Doa-Doa Ketika Hujan Belum Turun dan Bumi Mengalami Kekeringan Teks Arab, Latin dan Artinya
Nanik Ratnawati August 30, 2026 04:30 PM

Liputan6.com, Jakarta - Doa ketika hujan belum turun dan bumi mengalami kekeringan merupakan bagian dari ikhtiar spiritual yang sangat dianjurkan dalam Islam. Kemarau panjang yang melanda berbagai wilayah telah memicu berbagai krisis multidimensi; krisis air bersih, gagal panen, hingga kebakaran hutan dan lahan yang merusak ekosistem.

Di tengah kondisi yang memprihatinkan ini, umat Islam diajarkan untuk tidak hanya berusaha secara fisik, tetapi juga memohon pertolongan kepada Allah SWT. Hujan adalah rahmat yang sangat dibutuhkan, dan ketika rahmat itu tertahan, sudah sepatutnya seorang hamba kembali kepada Sang Pemberi Rahmat, sebagaimana disebutkan dalam Surat Qaf ayat 9: "Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun dan biji-biji tanaman yang diketam."

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdulmuhsin Al-Badr dalam Doa-Doa Pilihan Terbaik menjelaskan bahwa doa Istisqa, doa meminta hujan, adalah amalan yang diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW dan memiliki kedudukan yang mulia dalam syariat.

Dalam Buku Himpunan Doa-Doa Penting terbitan Kementerian Agama RI dan Ebook Koleksi Doa dan Zikir karya Ustaz Salehuddin bin Abu Samah, doa-doa Istisqa juga mendapat perhatian khusus.

Kumpulan Doa Meminta Hujan Saat Kekeringan

1. Doa Memohon Hujan yang Bermanfaat dan Tidak Membahayakan

Doa ini adalah doa utama yang sering dibaca dalam salat Istisqa dan diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud serta Imam Ahmad.

Tulisan Arab: اَللَّهُمَّ أَسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا مَرِيْئًا مَرِيْعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلاً غَيْرَ آجِلٍ

Latin: Allāhumma asqinā ghaithan mughīthan marī'an marī'an, nāfi'an ghayra dhārr(in), 'ājilan ghayra ājil(in).

Artinya: "Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan deras yang penuh ketentraman, menyuburkan, bermanfaat, dan tidak membahayakan, yang segera datang dan tidak terlambat."

Doa ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam Ahmad dalam kitab hadits mereka. Doa ini mengandung permohonan hujan dengan sifat-sifat yang ideal: ghaitsan mughītsan (hujan yang menolong dan menyelamatkan), marī'an (menyegarkan dan menyehatkan), nāfi'an (bermanfaat), dan 'ājilan (segera turun). Ini mengajarkan bahwa seorang muslim tidak hanya meminta hujan, tetapi juga memohon agar hujan tersebut membawa kebaikan dan terhindar dari mudarat.

2. Doa Memohon Hujan untuk Seluruh Makhluk

Doa ini dipanjatkan agar Allah menurunkan hujan bagi seluruh makhluk-Nya, manusia, hewan ternak, dan bumi yang kering.

Tulisan Arab: اَللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ، وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ، وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ

Latin: Allāhumma-sqi 'ibādaka wa bahā'imaka, wansyur rahmataka, wa ahyi baladakal mayyit(a).

Artinya: "Ya Allah, siramilah hamba-hamba-Mu, binatang-binatang ternak-Mu, tebarkanlah rahmat-Mu, dan hidupkanlah kembali bumi-Mu yang mati."

Doa ini diriwayatkan oleh Imam Malik dan tercantum dalam Shahih Abu Daud. Doa ini mengajarkan bahwa kekeringan tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga pada hewan dan seluruh ekosistem. Dengan memohon hujan untuk seluruh makhluk, seorang muslim menunjukkan kepedulian yang luas dan pengakuan bahwa rahmat Allah mencakup segala sesuatu.

