Mancari Nan Tasuruak, UNP Buka Ruang Pemulihan bagi Ayah Penyintas Bencana di Salareh Aia
afrizal August 29, 2026 09:01 PM

TRIBUNPADANG.COM, AGAM — Pemulihan pascabencana tidak hanya tentang membangun kembali rumah dan fasilitas yang rusak. 

Bagi penyintas, kehilangan orang-orang terdekat, harta benda, mata pencaharian, serta ketidakpastian masa depan dapat meninggalkan beban psikologis yang membutuhkan waktu dan dukungan untuk pulih. 

Berangkat dari kondisi tersebut, tim Universitas Negeri Padang (UNP) melalui Program Pengabdian UNP Berdampak (PPUB) melaksanakan program “Ayah Tangguh Pascabencana: Model Intervensi Psikososial untuk Mengatasi Father Burnout dan Penguatan Peran Ayah dalam Ketahanan Keluarga” di Nagari Salareh Aia, Kabupaten Agam, Sabtu (15/8/2026).

Program yang diketuai Gumi Langerya Rizal, M.Psi., Ph.D., Psikolog, ini menyasar para ayah penyintas bencana melalui pendampingan psikososial, penguatan kesiapsiagaan keluarga, keterampilan mendampingi anak pascabencana, serta pengembangan dukungan sosial antarsesama ayah. 

Gumi menjelaskan, kondisi psikologis ayah perlu mendapat perhatian dalam proses pemulihan.

Dalam situasi pascabencana, ayah kerap dituntut tetap kuat sekaligus menghadapi berbagai tanggung jawab terhadap keluarga.

“Ayah tangguh bukan berarti ayah yang tidak pernah lelah, takut, atau goyah. Ketangguhan justru terlihat ketika ayah mampu mengenali kondisinya, mengelola respon emosinya, tetap hadir bagi keluarga, dan mengetahui kapan membutuhkan dukungan dari orang lain,” ujarnya.

Baca juga: Tim PPUB UNP Latih Guru SMA Laboratorium Pembangunan Terapkan Flipped Learning

Mengungkap “Nan Tasuruak” di Balik Ketangguhan Ayah

Salah satu sesi yang menjadi bagian penting kegiatan adalah “Ngopi Pagi: Mancari Nan Tasuruak”. 

Sesi pemulihan emosi dan psikososial ini dirancang sebagai ruang aman bagi para ayah untuk mengungkap pengalaman, kesedihan, dan beban yang mungkin selama ini tersimpan.

Sesi tersebut dipandu oleh dosen Psikologi Fakultas Psikologi dan Kesehatan UNP, Zulian Fikry, S.Psi., M.A., yang juga aktif dalam berbagai kegiatan psikoedukasi bersama lembaga sosial di Bukittinggi dan sekitarnya.

Dalam suasana santai sambil menikmati secangkir kopi, peserta berbagi cerita dan saling mendengarkan. 

Selama sekitar satu setengah jam, berbagai pengalaman yang sebelumnya jarang dibicarakan mulai terungkap.

Sejumlah ayah menceritakan perjuangan mereka sejak fase bencana hingga masa pemulihan. 

Di antara peserta terdapat penyintas yang kehilangan anggota keluarga, termasuk istri dan anak, selain kehilangan tempat tinggal, harta benda, dan sumber mata pencaharian. 

Selama ini, mereka mengakui terus berusaha menguatkan diri agar mampu menghadapi berbagai tantangan sekaligus menopang anggota keluarga yang masih ada.

Sesi tersebut memperlihatkan bahwa di balik tuntutan untuk terus kuat, para ayah juga membutuhkan ruang untuk didengar, mengekspresikan emosi, dan memperoleh dukungan psikososial. 

Persoalan yang mereka hadapi pun belum sepenuhnya selesai.

Para peserta mengungkapkan ketidakpastian mata pencaharian masih menjadi salah satu beban utama. 

