim Cek Kosong Rp4 M, Awal Kasus Penipuan Investasi

Jenazah Bambang kemudian dibawa ke Rumah Sakit Polri sebelum menuju rumah duka di Bendungan Hilir. 

Bambang rencananya dimakamkan di TPU Kemanggisan.

Ketua RT 002/06 Jalan Pejompongan, Kelurahan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Aban Sobandi mengaku berada di lokasi saat kericuhan, tetapi tidak melihat langsung kejadian yang dialami Bambang karena pandangannya terhalang kerumunan.

Ia kemudian meminta keterangan dari tetangga Bambang yang merekam video tersebut. Menurut keterangan yang diterimanya, Bambang diseret dan dianiaya sekelompok pria.

"(Bambang) Digeret-geret," ucap Aban.

Kericuhan di Pejompongan

Aban mengatakan kericuhan di Pejompongan terjadi setelah aksi demonstrasi di depan Gedung DPR RI selesai. 

Menurut dia, massa kemudian masuk ke kawasan permukiman dan terlibat kericuhan dengan warga.

"Memakan korban jiwa, satu orang. (Akibat penyusup) Berkelakuan seperti binatang," kata Aban kepada Tribunnews, Jumat (28/8/2026).

Aban mengatakan penanganan aksi demonstrasi kali ini berbeda dibandingkan sebelumnya. 

Ia menyebut ada pihak yang tidak dikenal dan menilai warga seperti diadu domba.

"Memang penanganan demo saat ini berbeda dengan sebelumnya. Jadi, yang turun itu orang-orang (tidak diketahui) seperti (warga) diadu domba," ujarnya.

Menurut Aban, kericuhan terjadi ketika massa yang disebutnya datang seperti anak-anak pelajar memasuki kawasan tersebut.

"Datang kayak anak-anak pelajar, kemudian datang penyusup. Jadi kita berperang antara pendemo dengan warga. Maka timbullah yang jadi korban itu warga, bukan pendemo lagi," jelasnya.

Lansia dan Balita Diungsikan

Sebelum kericuhan, Aban mengatakan warga telah mengamankan kelompok rentan.

Lansia dan warga yang memiliki balita diungsikan ke rumah saudara yang berada jauh dari lokasi. 

Baca juga: Harga BBM Hari Ini 29 Agustus 2026 di SPBU: Cek Pertalite, Pertamax, Dexlite di Seluruh Provinsi

Sementara Aban dan warga lainnya tetap berjaga di rumah masing-masing.

"Kalau yang lansia memang saya ungsikan. Lansia atau yang punya balita saya ungsiin ke rumah saudaranya yang jauh," imbuhnya.

Berdasarkan informasi dari Ketua RW dan warga, Aban juga mengatakan dua anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad dan Andre Rosiade, telah mendatangi rumah duka Bambang pada Kamis (27/8/2026) malam.

Yoga Kenang Nasihat yang Selalu Diingat

Bambang Setiyawan (59) menjadi korban meninggal dunia dalam kericuhan pasca demonstrasi 27 Agustus di Depan Gedung DPR. Bambang tewas di Pejompongan, Jakarta Pusat. 

Yoga Noval (29), putra almarhum pun mengungkapkan pesan sang ayah yang terus diingatnya.

Mulanya Yoga mengatakan tak memiliki firasat atas kejadian ini yang menimpa mendiang ayahnya tersebut.

"Kalau untuk firasat, ibu yang ngerasain. Kalau saya nggak ada," kata Yoga kepada Tribunnews, Jumat (28/8/2026).

Selain itu Yoga mengatakan pesan ayahnya untuk selalu membantu orang lain, dan beramal jika memiliki rezeki lebih.

"Baik sama orang, bantuin orang kalau orang butuh bantuan. Terus sering beramal kalau punya uang lebih," ungkapnya.

Yoga juga menyebut selama ayahnya hidup bekerja melalui usaha di kios menjual kaca.

Setelah ayahnya sudah tiada, Yoga mengatakan usaha tersebut akan dilanjutkan oleh dirinya.

"Kemungkinan saya atau ibu yang melanjutkan. Mau tidak mau harus diurus," ucapnya.

(Tribunnews.com/Rahmat Fajar Nugraha) (Tribunjakarta/Elga Hikari Putra) (Kompas.com/Bangkapos.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.