Kini Punya Profesi Baru, Denny Sumargo Pertimbangkan Niat Mundur sebagai Host Podcast
Achmad Maudhody August 30, 2026 02:47 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Punya profesi baru, Denny Sumargo pertimbangkan berhenti jadi host podcast.

Selain sebagai aktor, nama Denny Sumargo kini dikenal luas sebagai seorang host podcast.

Lewat kanal Youtube CURHAT Bang Denny Sumargo, ayah satu anak itu semakin dikenal luas di berbagai kalangan masyarakat khususnya anak-anak muda.

Meski mendapat popularitas, namun rupanya profesi tersebut bukan tanpa risiko.

Pria yang akrab disapa Densu itu mengaku, kerap jadi bahan hujatan netizen saat mengangkat tema sensitif dan dianggap kontroversial di podcastnya.

Belum lama ini, Densu seolah terjepit di antara dua fans fanatik Sarwendah dan Ruben Onsu.

Ini setelah Densu mengundang Sarwendah dan Ruben Onsu untuk bicara tentang perselisihan mereka dalam podcast Youtubenya.

Di satu sisi, fans Sarwendah menilai Densu berpihak pada Ruben. Sedangkan di sisi lain, fans Ruben menuding Densu berpihak pada Sarwendah.

Hal itu hanya satu contoh dari sederet tekanan moril yang dihadapi Densu selama jadi host podcast.

Situasi ini pula yang membuat Densu kini mempertimbangkan untuk berhenti jadi host di podcast Youtubenya.

Hal itu diutarakan Densu kala berbincang dengan kolega Youtuber, Atta Halilintar.

"Sebenernya, kalau gue bisa, 'tolong gantiin gue'," ucap Densu kepada Atta Halilintar dalam sebuah acara podcast, dikutip Minggu (30/8/2026).

"Gue lagi berpikir, mungkin gue ganti host aja deh," lanjutnya.

Bapak satu anak ini, juga sempat mulai terpikir untuk segera mencari host pengganti.

Sehingga dengan begitu, Densu sudah tidak perlu lagi menjadi host di acara podcast-nya.

"Kayaknya gue cari host lain deh, kayaknya gue udah nggak usah ngisi lagi deh," timpalnya.

Dalam kesempatan itu, diakui Densu, keputusan mengangkat isu-isu sensitif dalam podcast-nya didorong oleh keinginannya untuk membantu sesama menghadapi persoalan.

Meski tak dipungkiri, Densu mengaku kerap tidak mendapatkan penghasilan dari kontennya tersebut karena topik yang dibahas dinilai amat sensitif.

"Banyak podcast gua juga yang memang tidak menghasilkan. Kenapa? Dikarenakan isunya sensitif banget kayak kasus pemer**saan gitu kan. Itu kan enggak bisa dapat cuan sama sekali," ujarnya.

Baca juga: Perlakuan Maia Estianty pada Mantan Mertua Jadi Sorotan, Beri Emoji Hati di Foto Ibu Ahmad Dhani

Pun hingga kini, pria 44 tahun itu, masih mencari tahu jawaban mengenai alasan lebih sering memilih topik sensitif tersebut.

Meski tak dipungkiri alasannya tidak lain karena instingnya untuk membantu masalah orang lain.

"Tapi arahnya itu yang gua makin ke sini mulai agak mulai bingung. Kenapa kok podcast gua lebih banyak ngangkat ke arah isu-isu yang sensitif, isu-isu sosial," tuturnya.

"Karena memang insting gua lebih untuk ngebantu sebenarnya," kata Denny.

DITUDING BERPIHAK - Kolase Denny Sumargo, Sarwendah dan Ruben Onsu, dicapture Jumat (17/7/2026).
DITUDING BERPIHAK - Kolase Denny Sumargo, Sarwendah dan Ruben Onsu, dicapture Jumat (17/7/2026). (YouTube/Curhat Bang Denny Sumargo/Instagram sarwendah29/ruben_onsu)

Anak dan Istri Ikut Kena Hujat

Denny Sumargo mengaku kaget anak dan istrinya kena hujat imbas memberi ruang klarifikasi Sarwendah dan Ruben Onsu.

Mantan atlet basket nasional ini, menyayangkan respons tegasnya terhadap akun-akun toxic tersebut yang malah dipelintir oleh pihak lain. 

Ia dinilai seolah-olah sedang menantang seluruh warganet di media sosial.

"Ada beberapa akun yang menghina anak dan istri saya. Saya memberikan balasan tegas bahwa integritas saya tidak bisa digoyahkan oleh kebencian apa pun," ujar Denny Sumargo di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, dikutip dari Tribunnews.com, Minggu (23/8/2026). 

"Balasan saya diframing seolah-olah saya mau ribut lawan netizen, padahal saya hanya merespons akun yang sudah berulang kali menghina anak dan istri saya. Saya harus menjawab tegas, bukan untuk sombong. Tapi ya tidak apa-apa, ini hal yang memang harus terjadi," jelasnya.

Ada juga komentar negatif yang sampai membuat Densu geleng-geleng kepala.

