Oleh : Pater Frans Funan Banusu SVD
POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik Hari Minggu Pekan Biasa XXII/A/II, 30 Agustus 2026 dari Pater Frans Funan Banusu SVD berjudul Belajar Selaraskan Pikiran dengan Allah: Sesukar Memenuhi Tiga Syarat Mengikuti Yesus.
Renungan Harian Katolik dari Pater Frans Funan Banusu SVD merujuk pada bacaan (Yer. 20:7-9; Mzm. 63:2.3-4.5-6.8-9; Rm. 12:1-2; Mat. 16:21-27).
"Enyahlah iblis! Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." (Mat. 16:23).
Solider dengan sesama dalam hal positif itu baik. Solider dengan sesama terhadap hal jahat, buruk dan mendukung kejahatan itu tidak boleh.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 30 Agustus 2026, “Enyalah Iblis”
Demikian juga membela yang baik dengan melakukan kekerasan baru untuk menciptakan kejahatan baru adalah pikiran iblis yang merasuki pikiran banyak orang.
Petrus berniat baik untuk membela atau mengungkapkan solidaritasnya dengan Yesus terhadap rencana kejahatan pembunuhan atas Diri-Nya oleh pihak tua-tua, para imam kepala dan para ahli Taurat.
Yesus dengan keras menegur dan mencap Petrus sebagai iblis yang harus dilenyapkan. Cara kerja iblis ialah menggunakan cara-cara lembut di depan mata, kekerasan mematikan dari belakang.
Dalam banyak hal kita terjebak dan tak berdaya di sini. Kepentingan duniawi untuk memenuhi kehendak manusiawi kita jauh lebih kuat, ketimbang pemenuhan kehendak Allah dalam hidup kita.
Kejahatan yang kita alami kadang menyimpan dendam yang kuat dalam diri hingga rencana pembalasan terlaksana. Dengan demikian kita terbelenggu dalam kompetisi saling balas dendam daripada membiarkan Tuhan menguasai kita dalam hidup.
Belajar menyelaraskan pikiran kita dengan pikiran atau kehendak Allah butuh niat baik, keseriusan untuk mengalahkan diri sendiri lebih dulu.
Cara belajar untuk mengalahkan diri sendiri, bersedia melaksanakan tiga syarat ikut Yesus dalam Injil: menyangkal diri, memikul salib dan ikut Tuhan.
Singkirkan egoisme yang diboncengi setan untuk sombong, saling merendahkan, bertarung balas-membalas dendam.
Mata rantai kejahatan berlanjut turun-temurun. Menderita karena berbuat baik itu kemuliaan dalam hidup. Yesus disalibkan demi penebusan atas dosa dunia.
Pengikut Yesus tak boleh lelah dalam tugas perutusan mewartakan kabar gembira dan tak jemu-jemunya berbuat baik.
Dengan cara-cara hidup seperti tuntutan Yesus itu, kita menjadi pengikut sejati Tuhan yang sungguh bebas dan terus terpacu dalam iman, harap dan kasih untuk menggapai hidup yang mulia.
Walau tujuan ideal tuntutan selaraskan pikiran dengan Tuhan tak begitu mudah dan tetap mengalami kesulitan mengikuti Yesus, kemauan untuk terus belajar rendah hati, niat membarui diri adalah kekuatan di mana Roh Kudus hadir untuk membimbing dan menolong kita.
Nabi Yeremia, demi tugas perutusan mewartakan Firman Tuhan, ia menerima celaan, cemoohan, bahkan menjadi obyek tertawaan dan olok-olokkan banyak orang. Ia nyaris putus asa, hampir melarikan diri.
Ia bertahan karena di tengah situasi suram tugas perutusannya, ia mengalah, dan membiarkan dirinya dituntun oleh sabda Allah.
Ia nenyelaraskan pikirannya dengan kehendak kudus Allah dalam hidupnya.
Ia sadar, tugas perutusan terus mendesak dirinya untuk mewartakan Firman Tuhan walau kenyataan mendatangkan kepedihan mendalam yang tak tertahankan.
Ia memahami pikiran Allah, menyingkirkan pikirannya sendiri. Diri yang dibarui ini membakarnya menjadi nabi Tuhan yang hebat dalam menahan penderitaan dan sungguh bebas mewartakan Sabda Allah.
Pemazmur menanggapi dalam madahnya, "Jiwaku melekat pada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku. Sungguh Engkau melulu yang menolongku dan di bawah sayap-Mu sentosalah aku." (Mzm. 63:8-9).
Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 29 Agustus 2026, Raja Kebenaran Berjuang Melindungi Kesucian Iman
Setia dalam tugas perutusan sebagai pengikut Tuhan, menjadi tanda lahiriah bahwa ďiri kita telah dikuasai oleh kekuatan Allah. Berserah total pada Tuhan adalah persembahan yang berkenan kepada-Nya. Maka Allah memilih kita selain sebagai utusan-Nya di tengah dunia, diri kita pun menjadi rumah diam-Nya.
Ketika menyatu dengan Dia, Dia menjadi yang pertama dan terutama dalam hidup, Dia kita kenal, dan semakin mengerti, memahami kehendak kudus-Nya dalam aneka sisi hidup kita. "Ibadah sejatimu adalah mempersembahkan sekuruh diri kepada Allah." (Rm. 12:1).
Hikmat yang dapat kita petik:
Belajar untuk memahami pikiran dan kehendak Allah, Yesus buka bagi insan beriman yang rendah hati, optimis dalam harapan dan kasih.
Solider untuk membela kekudusan iman, berkorban karena kebenaran dan keadilan mulia bagi hidup kita.
Iblis tetap bekerja dengan lembut di depan mata, untuk menghancurkan dari belakang.
Selamat Hari Minggu. Tuhan berkatimu semua. (RP. FF. Arso Kota, Minggu/Pekan Biasa XXII/A/II, 300826). (*)