TRIBUNJAMBI.COM – Eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) melawan Iran memicu persoalan strategis baru bagi pertahanan Barat.
Persediaan rudal pencegat Patriot milik Amerika Serikat di kawasan Eropa dilaporkan merosot tajam hingga berada pada tingkat yang mengkhawatirkan akibat masifnya penggunaan sistem pertahanan udara di Timur Tengah.
Informasi kritis ini diungkapkan seorang pejabat pertahanan AS di Eropa dan seorang pejabat NATO kepada media internasional dengan syarat anonimitas.
Berdasarkan laporan tersebut, kekurangan paling mendesak terjadi pada rudal pencegat Patriot yang menjadi pilar utama penangkal rudal balistik berkecepatan tinggi.
Pejabat NATO mengonfirmasi menipisnya stok amunisi ini memicu kecemasan serius terhadap kemampuan pertahanan aliansi jika menghadapi serangan rudal masif.
Dalam skenario terburuk, fasilitas militer, pusat komando, infrastruktur vital, hingga jaringan energi milik negara anggota NATO dikhawatirkan rentan apabila Rusia melancarkan gelombang serangan udara beruntun.
Situasi ini dinilai mirip dengan tekanan berat yang dialami Ukraina dalam menahan gempuran udara Moskow selama bertahun-tahun.
Meski demikian, para analis menilai Rusia saat ini belum memiliki kapasitas untuk melancarkan kampanye serangan udara besar secara berkelanjutan terhadap NATO, mengingat militer Moskow masih terkonsentrasi di medan perang Ukraina dan menghadapi kerentanan sistem pertahanan domestiknya sendiri.
Mengutip laporan The Telegraph, pengurasan stok Patriot di Eropa tidak lepas dari keputusan Washington memindahkan sebagian besar amunisi pertahanan udara dari benua biru ke kawasan Teluk guna melindungi aset AS serta sekutunya dari gempuran drone dan rudal Iran.
Ed Arnold, peneliti senior di Royal United Services Institute (RUSI), menilai dinamika konflik Iran jauh lebih tidak terprediksi dibandingkan pasokan militer terencana ke Ukraina.
Baca juga: Saling Klaim Selat Hormuz: Iran Ejek AS, Sebut Jalur Minyak Tetap Tutup
Baca juga: Bebas Lewat Amnesti, Gus Nur Gugat Jokowi Ganti Rugi Triliunan Rupiah
Kebutuhan pencegat yang melonjak drastis membuktikan bahwa kapasitas produksi industri pertahanan AS belum sanggup mengimbangi tingkat konsumsi di medan perang.
Estimasi dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang disampaikan oleh Mark Cancian menunjukkan angka yang mencengangkan:
- Tingkat Konsumsi: Sekitar 65 persen dari total persediaan rudal pencegat Patriot AS telah habis terpakai dalam konflik Iran.
- Volume Penggunaan: Dari total cadangan sekitar 2.330 rudal, sekitar 1.500 unit dilaporkan telah ditembakkan.
- Kesenjangan Produksi: Kapasitas produksi saat ini ditargetkan menyentuh 600 rudal per tahun, dengan target peningkatan hingga 2.000 rudal per tahun pada 2030.
Keterlambatan manufaktur ini menciptakan celah besar antara amunisi yang dihabiskan dan unit baru yang tersedia.
Guna menutup celah kerentanan tersebut, sejumlah negara Eropa mulai menjajaki sistem pertahanan udara alternatif, seperti sistem SAMP/T NG buatan Prancis dan Italia.
Kendati demikian, sistem baru tersebut belum teruji secara luas dalam pertempuran nyata.
Sebagai solusi jangka panjang, NATO mendorong ekspansi manufaktur lokal.
Pabrik perakitan rudal Patriot pertama di Eropa dijadwalkan mulai beroperasi di Jerman pada September mendatang, dengan pengiriman awal diproyeksikan mulai awal tahun depan guna memenuhi pesanan dari Jerman, Belanda, Rumania, dan Spanyol.
Di tengah sorotan tajam tersebut, pihak militer resmi memberikan bantahan tegas.
Kolonel Angkatan Darat AS Martin O'Donnell selaku juru bicara senior NATO menyatakan laporan mengenai stok Patriot yang melewati ambang batas kritis adalah tidak benar. Pernyataan senada juga disampaikan juru bicara Pentagon, Sean Parnell:
“Laporan mengenai kekurangan persenjataan AS adalah tidak benar,” tegas Parnell, memastikan militer AS tetap memiliki kapasitas penuh untuk menjalankan operasi pertahanan global.
Baca juga: Joman Sebut Jokowi Tak Suka Lontaran Budi Arie soal Percepatan Pemilu 2029
Baca juga: GRIB Jaya Klarifikasi Kehadiran Hercules Saat Kericuhan 27 Agustus 2026
Baca juga: Kebakaran di Cempaka Putih Jambi, Motor Baru Dedi Ikut Terbakar