Mahasiswa Unej Olah Limbah Kangkung Jadi Pakan Ikan Gurami di Lumajang
Haorrahman August 29, 2026 05:39 PM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Lumajang - Mahasiswa Universitas Jember (Unej) mengolah pakan ikan gurami berbahan limbah sayuran kangkung di Desa Rowokangkung, Kecamatan Rowokangkung, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Inovasi tersebut dikembangkan mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) dan Fakultas Pertanian Unej melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026. Program itu mengusung tema JAGATARA, “Desa Agraris Berlapis Rowokangkung sebagai Model Circular Economy Zero-Waste Berbasis Komoditas Unggulan melalui Inovasi.”

Baca juga: Sembilan Ribu Mahasiswa Baru Unej Siap-siap Bawa Botol Minum saat Ikuti PKKMB

Gagasan tersebut berangkat dari dua persoalan yang dihadapi masyarakat setempat, yakni limbah sayuran kangkung dan tingginya biaya pakan ikan. Keduanya kemudian dipadukan dalam konsep ekonomi sirkular sehingga limbah dapat kembali dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi.

Baca juga: Lebih dari 30 Ribu Peserta SNBT Pilih Unej, Hanya 4.216 Mahasiswa Diterima

Diolah Menjadi Pelet

Proses pembuatan pakan diawali dengan mencacah limbah sayuran kangkung hingga berukuran kecil. Bahan tersebut kemudian dicampur dengan tepung ikan, dedak padi, dan tepung tapioka.

Campuran itu selanjutnya dimasukkan ke mesin penggilingan rakitan mahasiswa. Dari mesin tersebut, adonan keluar dalam bentuk bulatan kecil menyerupai pelet atau konsentrat pakan ikan.

Dimas Chandra Eka Wirawan, anggota Ormawa UNEJ sekaligus mahasiswa semester 5 Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian UNEJ, mengatakan tepung ikan digunakan untuk menambah kandungan protein dalam pakan.

“Kami tambahkan dedak padi sebagai seratnya, dan tepung tapioka sebagai perekat. Kemudian bahan itu kami masukan bersama kangkung yang telah dipotong-potong ke dalam mesin, sehingga keluarnya menjadi bulat-bulat,” ujarnya, Sabtu (29/8/2026).

Pakan yang baru keluar dari mesin masih dalam kondisi basah. Karena itu, pelet perlu dikeringkan selama satu hingga dua hari agar lebih keras dan dapat disimpan lebih lama.

“Karena keluar dari mesin adonannya itu masih basah. Jadi kami keringkan selama satu hingga dua hari tergantung panas matahari,” ucap Chandra.

Baca juga: Detik-Detik Mahasiswi Unej Selamat dari Begal di Bondowoso, Dipukul hingga Tersungkur dari Motor

Menurut Chandra, komposisi bahan yang digunakan terdiri atas 400 gram tepung ikan, 300 gram dedak padi, 200 gram kangkung, serta 50 gram tepung tapioka.

“Sementara kangkungnya itu sekitar 200 gram. Sementara tepung tapioka cukup 50 gram sebagai perekatnya. Itu bisa menghasilkan satu kilogram pakan ikan gurami,” imbuhnya.

Setelah kering, pakan tersebut dimasukkan ke dalam kemasan plastik yang telah didesain oleh Tim PPK Ormawa UNEJ. Kemasan itu menjadi bagian dari upaya mahasiswa mendorong produk pakan berbahan lokal agar memiliki nilai jual.

Ketua Tim PPK Ormawa BEM Fasilkom UNEJ, Dimas Kurniawan Hariyanto, mengatakan inovasi tersebut merupakan bagian dari upaya membangun hilirisasi pemanfaatan kangkung di Rowokangkung.

Menurut dia, potensi tersebut cukup besar karena Desa Rowokangkung memiliki banyak pembudidaya ikan gurami. Di sisi lain, harga pakan ikan yang relatif mahal menjadi salah satu persoalan yang dikeluhkan pembudidaya.

“Inovasi ini kami lakukan, agar masyarakat dan pembudidaya ikan gurami mendapatkan keuntungan lebih banyak lagi,” ucapnya.

Mahasiswa tidak hanya mengembangkan produk pakan. Tim Fasilkom UNEJ juga membuat website desa untuk membantu pemasaran produk sekaligus mendukung terbentuknya sirkulasi ekonomi di tingkat desa.

Pengembangan inovasi tersebut dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan masyarakat, termasuk kader PKK, kader posyandu, dan perangkat desa.

“Kami sistemnya berkolaborasi. Pendekatannya dalam pengembangan inovasi ini juga dibantu ibu PKK, Kader posyandu dan perangkat desa,” imbuh Dimas.

Kepala Dinas Perikanan Lumajang, Yuli Harismawati, mengatakan Desa Rowokangkung merupakan salah satu sentra budi daya ikan gurami. Karena itu, ketersediaan pakan dengan harga lebih terjangkau menjadi kebutuhan penting bagi pembudidaya.

Ia menilai inovasi mahasiswa UNEJ tersebut berpotensi menjadi alternatif untuk menekan biaya operasional pembudidaya ikan gurami.

“Namanya juga sangat iconic, buat produk pakai kangkung di Desa Rowokangkung. Apalagi gurami ini dikenal sebagai sapi air, yang rakus tumbuhan. Sehingga diperlukan model pakan lain,” imbuhnya.

Yuli juga menilai pemanfaatan limbah kangkung menjadi pakan dapat memberikan nilai tambah sekaligus mengurangi limbah yang terbuang.

“Membuat pakan ikan dari kangkung, apalagi itu limbah. Jadi limbah kangkung dan gurami tidak dibuang tetapi kembali diolah sehingga mengurangi harga pokok penjualan (HPP),” tambahnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.