BANGKAPOS.COM--KH Nurul Huda Djazuli menjadi salah satu tokoh yang paling mendapat perhatian dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).
Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, tersebut meraih suara tertinggi dalam pemilihan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Dalam proses penjaringan anggota AHWA pada Minggu (30/8/2026), KH Nurul Huda Djazuli memperoleh 485 suara atau 10,31 persen.
Perolehan tersebut menempatkannya sebagai tokoh dengan dukungan suara terbanyak untuk menjadi bagian dari sembilan anggota AHWA.
Lantas, siapa sebenarnya KH Nurul Huda Djazuli?
KH Nurul Huda Djazuli dikenal sebagai salah satu ulama yang memiliki peran penting dalam lingkungan Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri.
Ia meneruskan perjuangan dan kiprah ayahnya, KH Djazuli Utsman, dalam mengasuh dan mengembangkan pesantren tersebut.
Selain menjadi pengasuh Ponpes Al Falah Ploso, KH Nurul Huda Djazuli juga dipercaya menempati sejumlah posisi penting dalam lingkungan Nahdlatul Ulama.
Ia tercatat sebagai Mustahsyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur serta salah satu Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Mustahsyar merupakan dewan penasihat yang diisi ulama senior untuk memberikan nasihat, pertimbangan, dan arahan kepada kepengurusan NU.
Sementara Rais Syuriah merupakan pimpinan dalam jajaran Syuriah NU yang memiliki peran penting dalam bidang keagamaan dan keulamaan.
KH Nurul Huda Djazuli merupakan putra pasangan KH Djazuli Utsman dan Nyai Hj Rodliyah.
Dari pernikahan tersebut lahir 11 anak, terdiri dari delapan putra dan tiga putri.
KH Nurul Huda Djazuli merupakan anak keempat.
Urutan anak KH Djazuli Utsman dan Nyai Hj Rodliyah adalah:
Dari keluarga tersebut, nama-nama ulama dan tokoh pesantren kemudian terus mewarnai kehidupan keagamaan di Jawa Timur.
KH Nurul Huda Djazuli juga merupakan ayah dari KH Muhammad Abdurrahman Al Kautsar, yang lebih dikenal dengan sapaan Gus Kautsar.
Gus Kautsar juga aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan dan dikenal sebagai salah satu tokoh muda dari lingkungan pesantren.
Keterlibatan generasi penerus tersebut menunjukkan kesinambungan tradisi keilmuan dan pengasuhan pesantren dalam keluarga KH Djazuli Utsman.
Nama KH Nurul Huda Djazuli juga pernah menjadi perhatian ketika bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta.
Momen tersebut terjadi ketika Prabowo mengundang sejumlah tokoh agama, kiai, serta pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam untuk bersilaturahmi di Istana Merdeka pada Kamis (5/3/2026) malam.
Sejumlah tokoh hadir dalam pertemuan tersebut, di antaranya Ketua Presidium ICMI Ilham Akbar Habibie, pendakwah Muhammad Subki Al-Bughury, pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji Sleman Gus Miftah, Ketua Dewan Pembina Majelis Rasulullah Pusat Nabil bin Fuad Al Musawa, serta Ketua Dewan Penasihat ICMI Jimly Asshiddiqie.
Saat Prabowo naik ke panggung, sejumlah pengasuh pesantren menyambutnya.
Di antaranya KH Hasan Abdullah Sahal dari Pondok Modern Darussalam Gontor dan KH Kafabihi Ali Mahrus dari Ponpes Lirboyo Kediri.
Momen menarik terjadi ketika Prabowo menghampiri KH Nurul Huda Djazuli.
Presiden Prabowo tampak membungkuk dan meraih tangan KH Nurul Huda untuk dicium.
KH Nurul Huda kemudian berusaha melakukan hal serupa dengan mencium tangan Prabowo. Namun, Prabowo menarik tangannya.
Momen tersebut memperlihatkan suasana penghormatan antara kepala negara dan tokoh ulama dalam pertemuan tersebut.
Setelah itu, Prabowo menyampaikan sambutannya mengenai pentingnya pertemuan tersebut untuk membahas perkembangan Indonesia dan kondisi dunia.
Kini, KH Nurul Huda Djazuli kembali menjadi sorotan setelah memperoleh dukungan tertinggi dalam penjaringan anggota AHWA Muktamar ke-35 NU.
AHWA memiliki peran penting dalam mekanisme baru pemilihan kepemimpinan PBNU yang disepakati dalam Muktamar ke-35.
Sembilan ulama yang memperoleh dukungan terbanyak akan menjadi anggota AHWA. Mereka nantinya memiliki peran dalam proses penentuan Rais Aam dan kepemimpinan PBNU sesuai mekanisme yang telah ditetapkan dalam Muktamar.
Dengan perolehan 485 suara, KH Nurul Huda Djazuli menjadi tokoh dengan dukungan tertinggi dalam proses tersebut.
Posisi itu sekaligus menegaskan besarnya kepercayaan muktamirin terhadap ulama pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso tersebut.
Perjalanan Muktamar ke-35 NU selanjutnya akan menentukan bagaimana sembilan anggota AHWA menjalankan mandat yang diberikan dan mengambil keputusan terkait kepemimpinan tertinggi di lingkungan PBNU.
Sumber : Tribunjatim.com