Perkuat Penanganan Malaria di Riau, Dokter dan Pengelola Program Dilatih Tata Laksana Kasus
Muhammad Ridho August 30, 2026 04:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Pemerintah Provinsi Riau bersama Kabupaten Rokan Hilir terus memperkuat pencegahan dan penanggulangan malaria menyusul masih tingginya kasus penyakit tersebut. 

Tidak hanya menyasar masyarakat, penguatan juga dilakukan dari sisi pelayanan kesehatan dengan meningkatkan kemampuan dokter dan petugas yang menangani program malaria.

Dinas Kesehatan Provinsi Riau bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hilir menggelar Pelatihan Tata Laksana Malaria bagi Penanggung Jawab Program Malaria dan Dokter se-Kabupaten Rokan Hilir di Aula Dinas Kesehatan Rohil, akhir pekan lalu. Kegiatan tersebut dibuka langsung Kepala Dinas Kesehatan Rokan Hilir, Ners Afridah, S.Kep., M.Kes.

Pelatihan dilakukan agar tenaga kesehatan memiliki pemahaman yang semakin kuat dalam menemukan kasus, melakukan diagnosis, memberikan pengobatan hingga memantau pasien malaria. Langkah ini menjadi penting karena Rokan Hilir masih menjadi daerah dengan beban malaria terbesar di Provinsi Riau.

Data yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut menunjukkan kasus malaria di Rohil masih berada pada angka ribuan setiap tahunnya.

Pada 2023 tercatat 2.711 kasus malaria di Rokan Hilir. Jumlahnya turun menjadi 2.449 kasus pada 2024, namun kembali meningkat menjadi 2.858 kasus pada 2025.

Sementara pada 2026, hingga akhir Agustus jumlah kasus malaria di Rohil sudah mencapai 2.600 lebih kasus.

Besarnya angka tersebut membuat pengendalian malaria tidak cukup hanya dilakukan ketika pasien datang ke fasilitas kesehatan. 

Pencegahan harus dilakukan sejak dari lingkungan tempat tinggal, termasuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap kebiasaan yang dapat memperbesar risiko tertular malaria.

Afridah mengingatkan, salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah aktivitas masyarakat pada malam hari. Sebab, nyamuk Anopheles yang menjadi vektor atau pembawa malaria aktif menggigit sejak senja hingga menjelang pagi.

"Ada beberapa aktivitas yang membuat seseorang lebih berisiko terkena malaria. Misalnya bepergian atau tinggal di daerah endemis, termasuk kawasan hutan tropis. Kemudian sering berada di luar rumah pada malam hari juga meningkatkan risiko karena pada waktu itulah nyamuk Anopheles mulai aktif," kata Afridah, Minggu 30/8/2026).

Ia mengingatkan, bagi masyarakat yang harus bekerja atau melakukan aktivitas di luar rumah pada malam hari diminta meningkatkan perlindungan diri.

Salah satu cara paling sederhana adalah menggunakan pakaian tertutup sehingga bagian tubuh yang dapat menjadi sasaran gigitan nyamuk semakin sedikit.

Baca juga: Rokan Hilir Jadi Episentrum Malaria di Riau, Hingga Akhir Agustus Tembus 2.600 Kasus Lebih

Penggunaan losion antinyamuk juga dianjurkan, terutama bagi warga yang berada di kawasan dengan risiko penularan malaria.

"Kalau memang harus beraktivitas di luar rumah pada malam hari, usahakan memakai pakaian yang tertutup dan gunakan losion antinyamuk. Jangan membiarkan tubuh terbuka terlalu lama, terutama dari senja sampai menjelang pagi," ujar Afridah.

Perlindungan tidak berhenti ketika warga sudah berada di dalam rumah. Saat tidur, masyarakat juga dianjurkan menggunakan kelambu untuk mengurangi kemungkinan terkena gigitan nyamuk.

"Tidur tanpa kelambu juga termasuk aktivitas yang berisiko. Nyamuk Anopheles ini sangat aktif menggigit dari senja sampai fajar. Jadi masyarakat harus melindungi diri, bukan hanya menjaga lingkungan, tetapi juga mengurangi kemungkinan digigit nyamuk," jelasnya.

Selain itu, orang yang bepergian atau tinggal di daerah endemis malaria perlu meningkatkan kewaspadaan. Risiko juga perlu diperhatikan bagi masyarakat yang beraktivitas di kawasan hutan tropis atau lokasi lain yang memungkinkan terjadinya paparan nyamuk pembawa malaria.


Menurut Afridah, mengenali faktor risiko merupakan bagian penting dalam pencegahan. Masyarakat diharapkan tidak baru meningkatkan kewaspadaan setelah mengalami gejala atau dinyatakan positif malaria.


"Yang kita harapkan masyarakat memahami risikonya. Jangan menunggu sakit dulu baru waspada. Kalau kita tahu kapan nyamuk aktif dan bagaimana melindungi diri, risiko penularan bisa kita tekan bersama-sama," katanya.


Tingginya kasus di Rokan Hilir semakin terlihat jika dibandingkan dengan jumlah kasus malaria secara keseluruhan di Provinsi Riau.

Pada 2023, Riau mencatat 2.760 kasus malaria. Sebanyak 2.711 kasus di antaranya berasal dari Rokan Hilir. Pada 2024, jumlah kasus malaria di Riau tercatat 2.716 kasus, sedangkan Rokan Hilir menyumbang 2.449 kasus. 