Kondisi tersebut berimplikasi pada keberlangsungan kehidupan keluarga dan biaya pendidikan anak-anak. 

Sebagian warga juga masih merasa berat meninggalkan rumah lama dan berpindah ke lokasi hunian tetap (huntap).

Para ayah mengapresiasi dukungan individu, kelompok masyarakat, dan pemerintah nagari selama proses pemulihan. 

Namun, mereka berharap dukungan dapat terus berlanjut, khususnya terkait kepastian pendidikan anak dan kesempatan kerja yang mampu menopang kebutuhan keluarga.

Baca juga: UNP Bentuk Nagari Siaga Galodo di Tanah Datar, Warga Siapkan Langkah Hadapi Ancaman Bencana

Dibekali Keterampilan hingga Buku Saku

Selain mendapatkan ruang pemulihan psikososial, peserta mengikuti Sekolah Ayah Tangguh yang membahas father burnout, regulasi emosi, komunikasi dalam keluarga, pengasuhan, serta pentingnya dukungan sosial bagi ayah. 

Peserta juga memperoleh pembekalan mengenai kesiapsiagaan keluarga dan peran ayah sebagai pendamping Psychological First Aid (PFA) bagi anak dalam situasi pascabencana. 

Para ayah diajak memahami berbagai respons psikologis anak setelah bencana serta cara memberikan rasa aman, mendengarkan tanpa memaksa anak bercerita, dan membantu anak memperoleh dukungan yang dibutuhkan.

Sebagai bekal setelah kegiatan, setiap peserta juga mendapatkan Buku Saku Ayah Tangguh Pascabencana. 

Buku tersebut berisi informasi dan panduan praktis untuk membantu ayah mengenali kondisi psikologisnya, mengelola stres dan kelelahan dalam menjalankan peran sebagai orang tua, membangun komunikasi yang lebih sehat dalam keluarga, serta mendampingi anak menghadapi dampak psikologis pascabencana. 

Buku saku diharapkan menjadi pegangan bagi para ayah untuk mengingat dan menerapkan kembali keterampilan yang diperoleh selama program dalam kehidupan sehari-hari.

Bentuk Komunitas Ayah Tangguh

Program pengabdian ini tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan. 

Tim UNP juga menginisiasi pembentukan Komunitas Ayah Tangguh Nagari Salareh Aia sebagai ruang dukungan sebaya sekaligus upaya memperkuat akses para ayah terhadap dukungan kesehatan mental melalui kemitraan dengan Universitas Negeri Padang.

Ketua Komunitas Ayah Tangguh, Ibnu Riaga, mewakili peserta menyampaikan bahwa program tersebut telah dinantikan warga karena menghadirkan tenaga psikologi yang tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga bersedia mendengarkan persoalan yang mereka hadapi. 

Pendekatan tersebut dinilai membuat dukungan psikososial lebih dekat dan sesuai dengan kebutuhan nyata para ayah penyintas.

Dukungan terhadap keberlanjutan program juga disampaikan Wali Nagari Salareh Aia, Rijal Islami, T.S.Kom. 

Ia memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program dan berharap kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan pada masa mendatang. 

Sejumlah warga yang akan berpindah ke hunian tetap juga berharap program pendampingan dapat dilaksanakan di lingkungan tempat tinggal baru mereka. 

Pendampingan tersebut dinilai penting untuk membantu proses adaptasi sekaligus meningkatkan kesiapan keluarga dan membangun kembali dukungan sosial di lingkungan baru.

Melalui program Ayah Tangguh, UNP mendorong pemulihan pascabencana yang tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik, tetapi juga memperhatikan ketahanan psikologis keluarga dan kekuatan komunitas. 

Sebab, ketangguhan bukan berarti menghadapi seluruh beban seorang diri. 

Ayah yang memiliki ruang untuk pulih, mampu mengelola tekanan, serta memperoleh dukungan akan lebih siap untuk kembali hadir sebagai sumber rasa aman bagi anak dan keluarganya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.