Doa 3: Doa Memohon Hujan yang Melimpah, Merata, dan Abadi

Doa ini adalah doa yang sangat komprehensif, memohon hujan yang lebat, merata, dan berkelanjutan. Doa ini diriwayatkan oleh Imam As-Syafi'i, Abu Dawud, dan perawi lainnya.

Tulisan Arab: اَللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا هَنِيئًا مَرِيعًا غَدَقًا مُجَلَّلًا عَامًّا طَبَقًا سَحًّا دَائِمًا

Latin: Allāhumma-sqinā ghaithan mughīthan marī'an hanī'an marī'an ghadaqan mujallalan 'āmmā thabaqan saḥḥan dā'imā.

Artinya: "Ya Allah, turunkanlah kepada kami air hujan yang menolong, mudah, menyuburkan, yang lebat, banyak, merata, menyeluruh, dan bermanfaat abadi."

Doa ini dikutip dari kitab Busyral Karim karya Syekh Sa'id bin Muhammad Ba'asyin. Kata ghadaqan berarti lebat dan banyak, mujallalan berarti berlapis-lapis atau bertumpuk-tumpuk, 'āmmā thabaqan berarti merata dan menyeluruh, serta saḥḥan dā'imā berarti terus-menerus dan abadi.

Doa ini mengajarkan untuk memohon hujan yang tidak hanya deras tetapi juga merata dan berkelanjutan, sehingga seluruh makhluk dapat merasakan manfaatnya.

4. Doa Memohon Hujan sebagai Rahmat, Bukan Azab

Doa ini dipanjatkan agar hujan yang turun menjadi rahmat yang membawa kehidupan, bukan azab yang membawa bencana.

Tulisan Arab: اَللَّهُمَّ سُقْيَا رَحْمَةٍ، وَلَا سُقْيَا عَذَابٍ، وَلَا بَلَاءٍ، وَلَا هَدْمٍ، وَلَا غَرَقٍ

Latin: Allāhumma suqyā rahmatin, wa lā suqyā 'adzābin, wa lā balā'in, wa lā hadmin, wa lā gharaq(in).

Artinya: "Ya Allah, jadikanlah hujan ini hujan yang membawa rahmat, bukan hujan yang membawa azab, bukan pula bencana, kehancuran, dan banjir."

Doa ini mengajarkan bahwa hujan yang terlalu deras dapat berubah menjadi bencana. Karena itu, seorang muslim memohon agar hujan yang turun menjadi rahmat yang menghidupkan, bukan azab yang menghancurkan. Doa ini menunjukkan keseimbangan antara harapan dan rasa takut seorang hamba kepada Allah.

5. Doa Kurb sebagai Pembuka Istisqa

Sebelum memanjatkan doa khusus meminta hujan, dianjurkan untuk membaca doa kurb (karb) terlebih dahulu, yaitu doa Rasulullah SAW saat menghadapi kesusahan secara umum sebagaimana riwayat Bukhari dan Muslim.

Tulisan Arab: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

Latin: Lā ilāha illallāhul ‘azhīmul ḥalīmu, lā ilāha illallāhu rabbul ‘arsyil ‘azhīmi, lā ilāha illallāhu rabbus samāwāti wa rabbul arḍi wa rabbul ‘arsyil karīmi.

Artinya: "Tiada Tuhan selain Allah yang agung dan santun. Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Arasy yang megah. Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan langit, bumi, dan Arasy yang mulia."

6. Doa Memohon Pertolongan dengan Rahmat Allah

Tulisan Arab: يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ

Latin: Yā ḥayyu, yā qayyūmu, bi rahmatika astaghītsu.

Artinya: "Wahai Zat yang Maha Hidup dan Maha Tegak, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan."

Doa ini dianjurkan oleh Syekh Sa'id bin Muhammad Ba'asyin dalam kitab Busyral Karim. Doa ini mengandung dua nama Allah yang agung (Al-Hayyu dan Al-Qayyumu) yang menunjukkan bahwa Allah adalah Zat yang Maha Hidup dan Maha Mengurus segala sesuatu. Dengan memohon pertolongan melalui rahmat-Nya, seorang hamba mengakui bahwa pertolongan hanya datang dari Allah semata.