Ia menyoroti fenomena warganet yang dengan mudah membawa isu Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) dalam perselisihan tersebut.

"Itu yang bikin saya ketawa. Unsur-unsur agama dan ras dibawa-bawa untuk saling menjatuhkan satu sama lain. Bagi saya itu lucu sekali. Kita ini kan masyarakat terpelajar, kok bisa berpikir sampai ke sana?" ungkap Densu heran.

Lantas, ia mengimbau masyarakat agar lebih dewasa dalam merespons konflik publik dan tidak menyebarkan narasi sensitif yang berpotensi memecah belah.

Melihat situasi yang dinilai sudah tidak sehat dan melenceng dari tujuan awal, Densu memutuskan untuk menyudahi keterlibatannya. 

Ia memastikan tidak akan lagi membuka ruang atau memberikan pernyataan terkait dinamika hubungan Ruben Onsu dan Sarwendah.

"Hari ini mungkin menjadi pernyataan terakhir saya untuk masalah itu. Ke depannya saya sudah tidak mau lagi memberikan statement," tegasnya.

Debut Jadi Produser

Debut sebagai produser menjadi langkah baru bagi Denny Sumargo di industri perfilman.

Lewat film Baby Udon, Denny Sumargo tak hanya ingin memastikan cerita yang disajikan bisa diterima penonton, tetapi juga ingin memberikan kesempatan bagi film tersebut untuk menemukan penontonnya secara alami.

Denny Sumargo resmi menandai debut perdananya sebagai produser melalui film terbaru Baby Udon yang dijadwalkan tayang perdana pada 3 September 2026.

Sebagai proyek pertamanya di balik layar sebagai produser, ia mengaku tak ingin mengerjakannya setengah-setengah.

Pria yang akrab disapa Densu ini mengatakan dirinya mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki untuk memastikan Baby Udon dapat menyampaikan cerita yang berkesan kepada penonton.

Baginya, sebuah film tidak hanya bergantung pada bagaimana karya tersebut dipromosikan, tetapi juga pada bagaimana cerita yang dibuat dengan sungguh-sungguh dapat menyentuh penontonnya.

Hal itu turut diterapkan Denny dalam strategi pemasaran Baby Udon.

Melalui unggahan di Instagram, ayah satu anak ini mengungkapkan bahwa dirinya tidak ingin menggunakan cara pemasaran yang menurutnya sekadar mengandalkan uang untuk menarik perhatian penonton.

"Maaf, gw ga ikutan marketing bakar duit atau bom-boman, karena gw percaya cuman satu hal," ujar Denny Sumargo, dikutip dari Tribunnews.com, Sabtu (29/8/2026). 

Menurut Denny, film yang dibuat dengan ketulusan akan memiliki peluang lebih besar untuk sampai kepada penonton melalui pengalaman mereka sendiri.

Pria berusia 44 tahun ini pun menilai promosi dari mulut ke mulut bisa menjadi salah satu cara yang kuat karena didasarkan pada kejujuran.

"Kalau lu bikin film dari hati, pasti akan sampai ke hati, mouth to mouth marketing jauh lebih powerful, karena kejujuran adalah segalanya," lanjutnya.

Denny juga menyadari bahwa pilihan tersebut bisa saja dianggap keliru oleh sebagian orang.

Namun, ia tetap memilih mengikuti keyakinannya dalam memasarkan film debutnya sebagai produser.

"Mungkin gw salah, tapi Ntah kenapa gw percaya hal ini," katanya.

Ia kemudian menegaskan bahwa setiap film pada dasarnya dibuat dengan hati, sementara perbedaan di antara satu karya dan lainnya terletak pada bagaimana film tersebut dipasarkan kepada calon penonton.

"Gue yakin semua film dibuat pakai hati. Yang beda cuma cara marketingnya," tuturnya.

Denny tidak sepenuhnya menolak strategi promosi yang memberikan keuntungan langsung kepada penonton.

Suami dari Olivia Allan ini mengatakan program seperti buy one get one masih dapat diterima karena menurutnya berbeda dengan strategi yang sengaja menggelontorkan dana besar untuk menciptakan ledakan jumlah penonton.

"Kalau Buy one get one oke, tapi kalau “bakar duit” atau “bom” penonton gw ga ok, karena gw ga punya budget buat itu dan sah sah aja kalau mau marketing begitu," ungkap Denny.

Denny menambahkan bahwa keputusannya bukan semata-mata karena keterbatasan anggaran.

Bahkan jika memiliki dana yang cukup untuk menjalankan strategi tersebut, ia mengaku tetap tidak akan memilih cara itu.

"Tapi walaupun gw punya uang untuk itu juga gw mau, karena gue pengen setiap film punya kesempatan menemukan penontonnya secara organik," katanya.

Bagi Denny, sebuah film membutuhkan waktu untuk dikenal dan menemukan penontonnya.

Karena itu, ia berharap karya yang dibuatnya tidak langsung dinilai hanya berdasarkan jumlah penonton pada hari-hari pertama penayangan.

"Jangan sampai film baru 1–2 hari tayang, belum sempat dikenal," pungkasnya.

(Banjarmasinpost.co.id/Tribunnews.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.