Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatatkan laba bersih konsolidasian sebesar Rp31,2 triliun hingga akhir Triwulan II 2026. Angka tersebut tumbuh 17,5 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Pertumbuhan laba berlangsung seiring ekspansi bisnis dan penguatan fundamental perseroan. Total aset BRI secara konsolidasian mencapai Rp2.352 triliun atau meningkat 11,7 persen yoy.
Salah satu penopang pertumbuhan tersebut berasal dari kredit dan pembiayaan yang naik 16,2 persen menjadi Rp1.646 triliun. Dari jumlah itu, sekitar 75,1 persen dialirkan kepada segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Kinerja tersebut disampaikan Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam pemaparan kinerja di Kantor Pusat BRI, Jakarta, Senin (31/8/2026). Hery didampingi Wakil Direktur Utama BRI Viviana Dyah Ayu R.K, Direktur Network & Retail Funding BRI Aquarius Rudianto, Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi, serta Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti.
UMKM Tetap jadi Bisnis Inti BRI
Hery menilai capaian BRI tidak terlepas dari kondisi perekonomian Indonesia yang tetap resilien. Pertumbuhan ekonomi nasional pada Triwulan II 2026 berada di kisaran 5,30 persen, sementara inflasi tercatat 3,34 persen.
Aktivitas bisnis UMKM juga menunjukkan penguatan. Indeks Bisnis UMKM meningkat dari 102,5 pada akhir 2025 menjadi 104,7 pada Triwulan I 2026.
Posisi indeks yang berada di atas 100 menunjukkan pelaku UMKM secara umum masih berada dalam fase ekspansi serta tetap optimistis terhadap aktivitas usahanya.
“Kondisi tersebut memberikan optimisme bagi BRI karena UMKM merupakan core business sekaligus bagian penting dari fundamental perekonomian nasional. Di tengah transformasi yang terus kami jalankan, satu hal yang tidak berubah adalah komitmen BRI untuk terus tumbuh bersama UMKM dan ekonomi kerakyatan Indonesia,” ujar Hery.
Kondisi industri perbankan nasional juga dinilai tetap solid. Kredit perbankan hingga Triwulan II 2026 tumbuh 12,7 persen yoy, sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 10,2 persen dan dana murah atau CASA naik 11 persen.
Dari sisi kualitas aset, Loan at Risk (LaR) industri turun menjadi 8,5 persen. Adapun Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di level 88,3 persen dan Return on Asset (ROA) terjaga pada 2,5 persen.

BRI juga melanjutkan transformasi melalui BRIVolution Reignite untuk menjaga momentum pertumbuhan.
Transformasi tersebut dijalankan melalui dua agenda utama, yakni memperkuat funding franchise sekaligus melakukan revamp terhadap bisnis inti dan membangun new core sebagai sumber pertumbuhan baru.
Di sisi pendanaan, BRI berupaya memperluas basis dana murah melalui pendekatan berbasis ekosistem.
Kapabilitas kanal digital juga terus dimaksimalkan, mulai dari akuisisi merchant, transaksi BRImo, QRIS hingga BRILink Agen. Strategi tersebut dilengkapi dengan penguatan klaster bisnis, integrasi value chain, serta penetrasi One BRI Solution.
BRI pada saat bersamaan tetap memperkuat bisnis mikro dengan menyempurnakan proses bisnis, meningkatkan kapabilitas tenaga pemasar atau mantri, serta menerapkan manajemen risiko secara lebih granular.
Perseroan juga mengembangkan sumber pertumbuhan baru melalui akuisisi value chain dan ekosistem, penyempurnaan product value proposition dan targeting untuk memperoleh nasabah berkualitas, serta perluasan layanan bullion bank.
“Transformasi yang kami jalankan bukan semata untuk mengejar pertumbuhan yang tinggi Fokus kami adalah memastikan BRI memiliki mesin pertumbuhan yang semakin terdiversifikasi, sehat, berkualitas, dan berkelanjutan. Berbagai agenda tersebut telah kami eksekusi dan mulai memberikan dampak positif terhadap fundamental maupun kinerja keuangan BRI,” ujar Hery.
Implementasi transformasi mulai tercermin pada sejumlah indikator keuangan. DPK BRI mencapai Rp1.581 triliun atau tumbuh 6,7 persen yoy.
Net interest income meningkat 9,9 persen yoy dari Rp73,3 triliun menjadi Rp80,5 triliun. Sementara Pre-Provision Operating Profit (PPOP) tumbuh 12,8 persen menjadi Rp65,7 triliun.