Hikmah Doa Ketika Hujan Belum Turun dan Bumi Mengalami Kekeringan

1. Mengakui Kekuasaan Mutlak Allah atas Alam

Doa Istisqa mengajarkan bahwa hanya Allah-lah yang berkuasa menurunkan hujan dan menghidupkan bumi yang tandus. Kesadaran ini melahirkan ketundukan dan pengakuan bahwa segala urusan alam semesta berada di tangan-Nya. Sebagaimana firman Allah: "Kami turunkan dari langit air yang berkah" (QS. Qaf: 9).

2. Sarana Introspeksi dan Taubat

Kemarau panjang seringkali dipandang sebagai ujian dan peringatan dari Allah. KH Ma'ruf Amin dalam khutbah Istisqa menyatakan: "Kita datang untuk menyesali semua dosa yang telah diperbuat lalu memohon ampun kepada Allah dan berharap agar Allah menghilangkan kekeringan dengan diberkahi turunnya hujan." Kemarau juga menjadi pengingat untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

3. Menumbuhkan Kepedulian Sosial dan Solidaritas

Salat Istisqa yang dilakukan secara berjamaah menjadi momen kebersamaan umat dalam menghadapi musibah. Ini mengajarkan bahwa krisis yang melanda tidak hanya dirasakan secara individu, tetapi merupakan tanggung jawab kolektif yang membutuhkan doa dan kepedulian bersama.

4. Memperkuat Tawakal dan Optimisme

Di tengah krisis, doa Istisqa mengajarkan umat Islam untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Ini adalah bentuk optimisme spiritual—keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu dekat bagi hamba yang bersabar dan berdoa. Istisqa sendiri maknanya adalah memohon hujan kepada Allah ketika membutuhkan.

5. Menghidupkan Sunnah dan Mendapatkan Pahala

Salat dan doa Istisqa adalah sunnah yang dicontohkan Rasulullah SAW. Dengan mengamalkannya, seorang muslim tidak hanya mendapatkan pahala, tetapi juga menghidupkan ajaran Nabi di tengah masyarakat. Rasulullah SAW pernah melakukan Istisqa dan memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan.

 

Pertanyaan Seputar Doa Minta Hujan

1. Apa itu doa Istisqa dan kapan dibaca?

Doa Istisqa adalah doa meminta hujan yang dibaca ketika terjadi kemarau panjang atau kekeringan. Doa ini dapat dibaca secara individu atau dalam salat Istisqa berjamaah. Istisqa sendiri maknanya adalah memohon hujan kepada Allah ketika membutuhkan.

2. Apakah doa meminta hujan harus dibaca dengan jumlah tertentu?

Tidak ada ketentuan baku mengenai jumlah bacaan. Doa-doa di atas cukup dibaca dengan penuh keyakinan dan kekhusyukan. Namun, dalam praktik salat Istisqa, doa "Allāhumma aghitsnā" (Ya Allah, berilah kami hujan) dianjurkan diulang sebanyak tiga kali.

3. Bagaimana cara mengamalkan doa meminta hujan di rumah?

Doa meminta hujan dapat dibaca secara individu di rumah dengan penuh keyakinan. Dianjurkan untuk diawali dengan doa kurab (doa dalam kesusahan), memperbanyak istighfar, dan membaca doa-doa meminta hujan yang telah diajarkan Rasulullah SAW.

4. Apakah doa meminta hujan harus disertai salat Istisqa?

Tidak harus. Ada tiga cara meminta hujan: (1) cara paling minimalis adalah hanya berdoa baik sendirian atau secara berjamaah; (2) cara pertengahan adalah dengan berdoa setelah salat fardhu atau sunnah; (3) cara paling sempurna adalah dengan melaksanakan salat Istisqa.

5. Apa hukum salat Istisqa?

Salat Istisqa hukumnya sunah muakkad (sangat dianjurkan) ketika masyarakat mengalami kekeringan dan membutuhkan turunnya hujan. Pelaksanaan salat ini merupakan bagian dari tuntunan Nabi Muhammad SAW.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.