Kemudian pada 2025, kasus malaria Riau tercatat 2.943 kasus, dengan 2.858 kasus di antaranya berada di Rokan Hilir. Sedangkan hingga 27 Agustus 2026, kasus malaria di seluruh Riau sudah mencapai 2.941 kasus.

Data tersebut menunjukkan persoalan malaria Riau dalam beberapa tahun terakhir sangat terkonsentrasi di Rokan Hilir. Kondisi inilah yang membuat berbagai intervensi terus diarahkan ke kabupaten tersebut.

Pelatihan tata laksana malaria bagi dokter dan penanggung jawab program menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut.

Tenaga kesehatan berada di garis depan dalam menemukan penderita. Ketepatan diagnosis dan kecepatan memberikan pengobatan menjadi penting agar pasien segera tertangani sekaligus mengurangi risiko berlanjutnya penularan.

Upaya tersebut berjalan beriringan dengan program pengendalian yang dilakukan Pemerintah Provinsi Riau bersama pemerintah kabupaten.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, sebelumnya menegaskan penanganan malaria tidak dapat dilakukan dengan satu intervensi saja.

"Pengendalian malaria tidak bisa dilakukan secara parsial. Harus ada kombinasi antara penyemprotan, deteksi dini dan edukasi masyarakat agar hasilnya maksimal," kata Zulkifli.

Salah satu intervensi yang dilakukan adalah indoor residual spraying (IRS) atau penyemprotan insektisida pada bagian dalam rumah.

Penyemprotan diarahkan pada permukaan dinding yang biasa menjadi tempat nyamuk hinggap atau beristirahat. Tujuannya membunuh nyamuk pembawa malaria sekaligus membantu memutus rantai penularan.

Di sisi lain, pemeriksaan darah dilakukan untuk menemukan kasus lebih awal.

"Deteksi dini melalui pemeriksaan darah sangat penting, karena banyak kasus malaria yang tidak langsung menunjukkan gejala berat. Kalau ditemukan lebih cepat, penanganannya juga lebih efektif," ujarnya.

Tidak hanya itu, Pemerintah juga memperluas pencegahan hingga lingkungan pendidikan. Pada 2026, Dinas Kesehatan Riau mengembangkan inovasi dengan melibatkan siswa SD, SMP hingga SMA/SMK di daerah berisiko, terutama Rokan Hilir dan Indragiri Hilir.

Pelajar diarahkan menjadi agen perubahan melalui promosi kesehatan berbasis muatan lokal malaria. Salah satu kegiatan telah dilakukan di SMK Sinaboi. Pelajar diberikan pemahaman mengenai malaria, faktor risiko, cara penularan hingga langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk melindungi diri dan keluarga.

"Inovasi muatan lokal malaria bertujuan meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan dan penanganan malaria. Diharapkan siswa SD, SMP dan SMA/SMK dapat menjadi agen perubahan dalam promosi kesehatan, pencegahan dan pengendalian malaria di kabupaten/kota," ujar Zulkifli.

Dengan pendekatan tersebut, pelajar tidak hanya menjadi penerima informasi. Pengetahuan yang diperoleh di sekolah diharapkan dibawa pulang dan diterapkan bersama keluarga.

Selain itu upaya pengendalian di masyarakat juga dilakukan dengan mendorong gotong royong membersihkan lingkungan.

Di Kecamatan Sinaboi, pemerintah kecamatan bersama puskesmas dan masyarakat mendorong kegiatan tersebut dilakukan secara rutin untuk mengurangi tempat perkembangbiakan nyamuk.

"Kesadaran masyarakat adalah kunci utama. Tanpa peran aktif warga, upaya pengendalian malaria tidak akan berjalan optimal," kata Zulkifli.

Pengendalian malaria di Rokan Hilir sendiri telah dilakukan melalui sejumlah pendekatan dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2024, Dinas Kesehatan Rokan Hilir bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Riau dengan pendampingan Dinas Kesehatan Provinsi Riau menjalankan kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat berbasis komunitas.

Kegiatannya mencakup skrining dan diagnosis malaria, pemantauan pengobatan pasien rawat jalan maupun rawat inap, promosi kesehatan hingga studi kasus malaria pada anak, ibu hamil, orang dewasa dan lanjut usia.

Pada 2025, inovasi dilanjutkan melalui pemanfaatan ikan pemakan jentik dengan melibatkan Fakultas Perikanan Universitas Riau, Dinas Kesehatan Riau, Dinas Kesehatan Rohil serta Dinas Perikanan Rokan Hilir.

Kini, pada 2026, peningkatan kemampuan tenaga kesehatan kembali diperkuat melalui pelatihan tata laksana malaria bagi dokter dan penanggung jawab program di Rokan Hilir.

Berbagai intervensi tersebut menunjukkan penanganan malaria dilakukan dari dua sisi sekaligus. Pemerintah berupaya memastikan kasus dapat ditemukan dan ditangani dengan benar, sementara masyarakat didorong mengurangi faktor risiko dan melindungi diri dari gigitan nyamuk.

Dengan kasus yang masih menembus 2.600 lebih hingga akhir Agustus 2026, keberhasilan menekan malaria di Rokan Hilir akan menjadi salah satu faktor penting dalam menurunkan angka malaria Provinsi Riau secara keseluruhan. (Tribunpekanbaru.com/Syaiful Misgiono)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.