Siapa Waled NU, Kalahkan Miftachul Akhyar dan Said Aqil di Voting Tim AHWA
Lia Harahap August 31, 2026 03:30 PM

Liputan6.com, Jakarta - Sistem pemilihan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Muktamar ke-35 NU berbeda dari sebelumnya. Sidang komisi memutuskan pemilihan Ketum PBNU dan Rasi Aam menggunakan mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang mengedepankan musyarakat mufakat.

Sistem tersebut dimulai dengan membentuk tim AHWA. Tim ituberanggotakan 9 para kiai sepuh hasil voting dari nama-nama usulan muktamirin. Total ada 34 nama kiai yang terjaring dan kemudian dilakukan voting sehingga terjaring sembilan nama.

Kesembilan nama kiai sepuh dengan hasil voting tertinggi yakni:

1. KH Nurul Huda Djazuli (Ploso) – 485 suara (10,31 persen)

2. TGK KH Nuruzzahri Yahya (Waled Nu) – 477 suara (10,14 persen)

3. AG Dr. KH. Baharuddin HS, MA – 392 suara (8,34 persen)

4. KH Miftachul Akhyar – 350 suara (7,44 persen)

5. KH Afifuddin Muhajir – 339 suara (7,21 persen)

6. KH Anwar Iskandar – 326 suara (6,93 persen)

7. KH Anwar Manshur (Lirboyo) – 303 suara (6,44 persen)

8. Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj – 273 suara (5,80 persen)

9. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA – 268 suara (5,70 persen)

Di antara sembilan nama kiai yang masuk ke dalam tim AHWA, sosok TGK KH Nuruzzahri Yahya (Waled Nu) cukup mencuri perhatian. Perolehan suaranya lebih tinggi dari Prof. Dr. KH. Said Aqil di Voting Tim AHWASiroj, KH Miftachul Akhyar dan Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj.

Waled Nu mendapat 477 suara. Sementara KH Miftachul Akhyar 350 suara, KH Lirboyo 303 suara dan KH. Said Aqil 273 suara.

 

Lantas siapakah sosok Teungku Nuruzzahri Yahya?

Mengutip nu.or.id, Teungku Nuruzzahri Yahya, yang akrab disapa Waled NU berasal dari Mideun Jok, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh. Dia lahir pada 1951 dari pasangan Tgk H Yahya dan Sa’diyah. Tetapi di usianya yang masih sangat kecil, Waled NU harus kehilangan ibu yang sangat dia cintai. Namun dia tetap tegar dan semangat belajarnya tak pernah surut. Apalagi, ayahnya selalu memberikan dukungan penuh.

Nuruzzahri tumbuh di tengah keluarga yang disiplin. Namun, kedua orangtuanya tetap memberikan ruang untuk anak-anaknya menentukan pilihan hidup setelah menguasai dasar-dasar ilmu agama di lingkungan keluarga.

Nuruzzahri mengenyam pendidikan keagamaan Nuruzzahri di Ma’had Ulum Diniyah Islamiyah (MUDI) yang saat itu dipimpin Tgk H Abdul Aziz Shaleh. Pendidikan tersebut ditempuh setelah sebelumnya mendapat pembelajaran agama dari keluarga. Di saat bersamaan, dia juga bersekolah di Sekolah Rakyat 3 Samalanga.

Pada 1974, Nuruzzahri pindah ke Jombang, Jawa Timur, untuk menempuh pendidikan di Fakultas Syariah Institut Keislaman Hasyim Asy’ari (sekarang Universitas Hasyim Asy’ari). Namun, pendidikan tersebut tidak diselesaikannya.

Dia memilih memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Darul Hadits, Jombang, yang kala itu diasuh Dr Abdullah bin Faqih. Jejak pengabdiannya di dunia pendidikan diwujudkan dengan mendirikan Dayah Ummul Ayman pada 1990, sebuah lembaga pendidikan keagamaan yang menaungi anak-anak yatim. Nama Ummul Ayman diambil dari salah seorang pengasuh Nabi Muhammad SAW setelah wafatnya sang ibu, Aminah.

Nuruzzahri juga aktif di organisasi yang membidangi sosial-keagamaan. Dia pernah menjabat Rais Syuriyah PWNU Aceh pada 1970, Ketua Tanfidziyah Wilayah NAD pada 1995, Ketua II Himpunan Ulama Dayah Aceh pada 1999, serta anggota Dewan Paripurna Ulama NAD pada 2006.

Tak hanya itu, Waled NU juga dikenal memiliki perhatian terhadap kesiapan kaum santri untuk berkiprah di ruang publik. Menurut pandangannya, kapasitas santri perlu dipersiapkan secara optimal agar aspirasi pesantren tidak terpinggirkan oleh kekuatan politik dari luar.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.