Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Musisi sekaligus pencipta lagu asal Bengkulu, Henderman, mengingatkan para seniman dan pencipta lagu di daerah agar tidak mengabaikan perlindungan terhadap karya yang mereka hasilkan.
Ia mendorong para pencipta lagu segera mencatatkan hak cipta atas karya masing-masing sebagai langkah untuk memberikan perlindungan hukum sekaligus menjaga potensi nilai ekonomi dari karya tersebut.
Menurut Henderman, pencatatan hak cipta penting dilakukan sejak sebuah karya selesai dibuat.
Terlebih di tengah perkembangan teknologi digital yang membuat sebuah lagu dapat dengan mudah disebarluaskan dan digunakan oleh banyak orang.
“Menurut saya, pencatatan hak cipta ini sangat penting karena itu merupakan legalitas bagi pencipta. Nantinya pencipta memiliki hak dan mendapatkan perlindungan sesuai dengan undang-undang,” kata Henderman saat diwawancarai, Senin (31/8/2026).
Henderman menilai masih ada sebagian pelaku seni di daerah yang menganggap pencatatan hak cipta bukan sesuatu yang mendesak.
Padahal, ketika sebuah lagu mulai dikenal dan memiliki nilai ekonomi, potensi persoalan dapat muncul apabila pencipta tidak memiliki bukti dan perlindungan yang memadai atas karyanya.
Ia mengingatkan, karya musik yang telah dipublikasikan berpotensi digunakan atau dijiplak pihak lain tanpa sepengetahuan penciptanya.
Baca juga: Musisi Bengkulu Bisa Catatkan Hak Cipta Lagu dengan PNBP Rp0, Ini Cara dan Syaratnya
“Jangan sampai kita menganggap ini sepele. Dampaknya bisa besar, termasuk dari sisi ekonomi. Karya kita juga bisa saja dijiplak atau digunakan orang lain,” ujarnya.
Menurut Henderman, perkembangan media sosial dan berbagai platform digital justru membuat perlindungan hak cipta semakin penting.
Lagu yang awalnya hanya dikenal di Bengkulu kini dapat dipublikasikan melalui internet dan menjangkau pendengar di berbagai daerah, bahkan hingga luar negeri.
Henderman mengaku telah menekuni dunia musik dan menciptakan karya sejak era 1980-an.
Selama perjalanan berkarya tersebut, ia telah menghasilkan sejumlah lagu daerah Bengkulu. Setidaknya terdapat lima album lagu daerah yang telah dibuatnya, di samping berbagai karya musik pop.
Ia juga pernah berkolaborasi dengan sejumlah musisi maupun grup musik nasional dalam menghasilkan karya.
Berbekal pengalaman tersebut, Henderman mendorong pencipta lagu di Provinsi Bengkulu untuk memanfaatkan kemudahan yang tersedia dalam proses pencatatan hak cipta.
“Imbauan saya untuk kawan-kawan pencipta lagu di daerah, khususnya Provinsi Bengkulu, segeralah mendaftar. Apalagi sekarang sudah ada kemudahan dan pencatatan bisa dilakukan tanpa biaya,” katanya.
Ia mengatakan proses pencatatan karya saat ini jauh lebih mudah dibandingkan masa lalu. Perkembangan teknologi digital membuat dokumentasi dan proses administrasi karya dapat dilakukan dengan lebih praktis.
Henderman juga mengajak para musisi daerah memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai sarana memperkenalkan karya lokal.
Menurutnya, perubahan dari era kaset menuju platform digital membuka peluang besar bagi musisi Bengkulu untuk memperluas jangkauan pendengar.
“Kalau dulu zamannya kaset, sekarang sudah digital. Lagu dari daerah bisa kita sebarkan melalui media sosial dan didengarkan oleh masyarakat di berbagai tempat, bahkan bisa mendunia,” tuturnya.
Karena itu, ia berharap pencipta lagu tidak hanya fokus menghasilkan karya, tetapi juga memperhatikan aspek perlindungan dan strategi untuk memperkenalkannya kepada masyarakat.
Selain mendorong pencatatan hak cipta, Henderman berharap lagu-lagu daerah Bengkulu mendapatkan ruang yang lebih luas di tempat-tempat publik.
Menurutnya, lagu karya musisi Bengkulu dapat diperdengarkan di berbagai fasilitas umum, seperti bandara, pusat perbelanjaan, restoran hingga ruang publik lainnya.
Kehadiran lagu daerah di ruang publik dinilai dapat menjadi salah satu cara memperkenalkan sekaligus membangun kebanggaan terhadap identitas budaya Bengkulu.
Henderman mencontohkan daerah lain yang berhasil mempertahankan identitas budaya melalui musik dan kuliner yang diperkenalkan secara konsisten.
“Kalau orang Minang, misalnya, kita sering menemukan restoran dengan nuansa Minang dan lagu-lagu Minang. Bengkulu juga seharusnya bisa membangun hal seperti itu,” ujarnya.
Keberagaman Budaya Bengkulu Jadi Modal
Henderman menilai Bengkulu memiliki modal budaya yang besar untuk dikembangkan menjadi karya musik.
Daerah ini memiliki beragam latar budaya dan bahasa, di antaranya Melayu Bengkulu, Rejang, Lembak, Serawai serta kelompok masyarakat lainnya.
Keberagaman tersebut, menurutnya, dapat menjadi sumber inspirasi yang tidak ada habisnya bagi para seniman.
“Bengkulu ini luar biasa. Kalau di daerah lain mungkin hanya satu bahasa yang dominan, di Bengkulu kita memiliki banyak bahasa dan budaya. Justru itu kekayaan kita,” katanya.
Ia berharap kekayaan budaya tersebut terus digali dan dituangkan dalam berbagai karya seni, khususnya musik.
Menurut Henderman, kreativitas seniman daerah juga membutuhkan dukungan agar karya yang dihasilkan dapat dikemas secara profesional dan memiliki daya saing lebih luas.
“Kita sebenarnya kaya. Tinggal bagaimana seniman itu kreatif dan ada dukungan. Karya-karya tersebut harus dikemas sedemikian rupa agar bisa dikenal lebih luas,” pungkasnya.