“Capaian tersebut menunjukkan bahwa transformasi mulai kami konversikan menjadi kinerja. Bagi kami, yang terpenting bukan hanya seberapa cepat BRI bertumbuh, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut dihasilkan dari fundamental yang semakin sehat dan pada saat bersamaan memberikan manfaat yang semakin luas bagi perekonomian,” ungkap Hery.
Penguatan profitabilitas turut diikuti perbaikan sejumlah indikator fundamental.
Cost of Fund (CoF) BRI secara bank only turun dari 3 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 2,4 persen pada periode yang sama 2026.
Efisiensi operasional juga membaik. Cost to Income Ratio (CIR) turun dari 41,9 persen menjadi 39,2 persen.
Dari sisi kualitas aset, rasio Non-Performing Loan (NPL) membaik dari 3 persen menjadi 2,9 persen. Sementara Cost of Credit (CoC) turun dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen.
Penguatan tersebut ikut menopang kemampuan perseroan menghasilkan imbal hasil. ROA BRI berada di kisaran 2,7 persen, sedangkan Return on Equity (ROE) meningkat dari 16,6 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 18,8 persen pada Triwulan II 2026.
“Berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan yang kami capai semakin berkualitas. Funding semakin efisien, efisiensi operasional membaik, kualitas aset semakin sehat, dan kemampuan BRI dalam menghasilkan return juga semakin kuat,” lanjut Hery.
Kredit UMKM Capai Rp1.235,4 Triliun
Meski memperluas sumber pertumbuhan bisnis, BRI tetap menempatkan UMKM sebagai core business.
Hingga akhir Triwulan II 2026, kredit kepada segmen UMKM mencapai Rp1.235,4 triliun atau tumbuh 8,6 persen yoy.
Dengan capaian itu, sekitar 75,1 persen dari seluruh portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group tersalurkan kepada UMKM.
Diversifikasi dilakukan melalui penguatan segmen consumer, small-medium-commercial, corporate, hingga pengembangan new core. Namun, UMKM tetap ditempatkan sebagai fondasi bisnis perseroan.
“BRI tetap konsisten menjadikan UMKM sebagai core business. Kami percaya pertumbuhan BRI harus berjalan beriringan dengan pertumbuhan pelaku usaha dan aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, ekspansi bisnis yang kami lakukan akan tetap berpijak pada upaya memperluas akses pembiayaan dan memperkuat kapasitas UMKM Indonesia,” kata Hery.
Dukungan BRI terhadap ekonomi kerakyatan tidak berhenti pada penyaluran pembiayaan. Perseroan menjalankan skema pemberdayaan UMKM secara end-to-end, mulai dari tingkat desa, komunitas usaha hingga pelaku usaha individual.
Hingga Juni 2026, program Desa BRILiaN telah menjangkau lebih dari 5.700 desa binaan.
Program Klasterku Hidupku juga sudah mencakup lebih dari 44 ribu klaster usaha. Sementara platform digital LinkUMKM menjangkau sekitar 17,3 juta pelaku UMKM.
Pendampingan melalui Rumah BUMN telah melibatkan sekitar 596 ribu pelaku UMKM hingga Juni 2026.
Ekosistem tersebut berjalan beriringan dengan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Sepanjang Januari-Juni 2026, BRI telah menyalurkan KUR senilai Rp103,8 triliun kepada lebih dari 2 juta debitur.
Secara kumulatif sejak 2015 hingga Juni 2026, penyaluran KUR BRI mencapai Rp1.539 triliun kepada 48,4 juta nasabah.
Hery menilai pendekatan tersebut menunjukkan bahwa BRI tidak hanya menjalankan fungsi sebagai financial intermediary, tetapi juga menjadi enabler pertumbuhan ekonomi kerakyatan.
“Bagi BRI, pembiayaan dan pemberdayaan merupakan satu kesatuan. Kami ingin menciptakan siklus pertumbuhan yang berkelanjutan: UMKM memperoleh akses keuangan, mendapatkan pemberdayaan dan pendampingan, meningkatkan kapasitas usahanya, kemudian naik kelas dan semakin terintegrasi ke dalam ekosistem ekonomi yang lebih besar,” ujar Hery.
Menurut Hery, ukuran keberhasilan BRI tidak semata-mata dilihat dari pertumbuhan indikator keuangan, tetapi juga dampaknya terhadap pelaku usaha dan perekonomian masyarakat.
“Pada akhirnya, keberhasilan BRI tidak hanya kami ukur dari pertumbuhan aset, kredit, maupun laba. Yang juga penting adalah seberapa besar pertumbuhan tersebut mampu menciptakan nilai, membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk berkembang, dan menggerakkan ekonomi masyarakat. Dengan fundamental yang semakin kuat dan transformasi yang terus berjalan, BRI akan konsisten tumbuh bersama ekonomi kerakyatan Indonesia,” pungkas Hery.