Iran: Senjata Nuklir Dibutuhkan untuk Menangkal Kegilaan Israel
TRIBUNNEWS.COM - Pernyataan pejabat militer Iran mengenai kebutuhan akan senjata nuklir kembali memunculkan kekhawatiran soal arah program nuklir Teheran.
Di tengah ketegangan yang terus berlangsung dengan Israel, Iran menyebut kemampuan nuklir dapat berfungsi sebagai alat pencegah terhadap ancaman serangan.
Baca juga: Amerika Mulai Ngancam-ngancam Serang Iran Pakai Bom Nuklir
Juru bicara Komando Pusat Khatam al-Anbiya Iran, Ebrahim Zolfaghari, menyampaikan pernyataan tersebut pada Sabtu, 29 Agustus 2026 melalui media sosial.
Ia merespons pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang sebelumnya memperingatkan konsekuensi jika Iran memiliki senjata nuklir.
Menurut Zolfaghari, Iran membutuhkan kemampuan nuklir untuk menghadapi apa yang disebutnya sebagai tindakan "gila" Israel.
"Dia (Perdana Menteri Netanyahu) telah menghancurkan Gaza, Palestina, dan Lebanon, dan sekarang dia mencoba menghancurkan Iran. Oleh karena itu, kita membutuhkan senjata nuklir untuk melawan kegilaannya," kata Zolfaghari.
Pernyataan tersebut menunjukkan bagaimana isu nuklir kembali ditempatkan sebagai bagian dari kalkulasi keamanan Iran.
Teheran melihat kemampuan strategis sebagai instrumen pencegahan, sementara Israel dan Amerika Serikat selama ini menempatkan kemungkinan Iran memperoleh senjata nuklir sebagai salah satu ancaman utama di kawasan.
Persoalan nuklir Iran bukan isu baru dalam hubungan Teheran dengan negara-negara Barat dan Israel.
Selama bertahun-tahun, aktivitas pengayaan uranium Iran menjadi sumber perselisihan karena tingkat pengayaan yang tinggi dapat menimbulkan kekhawatiran mengenai potensi pengembangan kemampuan militer.
Iran sendiri berulang kali membantah bahwa program nuklirnya ditujukan untuk membuat senjata. Teheran menyatakan aktivitas nuklirnya memiliki tujuan sipil, antara lain untuk kebutuhan energi dan penelitian.
Namun, serangkaian perkembangan militer dalam beberapa tahun terakhir membuat isu tersebut semakin sensitif.
Israel sebelumnya menyerang sejumlah fasilitas terkait program nuklir Iran pada Mei 2025.
Tingkat kerusakan terhadap kemampuan nuklir Iran akibat serangan tersebut masih menjadi persoalan yang diperdebatkan.
Di sisi lain, pemerintah Israel terus menyatakan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Netanyahu bahkan mengatakan bahwa jatuhnya senjata nuklir ke tangan Iran akan mengancam keberlangsungan Israel.
Perbedaan pandangan tersebut menciptakan dilema keamanan yang semakin kompleks.
Iran menganggap kemampuan strategis diperlukan untuk mencegah serangan, sementara Israel melihat kemungkinan munculnya kemampuan nuklir militer Iran sebagai alasan untuk mempertahankan opsi pencegahan dan serangan.
Washington juga tetap menempatkan isu nuklir Iran sebagai salah satu prioritas kebijakan keamanan di Timur Tengah.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt pada 27 Agustus menegaskan bahwa mencegah Iran memperoleh senjata nuklir merupakan salah satu tujuan utama pemerintahan Presiden Donald Trump.
Menurut Leavitt, Amerika Serikat sebelumnya melancarkan Operasi Epic Fury yang disebut bertujuan menghancurkan kemampuan militer Iran. Washington kemudian mengarahkan tekanan terhadap sektor ekonomi Iran melalui Operasi Economic Outcast.
Rangkaian tekanan tersebut menunjukkan bahwa persoalan nuklir tidak berdiri sendiri. Program nuklir Iran kini terkait erat dengan konflik militer, tekanan ekonomi, serta persaingan strategis antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Pernyataan terbaru pejabat Iran tidak serta-merta membuktikan bahwa Teheran telah memutuskan untuk membuat senjata nuklir.
Namun, secara politik dan strategis, pernyataan tersebut penting karena menunjukkan meningkatnya penggunaan isu nuklir dalam narasi pertahanan Iran.
Jika retorika tersebut diikuti perubahan kebijakan atau peningkatan aktivitas nuklir, tekanan terhadap Iran berpotensi meningkat.
Sebaliknya, serangan baru terhadap fasilitas nuklir Iran juga dapat memperkuat argumen kelompok di Teheran yang menganggap kemampuan nuklir sebagai kebutuhan pertahanan.
Situasi itu membuat program nuklir Iran tetap menjadi salah satu titik paling sensitif dalam keamanan Timur Tengah.
Perkembangan berikutnya akan sangat bergantung pada apakah Iran dan negara-negara yang berseberangan dengannya memilih jalur diplomasi atau kembali menggunakan tekanan militer.