Petani Timun di Subang Apes Bertubi-tubi: Kena Dampak Kemarau, Harga Anjlok Jadi Rp6 Ribu/Kg
Ravianto August 30, 2026 02:11 PM

TRIBUNJABAR.ID, SUBANG - Musim kemarau mulai memberikan tekanan terhadap petani timun di Kampung Ciistal, Desa Cimayasari, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Selain menghadapi keterbatasan air yang membuat pertumbuhan tanaman terganggu, petani juga harus menerima kenyataan turunnya harga jual timun di pasaran.

Berdasarkan pantauan di lahan pertanian timun, tanaman tampak tumbuh di tengah kondisi tanah yang relatif kering. Petani terlihat tetap melakukan aktivitas perawatan dan memanen timun yang sudah siap dipetik.

Sejumlah timun hasil panen kemudian dikumpulkan untuk dibawa dan dijual langsung ke Pasar Lampak, Cikabendeuy.

Salah seorang petani timun, Kana, mengatakan harga timun di tingkat petani saat ini berada di kisaran Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram.

"Turun, Rp6.000 sampai Rp7.000," ujar Kana kepada Tribunjabar.id, Minggu (30/8/2026).

Baca juga: Petani Timun Suri di Majalengka Untung Besar saat Ramadhan 2026, Panen Sampai 7 Ton Per Hari

Menurutnya, kondisi tersebut baru terjadi sekitar empat hari terakhir. Sebelumnya, harga timun masih berada di kisaran Rp8.000 per kilogram.

Bahkan, harga timun sempat mencapai titik tertinggi hingga Rp13.000 per kilogram.

"Kalau paling tinggi bisa sampai Rp13.000," katanya.

Penurunan harga tersebut terjadi bersamaan dengan menurunnya produktivitas tanaman akibat musim kemarau.

Kana menyebut, dari sekitar tiga amplop benih yang digunakan untuk penanaman, total hasil panen hingga masa panen selesai diperkirakan hanya sekitar delapan kuintal.

Jumlah tersebut masih berada di bawah hasil panen ketika kondisi cuaca normal dan ketersediaan air mencukupi.

Dalam kondisi cuaca yang bagus, hasil panen dari lahan yang dikelolanya bisa mencapai lebih dari satu ton.

"Kalau cuacanya bagus, biasanya lebih dari satu ton," ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu kendala terbesar selama musim kemarau adalah keterbatasan air. Suhu panas membuat tanaman lebih cepat mengalami kekeringan sehingga pertumbuhannya tidak maksimal.

"Masalahnya air. Kalau panas, daunnya cepat kering," kata Kana.

Sementara itu, untuk serangan hama, petani menyebut kondisinya masih tergolong normal. Gangguan yang ditemukan di antaranya ulat dan penyakit cacar daun.

Kondisi tersebut membuat petani harus menghadapi tekanan dari dua sisi sekaligus, yakni produktivitas yang menurun akibat keterbatasan air dan harga jual yang ikut merosot.

Petani berharap kondisi cuaca segera membaik sehingga pasokan air untuk tanaman kembali mencukupi.

Di sisi lain, mereka berharap harga timun dapat kembali stabil agar hasil panen mampu memberikan pendapatan yang lebih baik bagi petani.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.