Ramallah/Istanbul (ANTARA) - Palestina mendesak aksi nyata internasional untuk mengakhiri aksi kekerasan setelah Israel meningkatkan serangan tentara dan pemukim ilegal di Al-Mughayyir, Tepi Barat, untuk mengisolasi wilayah tersebut dan memaksa penduduknya mengungsi.

Dalam pernyataan pada Sabtu (29/8), Kementerian Luar Negeri Palestina mengatakan Israel telah memberlakukan "pengepungan yang mencekik” terhadap kota di timur laut Ramallah itu selama 20 hari terakhir.

Israel menutup pintu-pintu masuk kota dan hanya mengizinkan warga keluar atau bergerak selama dua jam setiap hari, menurut kementerian tersebut.

Langkah Israel juga mencakup larangan bagi ambulans untuk memasuki kota di tengah "sasaran secara membabi buta" terhadap warga Palestina.

"Tindakan Israel ini merupakan upaya untuk mengisolasi dan mengepung kota secara militer dan ekonomi serta menggusur penduduknya," kata kementerian tersebut.

Kementerian itu menambahkan peningkatan serangan tentara Israel dan pemukim di Tepi Barat merupakan bagian dari kebijakan untuk menciptakan realitas pembunuhan, teror, dan pengungsian paksa, serta mengubah kondisi di lapangan.

Palestina menyerukan masyarakat internasional dan seluruh negara agar tidak berhenti pada kecaman verbal, tetapi mengambil langkah politik, hukum, dan ekonomi yang bersifat mencegah, serta memberikan perlindungan internasional bagi rakyat Palestina.

Kementerian juga menyerukan pengaktifan yurisdiksi internasional untuk mengadili pelaku pelanggaran, memblokir produk permukiman ilegal dari pasar internasional, serta meminta pertanggungjawaban pihak yang menyediakan senjata, pendanaan, atau dukungan kepada para pemukim.

Tepi Barat yang diduduki mengalami peningkatan serangan militer Israel dan serangan pemukim terhadap warga Palestina sejak perang di Gaza pecah pada Oktober 2023.

Pada Jumat (28/8), tiga warga Palestina terluka dalam serangan pemukim di Al-Mughayyir. Pasukan Israel dan pemukim juga menahan ambulans yang hendak membawa korban luka.

Sumber: Anadolu