Kualitas Udara di Palembang Masih Tidak Sehat, 653 Hotspot Terdeteksi di Sumsel
Odi Aria August 31, 2026 10:27 AM

SRIPOKU.COM, PALEMBANG- Kualitas udara di Sumatera Selatan (Sumsel), khususnya Kota Palembang, masih fluktuatif di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Setelah sebelumnya sempat berada pada kategori sangat tidak sehat, kualitas udara Palembang pada Senin (31/8/2026) pagi kembali berada pada kategori tidak sehat.

Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi perkembangan karhutla dan kondisi cuaca.

"Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumsel yang diperbarui Senin (31/8/2026) pukul 06.00 WIB, kualitas udara Kota Palembang berada pada kategori tidak sehat," kata Sudirman, Senin (31/8/2026).

Ia menjelaskan, konsentrasi PM2.5 di Palembang mencapai 172 dan menjadi parameter dengan indeks tertinggi.

Sementara itu, parameter lainnya yakni PM10 berada di angka 115, SO2 15, CO 23, O3 13 dan NO2 31.

Selain Palembang, sejumlah daerah di Sumsel juga terpantau memiliki kualitas udara dalam kategori tidak sehat.

Di antaranya Ogan Ilir dengan PM2.5 sebesar 122, Prabumulih 129, Musi Banyuasin 113, Musi Rawas 146, PALI 136 dan Lahat 118.

Sementara Muara Enim menjadi daerah yang kualitas udaranya masih berada pada kategori sedang, dengan PM2.5 di angka 68.

"Pemantauan terhadap kualitas udara maupun titik panas terus dilakukan sebagai bagian dari upaya mengantisipasi dampak karhutla terhadap masyarakat," ujarnya.

653 Hotspot Terdeteksi di Sumsel

Di tengah kondisi udara yang masih fluktuatif, sebaran titik panas atau hotspot di Sumsel juga masih menjadi perhatian.

Berdasarkan data pemantauan hingga Senin (31/8/2026) pukul 05.00 WIB, terdapat 653 hotspot yang terdeteksi di wilayah Sumsel.

Hotspot tersebut tersebar di sejumlah kabupaten/kota.

Banyuasin menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 75 titik.

Kemudian Muara Enim 45 titik, Musi Banyuasin 37 titik, OKI 36 titik, OKU 35 titik, PALI 28 titik, Musi Rawas Utara 15 titik, Lahat 11 titik, Ogan Ilir 11 titik dan Musi Rawas 9 titik.

Selanjutnya Empat Lawang, OKU Selatan dan OKU Timur masing-masing terdeteksi 4 titik hotspot.

"Dari total 653 hotspot, sebanyak 453 titik berada pada wilayah mineral dan 200 titik berada pada wilayah gambut, berdasarkan klasifikasi pada peta sebaran hotspot," jelas Sudirman.

Jumlah hotspot tersebut mengalami perubahan dibandingkan hasil pemantauan sebelumnya.

Meski demikian, keberadaan ratusan titik panas tetap menjadi perhatian karena dapat menjadi indikasi awal adanya kebakaran hutan dan lahan.

Sudirman mengatakan, pemantauan dan penanganan karhutla terus dilakukan oleh tim di lapangan.

Upaya tersebut dilakukan melalui patroli dan pemadaman dini di sejumlah wilayah yang dinilai rawan karhutla.

Penanganan melibatkan pemerintah daerah, masyarakat melalui Pokmas dan Desa Peduli Api, TNI, tim patroli Manggala Agni, serta perusahaan perkebunan dan kehutanan.

Selain patroli darat, operasi patroli udara dan water bombing juga dilakukan di sejumlah wilayah Sumsel untuk mendukung upaya pemadaman karhutla.

Pemantauan kualitas udara dan hotspot pun terus dilakukan untuk mengantisipasi meluasnya dampak karhutla terhadap masyarakat Sumsel.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.