Laporan: Bukhari M Ali | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Ketua Harian DPW PAN Aceh, Razami Dek Cut, SE, menerima penghargaan Serambi Awards 2026 dalam Malam Apresiasi “Gebrakan Sang Pemimpin” yang digelar di Gedung AAC Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala (USK), Kopelma Darussalam, Banda Aceh, Sabtu (29/8/2026) malam.
Penghargaan tersebut diterima Dek Cut dari Pemimpin Redaksi Serambi Indonesia, Zainal Arifin M Nur dan Pemimpin Perusahaan Serambi Indonesia, Firdaus Darwis pada malam penganugerahan yang berlangsung di Gedung AAC Dayan Dawood, Darussalam, Banda Aceh, Sabtu (29/8/2026) malam.
Razami Dek Cut menerima penghargaan Serambi Award tersebut dalam kategori “Pengusaha yang Mengabdikan Diri Melalui Jalur Politik”. Selama ini ia dikenal sebagai pengusah sukses, namun belakangan terjun ke politik agar kiprahnya di masyarakat lebih luas kagi.
Inilah sebuah cacatan ringan Razami Dek Cut: Bagi sebagian orang, ketika kehidupan sudah mapan, usaha berkembang, dan keluarga berkecukupan, tidak banyak lagi yang perlu dikejar. Pilihan yang paling masuk akal adalah menikmati hasil kerja keras sambil terus mengembangkan bisnis. Namun, jalan itulah yang justru tidak dipilih Razami Dek Cut.
Terlahir dari keluarga pengusaha dan tumbuh dalam dunia usaha, Razami telah merasakan bagaimana kerja keras dapat membangun kemandirian ekonomi.
Dunia bisnis memberinya banyak pengalaman, mulai dari memimpin organisasi, membangun jaringan, hingga menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
Dari sisi ekonomi, kehidupannya pun telah berada dalam kondisi yang mapan. Tetapi, bagi Razami, kemapanan bukanlah garis akhir kehidupan.
Ia justru memandangnya sebagai titik awal untuk memberi manfaat yang lebih besar kepada masyarakat. Keyakinan itulah yang kemudian membawanya memasuki dunia politik.
Baca juga: Azanuddin Kurnia Terima Serambi Award, Penggagas Pemanfaatan Lumpur Sawah Menjadi Batu-Bata
Banyak orang bertanya, mengapa seorang pengusaha yang sudah mapan justru memilih dunia politik yang penuh tekanan, kritik, dan risiko? Jawabannya sederhana. Menurut Razami, pengusaha memang dapat membantu masyarakat, tetapi hanya dalam ruang yang terbatas.
Seorang pengusaha bisa membuka lapangan kerja, memberdayakan pelaku UMKM, serta menjalankan berbagai kegiatan sosial. Namun ruang geraknya sering kali dibatasi oleh regulasi dan kewenangan. Sedangkan politik memiliki daya jangkau yang jauh lebih luas.
Kebijakan publik yang baik mampu mengubah kehidupan jutaan orang sekaligus. Melalui keputusan politik yang tepat, akses pendidikan dapat diperluas, pelayanan kesehatan ditingkatkan, investasi didorong, lapangan pekerjaan diciptakan, infrastruktur dibangun, hingga kesejahteraan masyarakat dapat meningkat secara lebih merata.
Bagi Razami, perubahan besar hanya bisa diwujudkan melalui kebijakan yang berpihak kepada rakyat. Pandangan itu pula yang membuatnya menerima amanah sebagai Ketua Harian DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Aceh periode 2024-2029.
Amanah tersebut tidak ia pandang sebagai simbol kekuasaan ataupun prestise politik. Sebaliknya, jabatan itu dipahami sebagai tanggung jawab untuk membangun organisasi partai yang kuat, melahirkan kader-kader berkualitas, serta memastikan partai hadir sebagai sarana memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Menurutnya, kualitas demokrasi sangat bergantung pada kualitas partai politik. Dari partailah lahir para calon pemimpin bangsa, mulai dari presiden, gubernur, bupati, wali kota, hingga anggota legislatif.
Karena itu, partai politik harus memiliki sistem kaderisasi yang baik, proses seleksi yang ketat, serta kepemimpinan yang berintegritas agar mampu melahirkan pemimpin yang benar-benar bekerja untuk rakyat.
Baca juga: Nurchalis Terima Serambi Award, Jalan Panjang Seorang Pengabdi
Sebagai putra Aceh, Razami menyimpan harapan besar terhadap masa depan daerah kelahirannya. Ia ingin melihat Aceh tumbuh menjadi daerah yang lebih maju, lebih mandiri, lebih adil, dan lebih sejahtera, tanpa kehilangan identitasnya sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai syariat Islam.
Menurutnya, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Kesempatan kerja perlu terus diperluas, daya beli masyarakat harus diperkuat, pelayanan publik perlu semakin cepat dan mudah, pendidikan dan kesehatan harus semakin berkualitas dan merata.
Selain itu, UMKM harus naik kelas, industri harus berkembang secara berkelanjutan, serta investasi harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Semua itu, menurutnya, membutuhkan keberanian mengambil keputusan dan melahirkan kebijakan publik yang berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Di atas segalanya, Razami ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap politik. Ia menilai politik terlalu sering dipersepsikan sebagai arena perebutan kekuasaan, padahal hakikatnya adalah ruang pengabdian.
Seorang politisi, menurutnya, bukanlah orang yang harus dilayani, melainkan orang yang berkewajiban melayani. Tugasnya mendengar suara rakyat, memperjuangkan aspirasi mereka, dan memastikan setiap kebijakan benar-benar memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Prinsip hidup itu sejalan dengan sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa kemapanan bukanlah tujuan akhir, melainkan amanah yang harus diwujudkan menjadi manfaat bagi sesama.
Barangkali itulah alasan mengapa Razami memilih meninggalkan zona nyaman yang telah ia miliki. Bukan karena kekurangan, bukan pula karena mengejar kedudukan. Ia memilih jalan yang lebih berat karena meyakini bahwa pengabdian yang paling luas dapat dilakukan melalui politik yang bersih, berintegritas, dan benar-benar berpihak kepada rakyat.(*)