Sekolah Kembali Dibuka Pascagempa di Ende, Pemulihan Trauma Anak Jadi Prioritas
Hilarius Ninu August 31, 2026 02:42 PM

 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo

TRIBUNFLORES.COM, ENDE – Aktivitas belajar mengajar di sejumlah sekolah di Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur, mulai kembali berjalan setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores 17 hari lalu.

Namun, pada pekan pertama sekolah pascagempa, kegiatan belajar mengajar (KBM) belum sepenuhnya kembali seperti biasa.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende mengarahkan sekolah untuk memprioritaskan pemulihan trauma atau trauma healing bagi anak-anak, sekaligus memberikan edukasi mengenai mitigasi dan keselamatan menghadapi gempa susulan.

Kebijakan tersebut berlaku bagi satuan pendidikan mulai dari PAUD/TK, SD hingga SMP di Kabupaten Ende.

Baca juga: Hari Pertama Sekolah, Siswa dan Orangtua di SMPN 1 Talibura Sikka Bangun Tenda Darurat

 

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende, Venantius Minggu, mengatakan pihaknya telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh sekolah agar kegiatan pada minggu pertama pascagempa tidak difokuskan pada pembelajaran akademik seperti biasanya.

"Kita sudah keluarkan penegasan berupa surat edaran ke sekolah-sekolah bahwa dalam minggu ini KBM tidak berjalan, hanya fokus ke pemulihan trauma anak-anak," ujar Venantius Minggu saat diwawancarai TribunFlores.com, Senin (31/8/2026) pagi.

Untuk jenjang PAUD dan TK, kegiatan trauma healing berlangsung kurang lebih satu jam, mulai pukul 07.30 hingga 08.30 WITA.

Sementara itu, bagi siswa SD dan SMP, kegiatan berlangsung mulai pukul 07.15 hingga 11.00 WITA. 

Selain trauma healing, para siswa SD dan SMP juga diberikan kegiatan literasi.

Kegiatan tersebut tidak harus dilakukan di dalam ruang kelas. 

Sekolah diminta memilih lokasi yang dianggap paling aman di sekitar lingkungan sekolah, terutama mengingat gempa susulan masih terjadi.

"Kegiatan KBM akan normal itu di tanggal 7 September, sudah berlaku normal di Kabupaten Ende," tegas Venantius.

Menurutnya, keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kondisi psikologis anak sekaligus aspek keselamatan mereka setelah gempa.

Di sisi lain, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende juga terus melakukan pendataan terhadap kerusakan fasilitas pendidikan akibat gempa.

Berdasarkan pendataan yang telah dilakukan, sebanyak 227 sekolah mengalami kerusakan, mulai dari rusak ringan hingga rusak berat. 

Data tersebut telah dilaporkan kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdas) pada 20 Agustus 2026 lalu.

Meski demikian, proses pendataan masih terus dilakukan untuk memastikan kondisi setiap sekolah secara lebih detail.

Pemerintah daerah berharap sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan dapat memperoleh bantuan, baik melalui penanganan pada masa tanggap darurat, tahap pascabencana, maupun program revitalisasi pada tahun anggaran 2027.

"Yang lain itu rusak ringan dan sedang dan masih butuh pendataan lagi untuk memastikan apakah benar rusak ringan, berat atau sedang. Kita sementara dilakukan tim, dan jumlah kerusakan sekolah di Ende akibat gempa kemungkinan akan bertambah," jelas Venantius.

Dari total sekolah yang mengalami kerusakan tersebut, 15 sekolah tercatat mengalami rusak berat. 

Rinciannya terdiri dari satu gedung PAUD serta 14 gedung SD dan SMP.

Adapun total satuan pendidikan di Kabupaten Ende saat ini terdiri dari 267 unit PAUD/TK, 333 unit SD dan 92 unit SMP.

Untuk jenjang SMP, salah satu sekolah yang mengalami kerusakan berat adalah SMP Swasta Rewarangga, yang berada di Kelurahan Rewarangga, Kecamatan Ende Timur.

Sementara pada jenjang SD, sejumlah sekolah yang mengalami kerusakan berat di antaranya SDK Anaranda, SDK Puubeto, SDK Kobandaru, SD Inpres Nangapanda 1, dan SDK Maukaro.

Kondisi kerusakan tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena aktivitas pendidikan harus tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan siswa dan tenaga pendidik.

Venantius juga mengimbau para guru dan siswa untuk tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat gempa susulan masih terjadi dengan magnitudo yang berubah-ubah.

Gempa susulan tersebut, menurutnya, tidak hanya berpotensi mengancam keselamatan, tetapi juga dapat kembali memunculkan rasa takut dan trauma pada anak-anak.

Meski demikian, pihaknya tidak ingin kondisi tersebut membuat anak-anak kehilangan hak dan kesempatan untuk belajar.

Karena itu, bagi sekolah yang bangunannya masih memungkinkan digunakan, terutama yang mengalami kerusakan ringan, pembelajaran dapat dilakukan dengan pengaturan ruang kelas yang memperhatikan jalur evakuasi.

"Kita tidak mau anak-anak kehilangan kesempatan belajar mereka. Maka di sekolah, di ruang kelas yang memang rusak ringan boleh masuk, tapi penataan ruangan terbuka di tengah. Semua meja kursi dipinggirkan di tempat kelas supaya saat terjadi gempa mereka mudah mengevakuasi diri," jelasnya.

Selain ruang kelas yang dinilai aman, halaman sekolah maupun area terbuka lain di lingkungan sekolah juga dapat dimanfaatkan sebagai lokasi pembelajaran.

Menurut Venantius, sejumlah sekolah di Kabupaten Ende bahkan sudah mulai menerapkan pembelajaran di dalam kelas, khususnya bagi sekolah yang tidak mengalami kerusakan atau hanya mengalami kerusakan ringan.

Dengan pola tersebut, kegiatan pendidikan di Kabupaten Ende diharapkan tetap berjalan secara bertahap, sembari memastikan kondisi psikologis siswa dan keselamatan seluruh warga sekolah menjadi prioritas utama pascagempa. (Bet)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.