Kaset Pita Diminati Gen Z, Rilisan Indie Banyak Diburu
Joko Widiyarso August 29, 2026 06:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kaset pita yang sempat dianggap sebagai bagian dari masa lalu kini kembali menemukan penggemarnya.

Di Yogyakarta, minat terhadap kaset lawasan maupun rilisan baru justru semakin berkembang, termasuk di kalangan Generasi Z.

Asriyadi Cahyadi, pemilik Dcelljogjastore yang bergerak dalam jual beli kaset sekaligus servis perangkat pemutar kaset, melihat perkembangan tersebut secara langsung.

Menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir peredaran dan minat terhadap kaset justru semakin ramai. Menurutnya, anak muda yang lahir di era digital mulai tertarik merasakan pengalaman mendengarkan musik melalui kaset pita.

"Kalau menurut saya, sekarang ini makin ke sini memang makin banyak, peminatnya. Terutama itu digandrungi para Gen Z sekarang lah, anak-anak yang tahun 2000 tahun itu,” ujarnya.

Ketertarikan tersebut tidak jarang muncul dari keluarga. Sebagian anak muda mengenal kaset dari koleksi orang tua atau pengalaman mendengarkan musik di rumah.

Rasa penasaran kemudian membuat mereka mencari sendiri kaset yang pernah mereka dengarkan maupun rilisan lain yang sesuai selera.

“Sekarang kan udah zaman internet, udah tinggal browsing, mereka cari kesukaannya apa, tinggal beli. Bisa online, bisa offline langsung datang ke store kayak gitu,” katanya.

Ketertarikan tersebut kemudian bertemu dengan semakin mudahnya akses untuk mendapatkan kaset maupun perangkat pemutarnya.

Kehadiran pemutar kaset produksi baru, yang bentuknya lucu dan unik juga dinilai ikut menunjukkan bahwa masih ada pasar untuk format musik fisik tersebut.

Asriadi melihat produsen perangkat baru, termasuk produk yang dibuat di China, mulai membaca kembali peluang tersebut.

Di sisi lain, muncul pula permintaan dari komunitas dan penyelenggara kegiatan musik untuk menghadirkan kembali rilisan dalam format kaset.

Dukungan muncul

Menurut Asriyadi, perkembangan pasar kaset di Jogja juga didukung oleh berbagai kegiatan seperti Record Store Day dan Pasar Kangen. 

Pengunjung yang datang tidak selalu sama setiap tahun, bahkan jumlah penikmatnya terus bertambah.

“Semakin tahun itu semakin berkembang, orangnya yang datang itu juga beda-beda. Jadi menurutku semakin banyak yang minat,” lanjutnya.

Musik yang dicari pun beragam. Ada yang memburu kaset lawasan seperti Sheila on 7 dan Dewa, tetapi ada pula yang mencari rilisan musik indie masa kini.

Referensi dari teman maupun orang tua menjadi salah satu pintu masuk bagi pendengar untuk menemukan musisi baru.

Perburuan kaset kini juga merambah rilisan yang baru diproduksi. Asriyadi menyebut sejumlah rilisan seperti Alkateri dan Festivalis mendapat sambutan antusias dari penggemarnya.

“Contohnya kayak kemarin itu kayak rilisan terbaru kayak ada Alkateri, ada Festivalis, itu banyak banget penggemar mereka yang antusias beli kasetnya itu mas,” ujarnya.

“Bahkan malah sampai kehabisan mas stoknya, padahal peminatnya lebih banyak,” tambahnya.

Di antara koleksi kaset yang diburu, sejumlah rilisan memiliki harga tinggi karena langka. Untuk musik Indonesia, Asriyadi menyebut Sore, White Shoes & The Couples Company, dan The Adams sebagai beberapa nama yang banyak dicari.

Sementara koleksi musik luar negerinya banyak berasal dari jalur alternatif rock dan indie rock, seperti Nirvana, Radiohead, Oasis, Blur, dan Arctic Monkeys.

Harga kaset

Harga kaset di Dcelljogjastore sendiri dimulai dari sekitar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu untuk kaset random seperti pop indo atau barat.

Sementara kaset langka bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Salah satu yang pernah terjual adalah kaset White Shoes & The Couples Company dengan harga Rp 650 ribu.

Bagi Asriyadi, memiliki kaset juga berarti harus memperhatikan cara merawatnya. Ia menyarankan kolektor memastikan pemutar kaset dalam kondisi baik agar tidak merusak pita.

“Yang pertama kalau menurut saya, pastikan dulu player-nya itu bagus dulu. Karena kalau kasetnya bagus, kita play ke player-nya yang nggak bagus, nanti kasetnya malah rusak ,” jelasnya.

Kaset juga sebaiknya disimpan di tempat kering, terhindar dari kelembapan dan paparan sinar matahari langsung. Penyimpanan menggunakan plastik serta silica gel dapat membantu melindungi kaset dari jamur dan debu.

Di tengah dominasi layanan musik digital, Asriyadi menilai kaset tetap memiliki daya tarik tersendiri karena menawarkan pengalaman mendengarkan musik sekaligus memiliki bentuk fisik yang bisa dikoleksi.

“Karena kita bisa lihat fisiknya, terus dari suara sound-nya sendiri itu beda. Suaranya lebih enak, lebih detail, terus vibe-nya juga lebih bagus,” katanya.

Ia berharap musisi, terutama dari skena indie, tetap memproduksi karya dalam bentuk fisik seperti kaset maupun CD. Selain memiliki penggemar yang terus tumbuh, format tersebut dinilai lebih terjangkau dibandingkan vinyl.

“Kalau saya harap, para musisi tetap bisa bikin fisik kaset untuk menyebarkan karya mereka” pungkas Asriyadi. (nto)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.